Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 7 / Final ]

SEPTEMBER



Di awal bulan ini yang musim kemaraunya semakin tidak jelas saja karena hujan semakin sering terjadi, udara ketika pagi dan malam hari begitu dingin membuatku kembali hanya bisa menghela nafas saja "kenapa tidak selamanya musim kemarau saja ya, meski terus musim kemarau hikari san tetap saja . . . tetap saja akan kembali ke jepang" kataku. Hari ini merupakan hari dimana semua mahasiswa baru di suruh datang ke sekolah untuk acara penyambutan mahasiswa baru, di pagi hari yang sedikit cerah ini aku sedang menaiki bus menuju kampusku menggunakan seragam berwarna putih hitam

Hari ini ramai sekali bus yang aku tumpangi hampir semua menggunakan pakaian yang sama denganku 'sepertinya hari ini akan membosankan' ucapku dalam hati, bus melaju pelan di jalanan yang macet ini mungkin karena hari ini semua mahasiswa baru di kota ini berangkat ke kampus mereka masing-masing jadi jalanan begitu penuh oleh mobil, sepeda motor dan tentu saja bus yang penuh sesak

Sun Dry Season [ Part 6 ]

AGUSTUS



Melewati awal bulan agustus aku terus mengerjakan sisa novelku yang kurang sedikit lagi selesai, berbagai macam perasaan dan pikiran berkecamuk terkadang bahkan rasanya seakan hatiku ini sudah mati rasa saja hingga tidak dapat merasakan apapun, terkadang aku berpikir untuk menyerah saja ketika mengingat kembali bahwa hikari san sudah memiliki tunangan tetapi, tetapi aku masih ingin memberikan novel ini untuknya meski rasa sukaku ini tidak tersampaikan paling tidak lewat tulisan ini hikari san bisa mengerti apa yang sebenarnya di hatiku, selama beberapa minggu ini aku tidak ingin sama sekali mengirimi pesan kepada hikari san meskipun dia mengirimi pesan beberapa kali tetapi hanya aku acuhkan saja pesan itu karena ingin fokus dengan novelku

Hari demi hari terlewati dengan terus menulis novel ini, sendirian di ruang kamar aku ingin sekali menyelesaikannya dan memberikan hasilnya kepada hikari san "jika hikari san seandainya tidak mempunyai tunangan apakah dia mau menerimaku?" kataku pelan sambil menghentikan kegiatan menulis novelku, buku novel di meja tulisku terus saja aku pandangi tetapi tetap saja aku bingung menentukan endingnya seperti apa karena baru kali inilah aku benar-benar merasakan hal seperti ini

Sun Dry Season [ Part 5 ]

JULY





Bulan Juli datang dan aku berharap semoga bulan ini menjadi awal yang baik untukku saat ini dan kedepannya, setelah menerima hasil ujian aku mencari perguruan tinggi dan mulai mengumpulkan brosur dari setiap perguruan tinggi. Ya soal biaya masuk memang tidak terlalu membuatku pusing hanya saja menentukan pilihan yang terbaik untukku itu lah yang membuatku bingung sendiri, rencananya hari ini hikari san akan menemaniku berkeliling kota untuk mencari perguruan tinggi

Kami akan bertemu dulu di halte dekat taman baru kemudian meneruskan perjalanan mencari perguruan tinggi untukku "selamat pagi ivan kun" sapa hikari san ketika aku baru saja turun dari bus "ya selamat pagi juga hikari san" sapaku, "jadi hari ini kita mau kemana?" tanyanya "hmm aku sebenarnya sudah mendapatkan semua brosur dari setiap perguruan tinggi di kota ini hanya saja . . . . itu malah membuatku bingung" kataku sambil menundukkan kepalaku

Sun Dry Season [ Part 4 ]

 JUNI


Hari ini di minggu awal bulan juni pengumuman kelulusan akan di bagikan oleh wali kelas, kami semua murid kelas 12 di sekolah ini atau mungkin seluruh murid kelas 12 di indonesia sedang memikirkan hal yang sama di benak kami saaat ini "lulus atau tidak" itulah yang menjadi beban berat melebihi ujian itu sendiri. Aku menanti pengumuman kelulusan di ruangan kelas tetapi sampai jam 10 pagi belum ada kabar apapun di tambah udara musim kemarau yang semakin memuncak membuat ku semakin resah sendiri, hikari san mengirimi pesan untukku agar aku bersabar dan yakin dengan hasil dari kerja keras selama ujian nasional

Pesan dari hikari san memang membuatku sedikit tenang tetapi tetap saja perasaan takut masih menjalar di seluruh saraf otak dan mengalir melalui pembulu darah menuju seluruh bagian tubuhku membuat keringat bercucuran dari pori-pori kulitku "udaranya panas" kataku dengan nada frustasi, bukan panas lagi mungkin untuk menggambarkan situasi penuh tekanan hari ini. Semua murid laki-laki maupun perempuan di kelasku nampak gelisah juga sama sepertiku menanti hasil pengumuman kelulusan yang akan di bagikan

Sun Dry Season [ Part 3 ]

MEI



Bulan ini udaranya masih sama seperti bulan kemarin kami masih saling bertemu meski sedikit berkurang waktu bertemunya karena aku awal minggu pada bulan ini sedang melakukan ujian akhir sekolah selama 1 minggu di tambah ujian praktek pada minggu berikutnya, jadi karena itu lah kami jadi jarang bertemu. Setelah minggu-minggu penuh tekanan ujian akhirnya selesai kami kembali bertemu di taman itu, hari itu adalah hari jumat yang masih panas udaranya aku sedang duduk di taman itu terus melanjutkan mengerjakan novelku dia datang ke taman ini seperti biasanya membawa beberapa kue dan minuman ringan, ya seperti itulah hari demi hari yang kami lewati bersama di taman ini tanpa mengenal satu sama lainya bukan karena aku tidak berani berkenalan tetapi hanya seperti ini saja sudah membuatku sedikit mengerti indahnya dunia ini

Siang itu di sekolah aku masih tetap berada di kantin hingga sebuah pesan singkat masuk ke smartphoneku, aku menggeser kunci yang terlihat di layar sentuhnya dan menggesernya untuk membuka tampilan window nya, sebuah pesan singkat dari sebuah nomer yang tidak aku miliki di daftar contactku berisi "ivan kamu sedang dimana?", aku menghiraukan pesan itu karena aku tidak mengenal dari sapa pesan itu datang bisa saja hanya pesan yang salah kirim dengan nama yang kebetulan sama. Setelah itu aku menaruh kembali smartphoneku di kantong celana dan berjalan menuju ruangan kelasku selama perjalanan menuju kelas beberapa kali terasa smartphoneku bergetar di celanaku 'sepertinya beberapa pesan masuk biarkan saja lah'

Sun Dry Season [ Part 2 ]


APRIL


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tanpa terasa musim hujan berakhir setelah memasuki bulan april meskipun terkadang hujan masih datang tetapi udara kering dan panas matahari lebih banyak mendominasi bulan ini. Suhu udara di luar ruangan mungkin sudah lebih dari 27 derajat tetapi lebih terasa panas berada di kursi ini di dalam ruangan kelas saat menghadapai ujian nasional, tanpa terasa hari ini sudah mencapai hari terakhir ujian nasional, tekanan mental di tambah udara panas membuat suasana semakin tidak bersahabat tetapi itu lebih baik untukku dari pada melihat hujan di siang hari yang seakan mengejekku

Jarum jam tanpa terasa berputar seperti lepas kendali, waktu yang di berikan selama 120 menit seakan-akan hanya terasa seperti 10 menit saja ketika hal seperti ini terjadi. Seorang guru penjaga ujian bangkit dari duduknya untuk meminta lembar jawaban siswa yang di berikan estafet dari bangku paling belakang, selama guru mengecek lembar jawaban semua siswa di mejanya yang dapat aku lakukan hanya memandangi langit cerah dari jendela yang berada di kiri mejaku berada

‘apa yang aku lakukan setelah ujian ini ya? Ah iya kembali mengerjakan novelku yang sudah lama tidak tersentuh, tetapi setelah ujian ini masih ada ujian sekolah dan ujian praktek. . .’

Sun Dry Season [ Part 1 ]

MARET


Di penghujung musim hujan tahun ini semakin berat terasa, ujian kelulusan SMA tidak terasa sudah berada di depan mata, selama beberapa bulan aku meninggalkan pengerjaan novel pribadiku untuk mempersiapkan ujian ini, hari demi hari terasa begitu cepat berlalu bagaikan daun yang lepas dari ranting pohon terbawa oleh angin ‘Setiap hari yang aku jalani seperti sebuah panggung sandiwara, apakah penyendiri akan selamanya jadi penyendiri ataukah lingkungan yang menentukan ? entahlah akupun tidak mengerti jawaban akan pertanyaan itu’

“tinggal beberapa minggu sebelum ujian kelulusan, jadi bapak harap kalian semakin giat dalam belajar, karena ini adalah ujian penentu masa depan kalian juga”

Suara seorang guru terdengar sedang berbicara panjang lebar soal kelulusan dan lain sebagainya memecahkan lamunanku barusan, kembali aku terus membaca buku novel di mejaku yang tertumpuk oleh lembar kerja siswa di atasnya. Lembar demi lembar aku membacanya hingga berbagai macam suara di sekitarku seakan-akan menghilang di telan bumi