Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 1 ]

MARET


Di penghujung musim hujan tahun ini semakin berat terasa, ujian kelulusan SMA tidak terasa sudah berada di depan mata, selama beberapa bulan aku meninggalkan pengerjaan novel pribadiku untuk mempersiapkan ujian ini, hari demi hari terasa begitu cepat berlalu bagaikan daun yang lepas dari ranting pohon terbawa oleh angin ‘Setiap hari yang aku jalani seperti sebuah panggung sandiwara, apakah penyendiri akan selamanya jadi penyendiri ataukah lingkungan yang menentukan ? entahlah akupun tidak mengerti jawaban akan pertanyaan itu’

“tinggal beberapa minggu sebelum ujian kelulusan, jadi bapak harap kalian semakin giat dalam belajar, karena ini adalah ujian penentu masa depan kalian juga”

Suara seorang guru terdengar sedang berbicara panjang lebar soal kelulusan dan lain sebagainya memecahkan lamunanku barusan, kembali aku terus membaca buku novel di mejaku yang tertumpuk oleh lembar kerja siswa di atasnya. Lembar demi lembar aku membacanya hingga berbagai macam suara di sekitarku seakan-akan menghilang di telan bumi


‘apa seperti ini duniaku?’ aku bertanya dalam hatiku sendiri mencari sebuah jawaban atas pertanyaanku yang sudah jelas faktanya terpampang di depanku ‘hidup di dalam kesunyian di antara gemerlapnya berbagai macam hal di dunia ini, itulah hidupku’


Tidak terasa semua pelajaran telah berakhir dengan cepat terlihat awan gelap menyelimuti langit, hembusan udara dingin menusuk ke dalam tubuh membuat sakit di dalam hati ini semakin terasa. Tetesan air berjatuhan dari langit seakan bumi pun ikut menangis melihat diriku saat ini, aku berdiri dari atas kursiku memasukkan semua barang ke dalam tas dan berjalan menuju pintu keluar kelas, selama perjalanan menuju gerbang sekolah dari kelas nampak banyak siswa saling memanggil nama depan mereka seakan-akan memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka saling berteman

‘masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah? Jgn bercanda, mungkin benar masa paling indah memang masa di sekolah tetapi itu hanyalah ungkapan untuk mereka yang menipu dirinya sendiri dengan kata-kata seperti itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa lingkungan dapat memperkuat diri mereka yang sebenarnya rapuh, seperti itulah sisi yang berbeda dari kata-kata itu menurutku’

Melanjutkan langkah demi langkah melewati lorong kelas di temani gemericik suara hujan yang semakin lebat seakan-akan menghipnotisku membuat diriku merasa seperti sendirian di lorong ini. Meskipun di kenyataan lorong ini penuh dengan murid sekolahan  yang sama-sama menuju ke gerbang sekolah, sesampainya di pintu menuju halaman sekolah nampak banyak murid laki-laki maupun perempuan sedang berteduh menunggu seseorang menjemput mereka menggunakan payung atau ikut teman mereka yang sama-sama membawa payung

Aku berhenti melangkah dan menyandarkan punggung di tembok halaman itu mengambil buku novel kesayanganku, mencoba menekan perasaan sakit melihat mereka saling membantu sesamanya dengan tenggelam ke dalam cerita novel yang ku pegang saat ini, meski terus memaksa seperti itu mataku tetap saja ingin melihat mereka saling berbagi payung menuju gerbang sekolah. Hujan turun semakin lebat hanya menyisakan beberapa orang saja di tempatku berada, setelah terus menerus menekan perasaan aku pun menyerah kali ini, ku tutup buku novel di tanganku dan memasukkanya ke dalam tasku

Melihat sebuah bus berhenti di dekat gerbang sekolah aku dengan nekat berlari menerobos pagar hujan itu menuju gerbang sekolah, hanya tas punggung lah yang melindungi kepalaku dari derasnya hujan hari ini dengan sekuat tenaga aku berlari dan akhirnya dapat memasuki bus tersebut, meski tas punggung dan seragamku basah kuyup karena nekat menerobos derasnya hujan itu lebih baik dari pada melihat mereka yang saling menipu dirinya sendiri dengan berbincang santai menggunakan kata teman

Bus yang penuh sesak melesat dengan cepat menembus hujan menuju halte berikutnya, di dalam sini aku hanya dapat berdiri dan mencoba mengambil buku novelku untuk melihatnya apakah juga basah, ketika melihatnya masih kering hatiku sedikit lega kembali aku membacanya meski hanya sisa beberapa lembar untuk halaman terakhir aku masih ingin terus membacanya dimana saja dan kapan saja

Lembar terakhir novel itu pun terselesaikan ketika mendekati halte di dekat rumahku“sudah selesai rupanya, entah kapan kelanjutanya akan keluar lagi” jawabku dengan sedikit lemas, buku novel itu kembali aku masukkan ke dalam tas aku mencoba melihat ke luar melalu jendela bus masih nampak langit gelap memayungi di tambah hujan yang sudah mulai sedikit mereda. Bus berhenti di halte dekat rumahku membuatku harus turun dari dalam bus ini, setelah aku turun di halte dan tidak ada penumpang yang akan menaikinya bus itu kembali berjalan menjauh, aku melihat ke langit sambil berkata dalam hati

‘sampai kapankah musim hujan ini berlanjut?’

Tidak ada komentar:

Posting Komentar