MARET
Di penghujung musim hujan tahun ini semakin berat
terasa, ujian kelulusan SMA tidak terasa sudah berada di depan mata, selama
beberapa bulan aku meninggalkan pengerjaan novel pribadiku untuk mempersiapkan
ujian ini, hari demi hari terasa begitu cepat berlalu bagaikan daun yang lepas
dari ranting pohon terbawa oleh angin ‘Setiap hari yang aku jalani seperti
sebuah panggung sandiwara, apakah penyendiri akan selamanya jadi penyendiri
ataukah lingkungan yang menentukan ? entahlah akupun tidak mengerti jawaban
akan pertanyaan itu’
“tinggal beberapa minggu sebelum ujian kelulusan,
jadi bapak harap kalian semakin giat dalam belajar, karena ini adalah ujian
penentu masa depan kalian juga”
Suara seorang guru terdengar sedang berbicara
panjang lebar soal kelulusan dan lain sebagainya memecahkan lamunanku barusan,
kembali aku terus membaca buku novel di mejaku yang tertumpuk oleh lembar kerja
siswa di atasnya. Lembar demi lembar aku membacanya hingga berbagai macam suara
di sekitarku seakan-akan menghilang di telan bumi
‘apa seperti ini duniaku?’ aku bertanya dalam hatiku
sendiri mencari sebuah jawaban atas pertanyaanku yang sudah jelas faktanya
terpampang di depanku ‘hidup di dalam kesunyian di antara gemerlapnya berbagai
macam hal di dunia ini, itulah hidupku’
Tidak terasa semua pelajaran telah berakhir dengan
cepat terlihat awan gelap menyelimuti langit, hembusan udara dingin menusuk ke
dalam tubuh membuat sakit di dalam hati ini semakin terasa. Tetesan air
berjatuhan dari langit seakan bumi pun ikut menangis melihat diriku saat ini,
aku berdiri dari atas kursiku memasukkan semua barang ke dalam tas dan berjalan
menuju pintu keluar kelas, selama perjalanan menuju gerbang sekolah dari kelas
nampak banyak siswa saling memanggil nama depan mereka seakan-akan
memperlihatkan kepada dunia bahwa mereka saling berteman
‘masa-masa paling indah adalah masa-masa di sekolah?
Jgn bercanda, mungkin benar masa paling indah memang masa di sekolah tetapi itu
hanyalah ungkapan untuk mereka yang menipu dirinya sendiri dengan kata-kata
seperti itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa lingkungan dapat memperkuat diri
mereka yang sebenarnya rapuh, seperti itulah sisi yang berbeda dari kata-kata
itu menurutku’
Melanjutkan langkah demi langkah melewati lorong
kelas di temani gemericik suara hujan yang semakin lebat seakan-akan
menghipnotisku membuat diriku merasa seperti sendirian di lorong ini. Meskipun
di kenyataan lorong ini penuh dengan murid sekolahan yang sama-sama menuju ke gerbang sekolah,
sesampainya di pintu menuju halaman sekolah nampak banyak murid laki-laki
maupun perempuan sedang berteduh menunggu seseorang menjemput mereka
menggunakan payung atau ikut teman mereka yang sama-sama membawa payung
Aku berhenti melangkah dan menyandarkan punggung di
tembok halaman itu mengambil buku novel kesayanganku, mencoba menekan perasaan
sakit melihat mereka saling membantu sesamanya dengan tenggelam ke dalam cerita
novel yang ku pegang saat ini, meski terus memaksa seperti itu mataku tetap
saja ingin melihat mereka saling berbagi payung menuju gerbang sekolah. Hujan
turun semakin lebat hanya menyisakan beberapa orang saja di tempatku berada,
setelah terus menerus menekan perasaan aku pun menyerah kali ini, ku tutup buku
novel di tanganku dan memasukkanya ke dalam tasku
Melihat sebuah bus berhenti di dekat gerbang sekolah
aku dengan nekat berlari menerobos pagar hujan itu menuju gerbang sekolah,
hanya tas punggung lah yang melindungi kepalaku dari derasnya hujan hari ini
dengan sekuat tenaga aku berlari dan akhirnya dapat memasuki bus tersebut,
meski tas punggung dan seragamku basah kuyup karena nekat menerobos derasnya
hujan itu lebih baik dari pada melihat mereka yang saling menipu dirinya
sendiri dengan berbincang santai menggunakan kata teman
Bus yang penuh sesak melesat dengan cepat menembus
hujan menuju halte berikutnya, di dalam sini aku hanya dapat berdiri dan
mencoba mengambil buku novelku untuk melihatnya apakah juga basah, ketika
melihatnya masih kering hatiku sedikit lega kembali aku membacanya meski hanya
sisa beberapa lembar untuk halaman terakhir aku masih ingin terus membacanya
dimana saja dan kapan saja
Lembar terakhir novel itu pun terselesaikan ketika
mendekati halte di dekat rumahku“sudah selesai rupanya, entah kapan
kelanjutanya akan keluar lagi” jawabku dengan sedikit lemas, buku novel itu
kembali aku masukkan ke dalam tas aku mencoba melihat ke luar melalu jendela
bus masih nampak langit gelap memayungi di tambah hujan yang sudah mulai
sedikit mereda. Bus berhenti di halte dekat rumahku membuatku harus turun dari
dalam bus ini, setelah aku turun di halte dan tidak ada penumpang yang akan
menaikinya bus itu kembali berjalan menjauh, aku melihat ke langit sambil
berkata dalam hati
‘sampai
kapankah musim hujan ini berlanjut?’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar