Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 2 ]


APRIL


Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tanpa terasa musim hujan berakhir setelah memasuki bulan april meskipun terkadang hujan masih datang tetapi udara kering dan panas matahari lebih banyak mendominasi bulan ini. Suhu udara di luar ruangan mungkin sudah lebih dari 27 derajat tetapi lebih terasa panas berada di kursi ini di dalam ruangan kelas saat menghadapai ujian nasional, tanpa terasa hari ini sudah mencapai hari terakhir ujian nasional, tekanan mental di tambah udara panas membuat suasana semakin tidak bersahabat tetapi itu lebih baik untukku dari pada melihat hujan di siang hari yang seakan mengejekku

Jarum jam tanpa terasa berputar seperti lepas kendali, waktu yang di berikan selama 120 menit seakan-akan hanya terasa seperti 10 menit saja ketika hal seperti ini terjadi. Seorang guru penjaga ujian bangkit dari duduknya untuk meminta lembar jawaban siswa yang di berikan estafet dari bangku paling belakang, selama guru mengecek lembar jawaban semua siswa di mejanya yang dapat aku lakukan hanya memandangi langit cerah dari jendela yang berada di kiri mejaku berada

‘apa yang aku lakukan setelah ujian ini ya? Ah iya kembali mengerjakan novelku yang sudah lama tidak tersentuh, tetapi setelah ujian ini masih ada ujian sekolah dan ujian praktek. . .’


Sambil memainkan pensil di tanganku pikiranku melayang kemana-mana sampai seseorang menepuk punggungku hingga membuat pensil di tanganku jatuh di meja, hentakan kecil itu membuat semua lamunanku menghilang dengan cepat dan kembali ke ruangan kelas ini. Di samping mejaku ada seorang laki-laki yang tadi mengagetkanku, dengan masih tersenyum dia bertanya kepadaku “hei ivan sepulang sekolah bagaimana kalau kita bermain game online bersama teman-teman yang lain?”, laki-laki yang menanyaiku bernama andra bisa di bilang secara halus dia adalah teman sekelasku sejak kelas 10 tetapi aku merasa itu hanyalah bayangan semu belaka yang berbentuk nyata

Dengan masih diam aku mencerna setiap kata yang keluar dari mulutnya tadi ‘bermain game online bersama teman-teman yang lain, teman? Bersama-sama?bermain?’ masih dalam diam aku berpikir dengan kata-kata itu sampai suara andra kembali mengagetkanku “hei kenapa diam van ada apa?apa kamu sedang ada janji setelah pulang sekolah?”, “ah iya maaf” aku menjawab secara otomatis tanpa terpikirkan olehku di tambah senyum yang di buat secara terpaksa di wajahku

“baiklah kalau begitu sampai ketemu besok lagi van, ya sudah teman-teman kita berangkat nanti” andra berkata kepada sekumpulan anak laki-laki lain di kelas ini sambil meninggalkan mejaku, sebenarnya bisa saja aku bergabung dengan mereka tetapi aku juga sedikit bingung karena kurang dekatnya aku dengan mereka meski sama-sama dalam satu kelas sekarang. “teman dari temanku” itu adalah jawaban yang paling tepat untuk di berikan kepadaku dan kepada mereka, ketika seseorang seperti andra mengajakku bergabung teman-temanya yang lain akan menerima keberadaanku hanya ketika teman mereka ada disitu yaitu andra sendiri tetapi ketika temanya meninggalkan mereka, aku dan mereka tidak lebih dan tidak kurang hanyalah teman dari temannya saja yang tidak terlalu penting meski ada ataupun tidak

‘ya begini lebih baik’ jawabku dalam hati meyakinkan diriku, aku membersihkan peralatan tulis di meja dan memasukkanya ke dalam tas punggungku, bangkit dari kursi dan keluar menuju kantin sambil menunggu jam pelajaran selesai adalah ide yang terbaik menurutku saat ini. Sesampai di kantin terdapat banyak orang lebih banyak dari perkiraanku sehingga mengurungkan niatku dan memutar badanku berfikir kemana lagi tempat yang paling cocok untuk penyendiri sepertiku, berjalan tanpa tujuan jelas membuatku berputar-putar ke segala arah di sekolah ini sampai tiba aku di depan pintu perpustakaan

“ya mungkin di sini bisa lebih tenang” jawabku sendiri dengan lemas, berjalan memasuki gedung perpustakaan nampak di dalam hanya ada sedikit murid yang sedang membaca koran atau buku. Aku berjalan menuju salah satu rak buku melihat-lihat apakah ada yang menarik perhatianku, beberapa menit aku melihat semua judul di rak itu sampai aku menemukan sebuah buku yang memiliki judul yang sedikit membuatku penasaran

Tanpa banyak berpikir aku menggerakkan tanganku untuk mengambil buku itu tanpa terasa sebuah tangan yang halus juga menyentuh buku itu, sejenak aku terdiam merasakan lembutnya tangan itu tetapi aku kembali sadar dan menarik tanganku. Aku melihat ke samping kananku nampak seorang murid perempuan berparas cantik dengan rambut lurusnya yang di biarkan terurai, beberapa detik aku menatapnya dengan tatapan kagum bagaikan melihat seorang dewi turun dari langit sampai dia berbicara

"maaf" mendengar kata-kata maafnya membuat tersadar dan menggelengkan kepala sambil berkata "tidak apa-apa akulah yang seharusnya meminta maaf", mendengar ucapanku dia tersenyum sehingga semakin menampakkan kecantikannya. Seketika itu juga waktu seakan-akan berhenti bergerak 'apa ini hanya mimpi di siang hari? atau dia benar-benar dewi yang turun dari langit', berbagai pertanyaan berkecamuk di pikiranku hingga terdengar kembali suaranya yang halus di telingaku

"kalau tidak salah kita satu kelas kan dan namamu ivan, benar kan?" mendengar pertanyaan darinya aku bertanya kepada diriku sendiri dalam diam 'apa benar kita satu kelas? kapan? dimana?'. Seperti menyadari pertanyaan dalam pikiranku dia melanjutkan kata-katanya "kita sama-sama di kelas 12 masa kamu tidak ingat teman satu kelas sendiri, namaku diana ingat kan"

"ah iya mana mungkin aku lupa teman sekelasku sendiri" jawabku spontan sambil tersenyum juga kepadanya, "syukurlah" jawabnya membuatku semakin bingung akan topik apa yang akan kami bicarakan. Aku lalu melihat buku di rak itu sambil bertanya kepadanya "apa buku itu mau kamu baca diana?"

"hmm iya sih tapi kalau kamu mau baca duluan juga tidak apa-apa kok" jawabnya sambil tersenyum dan mengambil buku itu dari rak buku, "ah tidak aku hanya tertarik dengan judulnya saja, kamu saja yang pinjam dulu lain kali saja aku membacanya" entah bagaimana mulutku dapat berbicara dengan otomatis kepadanya, "aku sudah membacanya 2 kali, memang buku yang bagus ini kalau begitu terimakasih ya ivan". Kata-kata itu menyudahi perbicangan yang terasa sedikit aneh bagiku ini, aku kemudian berjalan berbalik arah dan akhirnya hanya membaca koran edisi hari ini

Tanpa terasa jam sudah berada di angka 2 waktu terasa sangat cepat berlalu sampai bel tanda pulang sekolah terdengar berbunyi, aku sebenarnya sedikit heran dengan sekolah ini kenapa setelah ujian nasional seperti ini  semua murid kelas 12 di larang pulang ke rumah padahal yang kami lakukan di sekolah hanya berada di kantin atau melakukan berbagai macam hal yang tidak jelas lainnya. Aku bangkit dari kursiku dan berjalan mengembalikan koran di tempatnya semula, di depan pintu perpustakaan nampak banyak murid laki-laki atau perempuan dari kelas 10-12 bergerombol berjalan menuju gerbang sekolah, aku pun juga ikutan melangkahkan kaki ke arah yang sama dengan mereka

Selama perjalanan menuju gerbang bahkan sampai berada di atas bus yang ada di pikiranku sekarang hanyalah mengerjakan novelku yang lama tidak aku sentuh, tanpa terasa bus sudah berhenti di halte 'kenapa bus ini tidak turun saja di depan pagar rumahku ya' gerutuku dalam hati, setelah turun dari bus aku meneruskan perjalanan ke rumah dengan berjalan kaki sambil melihat email atau social media lewat smartphone di tanganku. Panas matahari hari ini seakan-akan berada tepat di atas kepalaku membuat keringat keluar dari seluruh pori-pori tubuhku dengan derasnya, sesampainya di rumah keringat di tubuhku tidak jauh berbeda seperti saat kehujanan beberapa waktu yang lalu

"ketika musim hujan badanku basah karena air hujan, dan sekarang musim kemarau tubuhku juga basah karena keringat, benar-benar tidak bisa di percaya" kataku sambil membuka pintu rumah "aku pulang. . . " tidak terdengar jawaban balasan salam dari dalam rumahku sepertinya seluruh penghuni rumah sedang tidak ada saat ini, aku masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarku di lantai 2. Meletakkan tas dan berganti pakaian untuk membuang rasa panas yang sudah sangat tidak manusiawi untuk siang ini

"hmm mencari tempat yang cocok untuk mencari inspirasi dimana ya nanti sore" sambil berpikir aku mengambil smartphone yang berada di kantong celana sekolahku, aku membuka peta online untuk melihat ada fasilitas apa saja yang menarik di kota, beberapa menit mencari akhirnya aku menemukan sebuah taman yang kelihatanya cocok untuk memulai kembali menulis novel. Setelah menentukan tujuan sore ini aku mempersiapkan berbagai macam keperluan dan memasukkanya ke dalam tas yang biasa aku gunakan untuk pergi berjalan-jalan

"ya seperti ini saja sudah cukup" kataku sambil sedikit tersenyum, ya tentu saja selain buku tulis dan alat tulis masih ada cemilan dan minuman yang aku bawa untuk ke taman itu sore nanti, menjatuhkan badanku di atas tempat tidur dan mendiamkannya beberapa menit membuat mataku secara otomatis menutup, mungkin karena cuaca yang panas membuatku ingin sedikit beristirahat di tambah hari ini baru saja aku menyelesaikan ujian sehingga ingin sekali rasanya bersantai menghilangkan rasa lelah meski hanya sebentar saja

Dalam tidur berbagai macam hal di masa lalu seperti di tayangkan kembali di depanku, di mulai dari hal yang menyenangkan hingga hal paling tidak aku sukai semua terlihat sehingga membuatku bangun dari tidurku secara spontan "kenapa siang hari bermimpi hal yang aneh ya" tanyaku pada diri sendiri sambil melihat smartphone yang berada di tanganku, sekilas nampak jam menunjukkan pukul 15:30 melihat itu aku langsung berdiri dan mengambil topi serta kacamata di meja belajar dan mengenakannya

Setelah kembali mengecek semua yang di butuhkan di dalam tas aku berjalan keluar rumah menuju halte bus, selama berada di bus yang terbayang hanya bagaimana menyusun lanjutan ceritanya di taman itu. Tanpa terasa perjalanan selama 30 menit telah selesai, aku turun di halte yang berada di kawasan perkantoran dengan gedung-gedung tinggi yang seakan-akan menjulang ke langit, aku berjalan sambil mengambil smartphoneku dari saku celana dan melihat petanya untuk menuju ke taman, berjalan melewati banyak gedung perkantoran selama 10 menit akhirnya aku tiba di seberang taman itu.

Melihat ke kiri dan ke kanan aku memastikan tidak ada kendaraan yang lewat dan segera menyebrangi jalan dan memasuki wilayah taman itu, nampak sebuah taman dengan danau atau seperti kolam buatan yang ukuranya tidak terlalu besar berada di tengah-tengah taman di kelilingi oleh pepohonan yang rindang, terdapat jalan yang di bentuk dari batu berwarna gelap mengitari seluruh wilayah taman. Beberapa orang terlihat sedang lari sore di taman ini, berjalan mengitari taman itu aku akhirnya menemukan tempat duduk yang cocok untuk memulai mengerjakan novel

Kursi yang terbuat seperti dari kayu yang panjang di apit oleh beberapa pohon dan menghadap tepat ke arah danau membuat sudut ini menjadi sempurna di tambah matahari yang berada di sebelah barat membuat cahayanya menerangi danau sehingga awan yang berada di langit nampak seperti tenggelam di dalam danau, aku mengeluarkan smartphoneku dan headsetnya yang kupasang di kedua telingaku dan mulai memutar musik

Beberapa orang silih berganti berlari melewati tempatku duduk saat ini, aku terus mendengarkan musik sambil membuka buku yang berisi novelku dan memulai merangkai kata demi kata menjadi sebuah bagian kecil, meski taman ini berada di tengah kota namun tidak banyak orang yang mengetahui keberadaanya, selama 20 menit aku berada di sini hanya terlihat tidak lebih dari 10 orang. Sambil memainkan pulpen dan mencari inspirasi mataku melihat kesana kemari kemudian kembali melihat danau itu sampai seorang perempuan tiba-tiba duduk di bangku yang jaraknya sekitar 3 meter dari tempatku duduk

'seperti bukan orang indonesia dari wajahnya' sekilas kata-kata itu lewat begitu saja di otakku tanpa sadar tatapanku yang awalnya hanya melihat danau atau apapun di sektiar ini mulai fokus pada sosok perempuan yang sekilas mirip seperti orang cina atau jepang dengan rambut lurus berwarna hitam dan kulit putihnya yang lebih putih dari orang indonesia sendiri. Entah berapa lama aku menatapnya dan menghentikan bermain pulpen di tanganku, udara sore yang hangat di tambah matahari yang semakin tenggelam di sebelah barat membuat suasana seperti di sebuah film

Dia duduk di kursi sambil merenggangkan kakinya 'mungkin sedang istirahat setelah lari' pikirku, lama sekali aku menatapnya dan sepertinya dia mulai sadar bahwa ada seseorang yang sedari tadi melihatinya. Dia secara tiba-tiba melihat ke arahku sambil tersenyum melihat hal itu aku seperti tersambar petir dan aku langsung memalingkan wajahku ke arah danau di depanku sambil berbicara dalam hati 'bodoh bodoh bodoh, bagaimana ini, malu banget, gimana sekarang apa yang harus aku lakukan' berbagai macam pertanyaan dan umpatan silih berganti menerjang otakku sampai terdengar suara merdu perempuan seperti sedang menanyaiku "ada apa?"

Mendengar pertanyaan ada apa membuatku melihat ke arah asal suara itu dan mendapati perempuan tadi sekarang berdiri tepat di hadapanku, mungkin warna wajahku sekarang yang melihat dia dari dekat sama seperti kepiting rebus yang berwarna merah padam "aaaa . . . aaaaaa. . . anu . . ." aku sedikit gugup ingin mengeluarkan suaraku, "anu ?" tanyanya lagi sehingga membuatku semakin bingung ingin mengatakan apa hingga mendadak aku menjawab "tidak ada apa-apa" jawabku singkat di iringi dengan memasukkan semua peralatan menulisku dan bukuku ke dalam tas lalu berdiri dari kursi sambil berkata "aku permisi dulu"

"ah iya sampai ketemu lain waktu ya" jawabnya sambil kembali menampakkan senyum indah yang terukir di wajahnya, aku yang melihat itu hanya menjawab "ya" kemudian berjalan berbalik arah meninggalkan perempuan tadi 'gila ini gila kalau lama-lama berada di situ aku melihatnya dari jarak sedekat itu aku mungkin bisa pingsan'. Selama perjalanan di bus bahkan sampai tidur-tiduran di dalam kamar aku hanya diam sambil melihat langit-langit kamar dan masih terbayang jelas wajah perempuan tadi bahkan senyumanya "sudah cantik imut pula" jawabku sambil senyum-senyum tidak jelas

                Keesokan harinya aku di bus masih seperti orang melamun membayangkan wajah perempuan kemarin sore bahkan sampai berada di kelas dan guru sedang menerangkan pelajaran untuk ujian akhir sekolah aku hanya diam dengan tatapan kosong membayangkan wajah perempuan itu 'aku harus bisa bertemu dia nanti sore, tapi . . . . kalau sudah bertemu aku harus bagaimana', masih dalam diam aku bertanya kepada diriku sendiri yang jarang berinteraksi kepada orang di sekitarku

"ivan, hei ivan bisa kamu mendengar saya" terdengar sebuah suara berat yang memanggil namaku membuatku tersadar dari lamunanku "ah iya pak" jawabku sedikit kaget, "lanjutkan penjelasan saya barusan di halaman 56" kata guru tua itu. Pelajaran demi pelajaran terlewati dengan cepat dan akhirnya bel pulang sekolah terdengar berbunyi "ya sampai di sini dulu hari ini kalian bisa pulang sekarang"

Aku menaiki bus yang bukan menuju rumahku tetapi menuju taman yang kemarin sore aku datangi, setelah perjalanan yang sedikit memakan waktu aku akhirnya sudah tiba di taman itu tetapi tidak terlihat seorang pun berada di taman 'aku terlalu berharap sepertinya' aku berkata di dalam pikiranku. Aku menuju ke tempat kami bertemu kemarin dan duduk di kursi yang sama seperti kemarin sore, aku membuka buku novelku dan mulai menulis cerita apa yang terjadi setelah aku berhenti mengerjakan novel ini, tanpa menghiraukan udara panas dan sekitarku aku terus menulis dan menulis 'ya novel ini mungkin bisa di bilang seperti diary saja ketimbang novel yang bergenre remaja atau sejenisnya' kataku kepada diriku sendiri

Terdengar suara yang sepertinya asing di telingaku bukan terlalu asing sih cuman lebih tepatnya seperti hanya beberapa kali aku mendengarnya baru-baru ini "kamu yang kemarin sore kan" sebuah suara perempuan bertanya kepadaku, 'ini bohong kan ini hanya halusinasi ah benar ini hanya halusinasi di siang hari karena aku terlalu fokus mengerjakan novel' pikirku meyakinkan diri sendiri, "konnichiwa" terdengar kembali dia berkata dengan bahasa yang asing di telingaku 'bukan bahasa yang terlalu asing sih, ini bahasa jepang seperti di anime yang biasa aku lihat yang artinya selamat siang' kataku kembali pada diriku sendiri

Sebuah tangan menyentuh pundakku membuatku benar-benar sadar dari lamunanku dan melihat sebuah tangan lagi sedang melambai-lambai di depan wajahku "huwaa" kataku sedikit kaget dan berteriak, "ada apa ada apa?" perempuan yang tadi memanggilku berkata dengan sedikit kaget dan bingung, "ah tidak apa-apa, maaf membuat kamu sedikit kaget" sebuah kata meluncur sendiri dari dalam mulutku tanpa aku perintah, "kamu yang kemarin kan, sedang apa di sini dengan sebuah buku?"katanya bertanya-tanya dengan semangat "ah tidak ada hanya saya aku sedang mengerjakan sebuah novel pribadi saja" jawabku sekenanya

"wow novel pribadi keren sekali boleh aku melihatnya" jawabnya semakin antusias, "maaf ini masih belum selesai bahkan aku tidak tau apa lanjutannya seperti apa" jawabku datar membuat suasana langsung seperti kembali canggung, suasana menjadi menjadi tenang untuk sesaat sampai dia tiba-tiba duduk di sebelahku tanpa permisi aku yang melihatnya langsung sedikit bergeser dari tempat dia duduk, kembali setelah kejadian itu suasana menjadi tenang kembali cahaya matahari yang masih tinggi di atas dan suasana panas membuat danau ini seperti cermin yang menampakkan langit dan awan di atas airnya, untung saja taman ini memiliki banyak pohon karena itu udara panas tidak terlalu terasa bahkan udaranya terasa sedikit sejuk di sini

"kamu sedang apa siang hari seperti ini berada di sini?"tanyaku tanpa berfikir kepada perempuan di sebelahku yang bahkan aku tidak tahu namanya "apa kamu sedang membolos sekolah?" lanjutkku kembali tanpa menyadari ekspresi sedih di wajahnya, aku kembali diam setelah pertanyaanku tidak di jawabnya satu kata pun "maaf aku terlalu lancang menanyakan hal yang seperti itu" kataku meminta maaf lalu dia menjawabnya "tidak apa-apa" ekspresi wajahnya menghadapku dengan tersenyum tetapi ekspresi di balik senyumanya dan bahasa tubuhnya sangatlah jauh berbeda dan aku menyadarinya 'dia sedang sedih karena suatu hal' kataku dalam pikiranku

"kamu sering berada di taman ini ya?" tanyaku kepadanya, "tidak tentu mungkin ketika udara panas dan tidak hujan saja aku ke sini untuk menikmati udaranya" jawabnya dengan nada sedikit lemah, "oh begitu rupanya" jawabku dia kemudian bertanya kepadaku "kalau kamu sendiri bagaimana?". "aku baru beberapa kali ini saja datang ke taman ini" jawabku sambil melihat ke arah danau kembali, "ow mencari inspirasi ya di taman ini?" tanyanya kembali "ya mungkin seperti itu tetapi ini novel yang sedikit berbeda mungkin dari novel lain" jawabku

"berbeda? memang apa bedanya" tanyanya kepadaku, "hmm isi novel yang aku buat ini karena apa yang aku jalani setiap waktu, ya lebih mirip diary dari pada novel hanya saja bahasanya tidak terlalu baku sih" jawabku. Setelah kejadian itu hari demi hari kami saling bertemu ketika aku pulang sekolah sampai sore hari di taman ini dan kami sepertinya semakin akrab, dia adalah mahasiswa yang mengalami pertukaran pelajar antara indonesia dan jepang selama 1 tahun. Kami yang saling bertemu setiap hari di taman ini sebenarnya belum saling mengetahui nama masing-masing bahkan sampai berakhirnya bulan april ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar