APRIL
Hari berganti minggu, minggu berganti
bulan, tanpa terasa musim hujan berakhir setelah memasuki bulan april meskipun
terkadang hujan masih datang tetapi udara kering dan panas matahari lebih
banyak mendominasi bulan ini. Suhu udara di luar ruangan mungkin sudah lebih
dari 27 derajat tetapi lebih terasa panas berada di kursi ini di dalam ruangan
kelas saat menghadapai ujian nasional, tanpa terasa hari ini sudah mencapai
hari terakhir ujian nasional, tekanan mental di tambah udara panas membuat
suasana semakin tidak bersahabat tetapi itu lebih baik untukku dari pada
melihat hujan di siang hari yang seakan mengejekku
Jarum jam tanpa terasa berputar
seperti lepas kendali, waktu yang di berikan selama 120 menit seakan-akan hanya
terasa seperti 10 menit saja ketika hal seperti ini terjadi. Seorang guru
penjaga ujian bangkit dari duduknya untuk meminta lembar jawaban siswa yang di
berikan estafet dari bangku paling belakang, selama guru mengecek lembar
jawaban semua siswa di mejanya yang dapat aku lakukan hanya memandangi langit
cerah dari jendela yang berada di kiri mejaku berada
‘apa yang aku lakukan setelah ujian
ini ya? Ah iya kembali mengerjakan novelku yang sudah lama tidak tersentuh,
tetapi setelah ujian ini masih ada ujian sekolah dan ujian praktek. . .’
Sambil memainkan pensil di tanganku
pikiranku melayang kemana-mana sampai seseorang menepuk punggungku hingga
membuat pensil di tanganku jatuh di meja, hentakan kecil itu membuat semua
lamunanku menghilang dengan cepat dan kembali ke ruangan kelas ini. Di samping
mejaku ada seorang laki-laki yang tadi mengagetkanku, dengan masih tersenyum
dia bertanya kepadaku “hei ivan sepulang sekolah bagaimana kalau kita bermain
game online bersama teman-teman yang lain?”, laki-laki yang menanyaiku bernama
andra bisa di bilang secara halus dia adalah teman sekelasku sejak kelas 10
tetapi aku merasa itu hanyalah bayangan semu belaka yang berbentuk nyata
Dengan masih diam aku mencerna setiap
kata yang keluar dari mulutnya tadi ‘bermain game online bersama teman-teman
yang lain, teman? Bersama-sama?bermain?’ masih dalam diam aku berpikir dengan
kata-kata itu sampai suara andra kembali mengagetkanku “hei kenapa diam van ada
apa?apa kamu sedang ada janji setelah pulang sekolah?”, “ah iya maaf” aku
menjawab secara otomatis tanpa terpikirkan olehku di tambah senyum yang di buat
secara terpaksa di wajahku
“baiklah kalau begitu sampai ketemu
besok lagi van, ya sudah teman-teman kita berangkat nanti” andra berkata kepada
sekumpulan anak laki-laki lain di kelas ini sambil meninggalkan mejaku,
sebenarnya bisa saja aku bergabung dengan mereka tetapi aku juga sedikit
bingung karena kurang dekatnya aku dengan mereka meski sama-sama dalam satu
kelas sekarang. “teman dari temanku” itu adalah jawaban yang paling tepat untuk
di berikan kepadaku dan kepada mereka, ketika seseorang seperti andra
mengajakku bergabung teman-temanya yang lain akan menerima keberadaanku hanya
ketika teman mereka ada disitu yaitu andra sendiri tetapi ketika temanya
meninggalkan mereka, aku dan mereka tidak lebih dan tidak kurang hanyalah teman
dari temannya saja yang tidak terlalu penting meski ada ataupun tidak
‘ya begini lebih baik’ jawabku dalam
hati meyakinkan diriku, aku membersihkan peralatan tulis di meja dan
memasukkanya ke dalam tas punggungku, bangkit dari kursi dan keluar menuju
kantin sambil menunggu jam pelajaran selesai adalah ide yang terbaik menurutku
saat ini. Sesampai di kantin terdapat banyak orang lebih banyak dari
perkiraanku sehingga mengurungkan niatku dan memutar badanku berfikir kemana
lagi tempat yang paling cocok untuk penyendiri sepertiku, berjalan tanpa tujuan
jelas membuatku berputar-putar ke segala arah di sekolah ini sampai tiba aku di
depan pintu perpustakaan
“ya mungkin di sini bisa lebih tenang”
jawabku sendiri dengan lemas, berjalan memasuki gedung perpustakaan nampak di
dalam hanya ada sedikit murid yang sedang membaca koran atau buku. Aku berjalan
menuju salah satu rak buku melihat-lihat apakah ada yang menarik perhatianku,
beberapa menit aku melihat semua judul di rak itu sampai aku menemukan sebuah
buku yang memiliki judul yang sedikit membuatku penasaran
Tanpa banyak berpikir aku menggerakkan
tanganku untuk mengambil buku itu tanpa terasa sebuah tangan yang halus juga
menyentuh buku itu, sejenak aku terdiam merasakan lembutnya tangan itu tetapi
aku kembali sadar dan menarik tanganku. Aku melihat ke samping kananku nampak
seorang murid perempuan berparas cantik dengan rambut lurusnya yang di biarkan
terurai, beberapa detik aku menatapnya dengan tatapan kagum bagaikan melihat
seorang dewi turun dari langit sampai dia berbicara
"maaf" mendengar kata-kata
maafnya membuat tersadar dan menggelengkan kepala sambil berkata "tidak
apa-apa akulah yang seharusnya meminta maaf", mendengar ucapanku dia
tersenyum sehingga semakin menampakkan kecantikannya. Seketika itu juga waktu
seakan-akan berhenti bergerak 'apa ini hanya mimpi di siang hari? atau dia
benar-benar dewi yang turun dari langit', berbagai pertanyaan berkecamuk di
pikiranku hingga terdengar kembali suaranya yang halus di telingaku
"kalau tidak salah kita satu
kelas kan dan namamu ivan, benar kan?" mendengar pertanyaan darinya aku
bertanya kepada diriku sendiri dalam diam 'apa benar kita satu kelas? kapan?
dimana?'. Seperti menyadari pertanyaan dalam pikiranku dia melanjutkan
kata-katanya "kita sama-sama di kelas 12 masa kamu tidak ingat teman satu
kelas sendiri, namaku diana ingat kan"
"ah iya mana mungkin aku lupa
teman sekelasku sendiri" jawabku spontan sambil tersenyum juga kepadanya,
"syukurlah" jawabnya membuatku semakin bingung akan topik apa yang
akan kami bicarakan. Aku lalu melihat buku di rak itu sambil bertanya kepadanya
"apa buku itu mau kamu baca diana?"
"hmm iya sih tapi kalau kamu mau
baca duluan juga tidak apa-apa kok" jawabnya sambil tersenyum dan mengambil
buku itu dari rak buku, "ah tidak aku hanya tertarik dengan judulnya saja,
kamu saja yang pinjam dulu lain kali saja aku membacanya" entah bagaimana
mulutku dapat berbicara dengan otomatis kepadanya, "aku sudah membacanya 2
kali, memang buku yang bagus ini kalau begitu terimakasih ya ivan".
Kata-kata itu menyudahi perbicangan yang terasa sedikit aneh bagiku ini, aku
kemudian berjalan berbalik arah dan akhirnya hanya membaca koran edisi hari ini
Tanpa terasa jam sudah berada di angka
2 waktu terasa sangat cepat berlalu sampai bel tanda pulang sekolah terdengar
berbunyi, aku sebenarnya sedikit heran dengan sekolah ini kenapa setelah ujian
nasional seperti ini semua murid kelas
12 di larang pulang ke rumah padahal yang kami lakukan di sekolah hanya berada di
kantin atau melakukan berbagai macam hal yang tidak jelas lainnya. Aku bangkit
dari kursiku dan berjalan mengembalikan koran di tempatnya semula, di depan
pintu perpustakaan nampak banyak murid laki-laki atau perempuan dari kelas
10-12 bergerombol berjalan menuju gerbang sekolah, aku pun juga ikutan
melangkahkan kaki ke arah yang sama dengan mereka
Selama perjalanan menuju gerbang
bahkan sampai berada di atas bus yang ada di pikiranku sekarang hanyalah
mengerjakan novelku yang lama tidak aku sentuh, tanpa terasa bus sudah berhenti
di halte 'kenapa bus ini tidak turun saja di depan pagar rumahku ya' gerutuku
dalam hati, setelah turun dari bus aku meneruskan perjalanan ke rumah dengan
berjalan kaki sambil melihat email atau social media lewat smartphone di
tanganku. Panas matahari hari ini seakan-akan berada tepat di atas kepalaku
membuat keringat keluar dari seluruh pori-pori tubuhku dengan derasnya,
sesampainya di rumah keringat di tubuhku tidak jauh berbeda seperti saat
kehujanan beberapa waktu yang lalu
"ketika musim hujan badanku basah
karena air hujan, dan sekarang musim kemarau tubuhku juga basah karena
keringat, benar-benar tidak bisa di percaya" kataku sambil membuka pintu
rumah "aku pulang. . . " tidak terdengar jawaban balasan salam dari
dalam rumahku sepertinya seluruh penghuni rumah sedang tidak ada saat ini, aku
masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarku di lantai 2. Meletakkan tas
dan berganti pakaian untuk membuang rasa panas yang sudah sangat tidak
manusiawi untuk siang ini
"hmm mencari tempat yang cocok
untuk mencari inspirasi dimana ya nanti sore" sambil berpikir aku
mengambil smartphone yang berada di kantong celana sekolahku, aku membuka peta
online untuk melihat ada fasilitas apa saja yang menarik di kota, beberapa menit
mencari akhirnya aku menemukan sebuah taman yang kelihatanya cocok untuk
memulai kembali menulis novel. Setelah menentukan tujuan sore ini aku
mempersiapkan berbagai macam keperluan dan memasukkanya ke dalam tas yang biasa
aku gunakan untuk pergi berjalan-jalan
"ya seperti ini saja sudah
cukup" kataku sambil sedikit tersenyum, ya tentu saja selain buku tulis
dan alat tulis masih ada cemilan dan minuman yang aku bawa untuk ke taman itu
sore nanti, menjatuhkan badanku di atas tempat tidur dan mendiamkannya beberapa
menit membuat mataku secara otomatis menutup, mungkin karena cuaca yang panas
membuatku ingin sedikit beristirahat di tambah hari ini baru saja aku
menyelesaikan ujian sehingga ingin sekali rasanya bersantai menghilangkan rasa
lelah meski hanya sebentar saja
Dalam tidur berbagai macam hal di masa
lalu seperti di tayangkan kembali di depanku, di mulai dari hal yang
menyenangkan hingga hal paling tidak aku sukai semua terlihat sehingga
membuatku bangun dari tidurku secara spontan "kenapa siang hari bermimpi
hal yang aneh ya" tanyaku pada diri sendiri sambil melihat smartphone yang
berada di tanganku, sekilas nampak jam menunjukkan pukul 15:30 melihat itu aku
langsung berdiri dan mengambil topi serta kacamata di meja belajar dan
mengenakannya
Setelah kembali mengecek semua yang di
butuhkan di dalam tas aku berjalan keluar rumah menuju halte bus, selama berada
di bus yang terbayang hanya bagaimana menyusun lanjutan ceritanya di taman itu.
Tanpa terasa perjalanan selama 30 menit telah selesai, aku turun di halte yang
berada di kawasan perkantoran dengan gedung-gedung tinggi yang seakan-akan
menjulang ke langit, aku berjalan sambil mengambil smartphoneku dari saku
celana dan melihat petanya untuk menuju ke taman, berjalan melewati banyak
gedung perkantoran selama 10 menit akhirnya aku tiba di seberang taman itu.
Melihat ke kiri dan ke kanan aku
memastikan tidak ada kendaraan yang lewat dan segera menyebrangi jalan dan
memasuki wilayah taman itu, nampak sebuah taman dengan danau atau seperti kolam
buatan yang ukuranya tidak terlalu besar berada di tengah-tengah taman di
kelilingi oleh pepohonan yang rindang, terdapat jalan yang di bentuk dari batu
berwarna gelap mengitari seluruh wilayah taman. Beberapa orang terlihat sedang
lari sore di taman ini, berjalan mengitari taman itu aku akhirnya menemukan
tempat duduk yang cocok untuk memulai mengerjakan novel
Kursi yang terbuat seperti dari kayu
yang panjang di apit oleh beberapa pohon dan menghadap tepat ke arah danau
membuat sudut ini menjadi sempurna di tambah matahari yang berada di sebelah
barat membuat cahayanya menerangi danau sehingga awan yang berada di langit
nampak seperti tenggelam di dalam danau, aku mengeluarkan smartphoneku dan
headsetnya yang kupasang di kedua telingaku dan mulai memutar musik
Beberapa orang silih berganti berlari
melewati tempatku duduk saat ini, aku terus mendengarkan musik sambil membuka
buku yang berisi novelku dan memulai merangkai kata demi kata menjadi sebuah
bagian kecil, meski taman ini berada di tengah kota namun tidak banyak orang
yang mengetahui keberadaanya, selama 20 menit aku berada di sini hanya terlihat
tidak lebih dari 10 orang. Sambil memainkan pulpen dan mencari inspirasi mataku
melihat kesana kemari kemudian kembali melihat danau itu sampai seorang
perempuan tiba-tiba duduk di bangku yang jaraknya sekitar 3 meter dari tempatku
duduk
'seperti bukan orang indonesia dari
wajahnya' sekilas kata-kata itu lewat begitu saja di otakku tanpa sadar
tatapanku yang awalnya hanya melihat danau atau apapun di sektiar ini mulai fokus
pada sosok perempuan yang sekilas mirip seperti orang cina atau jepang dengan
rambut lurus berwarna hitam dan kulit putihnya yang lebih putih dari orang
indonesia sendiri. Entah berapa lama aku menatapnya dan menghentikan bermain
pulpen di tanganku, udara sore yang hangat di tambah matahari yang semakin
tenggelam di sebelah barat membuat suasana seperti di sebuah film
Dia duduk di kursi sambil
merenggangkan kakinya 'mungkin sedang istirahat setelah lari' pikirku, lama
sekali aku menatapnya dan sepertinya dia mulai sadar bahwa ada seseorang yang
sedari tadi melihatinya. Dia secara tiba-tiba melihat ke arahku sambil
tersenyum melihat hal itu aku seperti tersambar petir dan aku langsung
memalingkan wajahku ke arah danau di depanku sambil berbicara dalam hati 'bodoh
bodoh bodoh, bagaimana ini, malu banget, gimana sekarang apa yang harus aku
lakukan' berbagai macam pertanyaan dan umpatan silih berganti menerjang otakku
sampai terdengar suara merdu perempuan seperti sedang menanyaiku "ada
apa?"
Mendengar pertanyaan ada apa membuatku
melihat ke arah asal suara itu dan mendapati perempuan tadi sekarang berdiri
tepat di hadapanku, mungkin warna wajahku sekarang yang melihat dia dari dekat
sama seperti kepiting rebus yang berwarna merah padam "aaaa . . . aaaaaa.
. . anu . . ." aku sedikit gugup ingin mengeluarkan suaraku, "anu
?" tanyanya lagi sehingga membuatku semakin bingung ingin mengatakan apa
hingga mendadak aku menjawab "tidak ada apa-apa" jawabku singkat di
iringi dengan memasukkan semua peralatan menulisku dan bukuku ke dalam tas lalu
berdiri dari kursi sambil berkata "aku permisi dulu"
"ah iya sampai ketemu lain waktu
ya" jawabnya sambil kembali menampakkan senyum indah yang terukir di
wajahnya, aku yang melihat itu hanya menjawab "ya" kemudian berjalan
berbalik arah meninggalkan perempuan tadi 'gila ini gila kalau lama-lama berada
di situ aku melihatnya dari jarak sedekat itu aku mungkin bisa pingsan'. Selama
perjalanan di bus bahkan sampai tidur-tiduran di dalam kamar aku hanya diam
sambil melihat langit-langit kamar dan masih terbayang jelas wajah perempuan
tadi bahkan senyumanya "sudah cantik imut pula" jawabku sambil
senyum-senyum tidak jelas
Keesokan
harinya aku di bus masih seperti orang melamun membayangkan wajah perempuan
kemarin sore bahkan sampai berada di kelas dan guru sedang menerangkan
pelajaran untuk ujian akhir sekolah aku hanya diam dengan tatapan kosong
membayangkan wajah perempuan itu 'aku harus bisa bertemu dia nanti sore, tapi .
. . . kalau sudah bertemu aku harus bagaimana', masih dalam diam aku bertanya
kepada diriku sendiri yang jarang berinteraksi kepada orang di sekitarku
"ivan, hei ivan bisa kamu
mendengar saya" terdengar sebuah suara berat yang memanggil namaku
membuatku tersadar dari lamunanku "ah iya pak" jawabku sedikit kaget,
"lanjutkan penjelasan saya barusan di halaman 56" kata guru tua itu.
Pelajaran demi pelajaran terlewati dengan cepat dan akhirnya bel pulang sekolah
terdengar berbunyi "ya sampai di sini dulu hari ini kalian bisa pulang
sekarang"
Aku menaiki bus yang bukan menuju
rumahku tetapi menuju taman yang kemarin sore aku datangi, setelah perjalanan
yang sedikit memakan waktu aku akhirnya sudah tiba di taman itu tetapi tidak
terlihat seorang pun berada di taman 'aku terlalu berharap sepertinya' aku
berkata di dalam pikiranku. Aku menuju ke tempat kami bertemu kemarin dan duduk
di kursi yang sama seperti kemarin sore, aku membuka buku novelku dan mulai
menulis cerita apa yang terjadi setelah aku berhenti mengerjakan novel ini,
tanpa menghiraukan udara panas dan sekitarku aku terus menulis dan menulis 'ya
novel ini mungkin bisa di bilang seperti diary saja ketimbang novel yang
bergenre remaja atau sejenisnya' kataku kepada diriku sendiri
Terdengar suara yang sepertinya asing
di telingaku bukan terlalu asing sih cuman lebih tepatnya seperti hanya
beberapa kali aku mendengarnya baru-baru ini "kamu yang kemarin sore
kan" sebuah suara perempuan bertanya kepadaku, 'ini bohong kan ini hanya
halusinasi ah benar ini hanya halusinasi di siang hari karena aku terlalu fokus
mengerjakan novel' pikirku meyakinkan diri sendiri, "konnichiwa"
terdengar kembali dia berkata dengan bahasa yang asing di telingaku 'bukan
bahasa yang terlalu asing sih, ini bahasa jepang seperti di anime yang biasa
aku lihat yang artinya selamat siang' kataku kembali pada diriku sendiri
Sebuah tangan menyentuh pundakku
membuatku benar-benar sadar dari lamunanku dan melihat sebuah tangan lagi
sedang melambai-lambai di depan wajahku "huwaa" kataku sedikit kaget
dan berteriak, "ada apa ada apa?" perempuan yang tadi memanggilku
berkata dengan sedikit kaget dan bingung, "ah tidak apa-apa, maaf membuat
kamu sedikit kaget" sebuah kata meluncur sendiri dari dalam mulutku tanpa
aku perintah, "kamu yang kemarin kan, sedang apa di sini dengan sebuah
buku?"katanya bertanya-tanya dengan semangat "ah tidak ada hanya saya
aku sedang mengerjakan sebuah novel pribadi saja" jawabku sekenanya
"wow novel pribadi keren sekali
boleh aku melihatnya" jawabnya semakin antusias, "maaf ini masih
belum selesai bahkan aku tidak tau apa lanjutannya seperti apa" jawabku
datar membuat suasana langsung seperti kembali canggung, suasana menjadi
menjadi tenang untuk sesaat sampai dia tiba-tiba duduk di sebelahku tanpa
permisi aku yang melihatnya langsung sedikit bergeser dari tempat dia duduk,
kembali setelah kejadian itu suasana menjadi tenang kembali cahaya matahari
yang masih tinggi di atas dan suasana panas membuat danau ini seperti cermin
yang menampakkan langit dan awan di atas airnya, untung saja taman ini memiliki
banyak pohon karena itu udara panas tidak terlalu terasa bahkan udaranya terasa
sedikit sejuk di sini
"kamu sedang apa siang hari
seperti ini berada di sini?"tanyaku tanpa berfikir kepada perempuan di
sebelahku yang bahkan aku tidak tahu namanya "apa kamu sedang membolos sekolah?"
lanjutkku kembali tanpa menyadari ekspresi sedih di wajahnya, aku kembali diam
setelah pertanyaanku tidak di jawabnya satu kata pun "maaf aku terlalu
lancang menanyakan hal yang seperti itu" kataku meminta maaf lalu dia
menjawabnya "tidak apa-apa" ekspresi wajahnya menghadapku dengan
tersenyum tetapi ekspresi di balik senyumanya dan bahasa tubuhnya sangatlah
jauh berbeda dan aku menyadarinya 'dia sedang sedih karena suatu hal' kataku
dalam pikiranku
"kamu sering berada di taman ini
ya?" tanyaku kepadanya, "tidak tentu mungkin ketika udara panas dan
tidak hujan saja aku ke sini untuk menikmati udaranya" jawabnya dengan
nada sedikit lemah, "oh begitu rupanya" jawabku dia kemudian bertanya
kepadaku "kalau kamu sendiri bagaimana?". "aku baru beberapa kali
ini saja datang ke taman ini" jawabku sambil melihat ke arah danau
kembali, "ow mencari inspirasi ya di taman ini?" tanyanya kembali
"ya mungkin seperti itu tetapi ini novel yang sedikit berbeda mungkin dari
novel lain" jawabku
"berbeda? memang apa bedanya"
tanyanya kepadaku, "hmm isi novel yang aku buat ini karena apa yang aku
jalani setiap waktu, ya lebih mirip diary dari pada novel hanya saja bahasanya
tidak terlalu baku sih" jawabku. Setelah kejadian itu hari demi hari kami
saling bertemu ketika aku pulang sekolah sampai sore hari di taman ini dan kami
sepertinya semakin akrab, dia adalah mahasiswa yang mengalami pertukaran
pelajar antara indonesia dan jepang selama 1 tahun. Kami yang saling bertemu
setiap hari di taman ini sebenarnya belum saling mengetahui nama masing-masing
bahkan sampai berakhirnya bulan april ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar