JULY
Bulan Juli datang dan aku berharap
semoga bulan ini menjadi awal yang baik untukku saat ini dan kedepannya,
setelah menerima hasil ujian aku mencari perguruan tinggi dan mulai
mengumpulkan brosur dari setiap perguruan tinggi. Ya soal biaya masuk memang
tidak terlalu membuatku pusing hanya saja menentukan pilihan yang terbaik
untukku itu lah yang membuatku bingung sendiri, rencananya hari ini hikari san
akan menemaniku berkeliling kota untuk mencari perguruan tinggi
Kami akan bertemu dulu di halte dekat
taman baru kemudian meneruskan perjalanan mencari perguruan tinggi untukku
"selamat pagi ivan kun" sapa hikari san ketika aku baru saja turun
dari bus "ya selamat pagi juga hikari san" sapaku, "jadi hari
ini kita mau kemana?" tanyanya "hmm aku sebenarnya sudah mendapatkan
semua brosur dari setiap perguruan tinggi di kota ini hanya saja . . . . itu malah
membuatku bingung" kataku sambil menundukkan kepalaku
"jadi sudah dapat semua brosur ya
kalau begitu kenapa tidak di lihat semua brosurnya, sini aku bantu"
katanya bersemangat, ada 15 brosur pendaftaran perguruan tinggi di tangan
hikari san saat ini dia dengan serius dan teliti melihat semuanya kemudian
membagi brosurnya menjadi 2 bagian lalu bertanya kepadaku "ivan kun memang
mau mengambil jurusan apa?", ketika di tanya seperti itu aku juga tidak
mengetahui dengan pasti karena aku sendiri juga bingung di bagian itu "aku
sebenarnya bingung di bagian itu hikari san hehehe" kataku sambil tertawa
kecil dan menggaruk-garuk rambutku
"dasar, memang kamu hobi suka di
bidang apa? atau punya tujuan apa nanti ke depanya?" tanyanya kembali, aku
kembali diam sambil berfirik sudah banyak bus yang melewati halte kami tetapi
kami seperti tidak memperdulikanya dan tetap duduk di halte, "banyak
misalnya aku suka bermain komputer apa lagi ya baca buku, manga, nonton anime,
makan, tidur, dan olahraga sedikit sih, dan juga aku paling malas kalau di
suruh belanja secara boros untuk membeli sesuatu yang tidak terlalu
penting" kataku sambil mengangguk-angguk pelan "ya jadi seperti itu
hikari san" aku kembali berbicara dan melihat ke arah hikari san dan
membuatnya sedikit kaget
"begitu ya baiklah bagaimana
kalau masuk jurusan informatika atau manajemen?" tanya hikari san,
"dari kedua jurusan itu yang paling susah yang mana?" tanyaku, hikari
san melihatku seolah-olah sudah mengerti yang aku inginkan "sudah kamu
masuk manajemen saja" katanya sambil menyerahkan kembali brosur di
tanganya "baiklah kalau begitu, tetapi masuk perguruan tinggi yang
mana?" tanyaku kembali, hikari san kembali melihat brosurku dan akhirnya
dia menarik 2 brosur dari tanganku "ini" katanya sambil memperlihatkan
brosur ke hadapanku
"hanya 2 perguruan ini saja yang
jurusan manajemennya bagus sepertinya" hikari san berkata dengan sedikit
ragu juga "dan perguruan ini juga yang sekarang menjadi tempatku menimba
ilmu" katanya kembali sambil menunjukkan nama sebuah perguruan tempat dia
dan teman-temanya menjadi pertukaran mahasiswa "kalau begitu aku pilih
perguruan tempat hikari san saja" kataku bersemangat, mendengar ucapanku
wajah hikari san nampak bahagia tetapi kemudian berubah sedikit muruh
"kenapa hikari san?" tanyaku
Hikari san masih diam sebentar lalu
berkata "sebenarnya akhir bulan september tahun ini aku sudah harus
kembali ke jepang karena waktu pertukarang pelajarnya sudah selesai"
mendengar ucapanya aku mendadak ikut menjadi diam 'akhir september? kenapa?
kenapa begitu cepat waktu kami bertemu, aku kira . . . .' berbagai pertanyaan
muncul di pikiranku dan aku akhirnya memberanikan bertanya kepadanya "aku
kira kamu baru pindah ke sini dan masih ada waktu selama 1 tahun untuk kita
bertemu"
Bus masih terus berhenti di halte kami
silih berganti hari itu tidak banyak kendaraan yang nampak di jalan mungkin
karena bulan ini menjadi puncak udara panas di musim kemarau, hikari san
kemudian membuka mulutnya dan berkata "tidak ivan kun aku sudah berada di
sini sejak tahun kemarin dan selama musim panas di jepang aku masih bisa bebas
di indonesia dan baru kembali ketika musim gugur nanti", aku yang masih
terdiam kemudian berdiri dan menarik tanganya untuk berdiri "kalau begitu
kita lakukan berbagai macam hal yang menyenangkan untuk kenang-kenanganmu
selama di sini bagaimana?" tanyaku kepada hikari san yang masih berdiri
terdiam sambil melihatku
"baiklah, terima kasih ivan
kun" jawabnya dengan tersenyum yang kembali menampakkan kecantikannya,
kami akhirnya hari itu datang ke perguruan tinggi tempat hikari san belajar
setelah melakukan pendaftaran dan jadwal untuk tes ujian masuknya akan di mulai
senin depan. Selama seminggu hikari san menemaniku belajar di taman untuk
menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, selama seminggu ini hikari san benar-benar
mengajariku dengan serius meski udara benar-benar panas di luar rumah tetapi
tidak menyurutkan semangat kami berdua, aku bahkan berpikiran ini sebenarnya
bukan belajar malah lebih tepat seperti piknik saja
Satu lagi hal indah yang tidak pernah
aku alami seumur hidup kembali aku rasakan di taman ini bersama hikari san,
berdua di taman ini dengan orang yang aku suka benar-benar sebuah anugerah
tersendiri untukku. Hari ini adalah hari sabtu sehingga hikari san hari ini
tidak mau mengajari aku sama sekali dan hanya ingin mengobrol saja "besok
bagaimana kalau kita bersenang-senang dulu untuk menghilangkan stress selama
belajar seminggu ini" ajaknya, "tapi mau kemana hikari san? bukanya
di sini saja sudah menyenangkan?" tanyaku "hmm bagaimana kalau kita pergi
ke taman bermain saja?" tanya hikari san dengan semangat "taman
bermain?" tanyaku sedikit bingung dan hikari san hanya mengangguk dengan
semangatnya
"memang di kota ini ada?"
tanyaku kembali "kamu ini sudah tinggal lama di negerimu sendiri tetapi tidak
tahu, dasar" katanya sedikit marah "maaf, jadi dimana
tempatnya?" tanyaku penasaran juga "sudah kamu besok ke halte di
taman ini nanti aku beritahu" hikari san berbicara dengan semangat, 'besuk
ya? berarti hari minggu' kataku dalam hati "lalu hari ini kita akan
belajar lagi ?" tanyaku penasaran tentang apa yang akan di lakukan hari
ini, "hmm hari ini temani aku ke mall ya membeli beberapa barang"
hikari san berkata tetap dengan semangat dan menarik tanganku untuk
mengikutinya
"katanya tadi hanya ingin mengobrol
saja sekarang malah mengajakku ke mall" kataku sedikit menggerutu hikari
san hanya tertawa kecil mendengar perkataanku barusan dan menjawabnya
"makanya tadi kamu jangan bertanya soal belajar jadinya aku berpikiran
lain deh", hari itu kami berjalan-jalan di mall hikari san memberi banyak
sayuran dan bahan makanan lainnya di salah satu supermarket dan sudah bisa di
tebak hari ini akulah yang mendapatkan bagian membawakan barang-barangnya
"jadi untuk apa semua ini hikari
san?" tanyaku penasaran "ya untuk di makan sama teman-teman di rumah
malam ini, oia ivan kun ikut juga ya makan malam di rumahku nanti" hikari
san berbicara sambil memilih-milih bumbu masakan, aku yang mendengarnya sedikit
kaget dan bertanya "apa tidak masalah?" "tidak apa-apa kok tenang
saja" katanya lagi tanpa melihatku, setelah semua bahan makanan di beli
kami langsung pulang dan menaiki bus menuju rumah hikari san selama di bus
hikari san banyak berterima kasih kepadaku karena berkat nasihatku dan saranku
beberapa waktu yang lalu hubungan dia dengan temanya sudah membaik sekarang
Bus yang kami naiki dari mall tadi
akhirnya sampai di halte kawasan rumah hikari san setelah berjalan melewati
beberapa blok rumah akhirnya sekali lagi aku berdiri di depan pagar rumah ini
"apa benar-benar tidak masalah" kataku pelan, sepertinya hikari san
mendengar perkataanku "sudah masuk saja" katanya sambil mendorongku
masuk setelah dia membuka kunci pagar rumah, ketika hikari san ingin membuka
pintu ternyata semua teman-temanya langsung membuka pintu sambil berkata
"halo ivan kun selamat malam" aku yang melihat hal itu hanya diam dan
gugup mau berkata apa "ssss. . .sel. . selamat. . .ma. . ma. .
.malam"
Semua yang melihatku langsung tertawa
dan akhirnya semua masuk ke dalam rumah termasuk aku juga meski masih gugup,
pengalaman seperti ini baru pertama kali terjadi dalam hidupku seorang
laki-laki sendirian masuk ke rumah seorang perempuan ah bukan seorang perempuan
lagi tetapi beberapa perempuan itu malah membuatku semakin gugup saja, aku
sudah tidak dapat membayangkan seperti apa wajahku saat ini kalau di bilang
malu ya jelas sangat malu malahan
Hikari san dan semua temannya memasak
dan menyiapkan meja untuk makan termasuk aku juga yang sedikit-sedikit membantu
menyiapkan meja, selama menyiapkan meja makan beberapa teman hikari san
bertanya "hei ivan kun apa kamu sudah berpacaran dengan hikari san?"
"apa kamu sudah menembaknya?" "kamu kelihatanya malu-malu begitu
kenapa?" dan berbagai pertanyaan tidak logis menurutku terus di tanyakan
kepada diriku
'Sudah lama aku tidak melihat dan
merasakan hal seperti ini' kataku dalam hati sambil membersihkan meja, tidak
terasa selama membersihkan meja dan mendengar berbagai pertanyaan teman-teman
hikari san makan sudah masak "ayo ini makananya sudah siap cepat cuci tangan
dulu" teriak hikari san membuat semuanya langsung berlari untuk cuci
tangan, aku yang masih terdiam melihat semua bertanya-tanya "kenapa cepat
sekali semuanya ya?" "cepat kenapa ivan kun?" terdengar hikari
san bertanya di sebelahku membuat aku sedikit kaget sambil menjawab
pertanyaanya "bukan begitu kan yang masak tadi hikari san kenapa
sepertinya semua jadi semangat ya atau apa perasaanku saja"
"tentu saja kami semangat masakan
hikari chan itu sungguh nikmat, kalau kamu mencobanya pasti minta tambah ivan
kun" kata salah satu temanya "hmm sebenarnya hikari san sering
membawakan bekal makanan kalau kami bertemu" kataku dengan ekspresi datar
"wow aku tidak percaya mendengarnya" teriak salah satu teman hikari
san yang baru selesai mencuci tangan, hikari san yang mendengarnya hanya
memalingkan wajahnya lalu meninggalkan kami untuk cuci tangan, suasana makan
seperti ini sungguh baru pertama kali aku alami selain makan bersama dengan
kedua orang tuaku dan kakakku jadi rasanya sedikit aneh saja
Selesai makan semuanya mengajakku
bermain dulu sebelum pulang, kami bermain kartu yang tidak pernah aku mainkan
kata mereka itu adalah permainan asal jepang bernama hanafuda ( Koi Koi), tidak
terasa waktu berjalan begitu singkat akhirnya jam 21:30 aku terpaksa pulang karena
jadwal operasi bus paling malam pukul 22:00 saja dan juga besok aku dan hikari
san juga akan ke kebun binatang yang entah dimana tempatnya
Sekarang aku masih baru saja turun
dari halte bus yang paling dekat dengan taman padahal aku sudah datang 10 menit
lebih awal dari waktu yang di janjikan tetapi hikari san sudah berdiri
menungguku "maaf hikari san apa aku telat?" tanyaku ketika
menghampirinya "tidak kok hanya saja sudah kebiasaan saja" jawabnya,
kami menunggu beberapa saat hingga bus yang mau kami naiki datang selama
menunggu aku memberitahunya suatu hal "hikari san sebentar lagi aku akan
menyelesaikan novelku dan akan segera aku cetak, dan cetakan pertamanya akan
aku berikan kepadamu" mendengar perkataanku dia tersenyum sambil berkata
"terima kasih ivan kun kamu sungguh baik"
Akhirnya bus yang kami tunggu tiba,
aku yang melihat rute perjalannya bertanya kepada hikari san "lho ini kan
bus menuju terminal kota kenapa kita menaikinya?" "tentu saja kan
taman bermainnya berada di sebelah utara kota ini dekat pantai" jawabnya,
aku hanya mengangguk saja mendengar perkataanya tanpa terasa kami sudah tiba di
terminal saat ini suasana di terminal sudah ramai orang, kami berjalan menuju
loket penjualan karcis untuk membeli karcis untuk menaiki bus selanjutnya,
setelah membeli karcis kami berjalan menuju bus tersebut melewati lorong yang
ramai oleh orang bahkan ketika menaiki bus suasanya sudah penuh dengan
penumpang
Selama 30 menit perjalanan aku bisa
melihat pemandangan yang masih sama saja dengan di kota dengan gedung-gedung
tinggi dan sedikit ramainya kendaraan, akhirnya kami tiba di taman bermain itu
dari depan tidak nampak seperti taman bermain menurutku karena kami harus
menaiki bus lagi untuk dapat masuk ke dalam kawasan taman bermain, kami
berjalan membeli karcis masuk setelah membelinya kami di suruh berjalan ke arah
yang berlawanan untuk masuk ke dalam dan memperlihatkan karcisnya kepada
penjaga di sana, dari situ kami menaiki bus lagi untuk menuju kawasan taman
bermain yang dekat dengan pantai. Tempat ini di bagi menjadi 2 wilayah yang
satunya adalah taman bermain dan sebelahnya adalah kawasan pantai, setelah
menaiki bus selama 10 menit akhirnya kami tiba di depan gedung untuk masuk ke
dalam taman bermain, dari sini kami berjalan menuju pintu masuk tetapi
antrianya sudah panjang padahal baru jam 10 pagi
“panasnya” kata hikari san, “ya mau
bagaimana lagi namanya jg antri, oia ini aq bawa minuman tadi dari rumah”
kataku sambil mengambil botol air mineral dari dalam tasku dan memberikanya
kepada hikari san “dan juga pakai ini” kataku lagi sambil menyerahkan sebuah
topi hitam agar hikari san tidak terlalu kepanasan. Setelah cukup lama antri
akhirnya giliran kami tiba juga untuk memberikan karcis, setelah memberikanya
kepada petugas kami berjalan masuk ke dalam melewati tempat penggeledahan
pengunjung, di dalam sini sudah ramai pengunjung yang datang dan terdengar
suara teriakan histeris dari beberapa wahana bermain
Mendengar teriakan itu pikiranku sudah
kacau tetapi ketika aku melihat hikari san dia nampaknya malah semakin
bersemangat “ ayo kita coba roller coaster, terus itu, itu, dan itu juga”
katanya sambil menarik tanganku dan menunjuk bebrapa wahana permainan. Dalam
hati aku berkata ‘ welcome to the dark world ivan, brave your self’, dengan
rasa takut aku menuruti ajakan hikari san berjalan menuju salah satu wahana
roller coaster. Dengan semangat hikari san antri di barisan pengunjung yang
lumayan panjang “aku sudah tidak sabar, benar kan ivan kun?” katanya sambil
tersenyum melihatku “ya begitulah” jawabku dengan lemas
Teriakan demi teriakan terdengar
semakin jelas dari ara roller coaster ini, aku melihat sedikit ke arah jalurnya
yang tinggi dan berputar-putar seperti naga. Aku bertanya kepada hikari san
sekali lagi sebelum naik wahana ini “hikari san apa kamu yakin mau menaikinya?”
“tentu saja ivan kun aku sudah tidak sabar” katanya bersemangat, setelah
mendengar jawabanya mau bagaimana lagi selain hanya menurutinya. Beberapa menit
kami antri dan akhirnya kami berada antrian untuk menaiki roller coaster
berikutnya
‘yang lama saja kamu datang wahai
roller coaster atau kamu terbang entah kemana gitu biar kami tidak jadi
menaikinya’ doaku dalam hati tetapi sepertinya doaku tidak di kabulkan karena
roller coasternya telah berhenti di seberang kami, sekilas terlihat ekspresi
orang-orang yang baru saja menaikinya terlihat ada yang mual mau muntah, ada
yang sedikit terhuyung-huyung, ada yang masih semangat dan berkata “aku ingin
naik sekali lagi”
Aku hanya berkata dalam hati ‘benarkah
mau menaikinya sekali lagi? Bertukarlah denganku ayo :(“ akhirnya pintu masuk
menuju roller coaster di buka dengan langkah yang tidak bersemangat aku
mendekatinya bersama hikari san yang berbeda jauh denganku, dia menarikku dan
sedikit berlari untuk duduk di kursi paling depan. Dia duduk dengan semangat
sambil menyuruhku duduk di sampingnya “duduk sini ivan kun pasti menyenangkan”,
‘mati aku’ kataku dalam hati dan setengah hati aku berjalan untuk duduk di
kursi itu
Setelah semua penumpang duduk termasuk
aku ada sesuatu seperti sabuk pengaman secara otomatis menahan tubuh bagian
depanku “deg. . . deg. . . deg . . .” terdengar suara jantungku semakin jelas,
tiba-tiba roller coaster ini berjalan maju dan naik mengikuti jalurnya dengan
lambat dan pasti. Entah sudah berapa lama roller coaster ini berjalan naik, aku
dengan takut melihat ke arah kiri dan terlihat orang-orang seperti semut serta
suaranya yang semakin tidak jelas, tiba-tiba roller coaster ini berhenti tepat
di ujung atas jalur ini dan suasana tiba-tiba menjadi hening sekali, saat ini
lah jantungku dan pikiranku semakin tidak karuan
Setelah berhenti sebentar roller
coaster ini berjalan lagi dan jalurnya menurun tajam, roller coaster ini pun
mengikuti jalurnya dengan kecepatan tinggi, semua orang pun teriak
sekeras-kerasnya termasuk aku juga bahkan ada yang berteriak histeris tetapi
tidak terdengar begitu jelas di tambah angin yang menerpa wajahku begitu terasa
sangat tidak bersahabat. Setelah mencapai dasar roller coaster itu berbelok ke
arah kiri kanan lalu berputar membuat kepalaku berkunang-kunang dan akhirnya
akupun tidak sadar setelah itu sampai roller coaster berhenti dan di bangunkan
oleh hikari san
“ivan kun, ivan kun kamu tidak
apa-apa?” dia memanggilku sambil menggoyang-goyangkan badanku, rasanya tubuhku
seperti sudah menginjak tanah saja “apa kita sudah sampai hikari san?” tanyaku
penasaran, “sudah ivan kun, kamu sekarang sedang istirahat karena pingsan di
rest area” kata hikari san dengan nada yang terdengar khawatir. Setelah bangun
dan diam selama beberapa menit aku kembali bertanya kepada hikari san “hikari
san itu apa tadi aku melakukan hal yang aneh?”, mendengar pertanyaanku hikari
san sedikit kaget dan terlihat berfikir sebentar lalu berbicara “ya setelah
turun dari roller coaster kamu sepertinya berbicara sendiri lalu muntah dan ya
akhirnya kamu pingsan lagi dan di bawa ke tempat ini sama petugas di sana”
“ow begitu ya” jawabku masih lemas,
“lalu kemana lagi kita sekarang?” tanyaku kepada hikari san, “hmm kemana ya,
kita ke merry go round aja bagaimana? Ah iya kamu masih sedikit pusing sih jadi
kemana ya . . .” dia berbicara dan bertanya sendiri sedangkan aku masih
melihatnya kemudian berbicara “bagaimana kalau kita mencari makan aja dulu?”,
“ah benar itu juga ide yang bagus untuk memulihkan semangatmu” ucapnya
Setelah menentukan tujuan berikutnya
kami berjalan keluar dari rest area menuju food court yang letaknya sedikit
jauh dari tempat kami berada jika melihat dari denah wilayah taman bermain yang
kami bawa ini, setelah berjalan beberapa menit melewati beberapa wahana
permainan kami tiba di depan food court dan menuju ke beberapa toko penjual
makanan dan memilih-milih menu makananya yang berada di depan toko tersebut
“jadi mau makan apa hikari san?” tanyaku “hmm apa ya aku juga bingung” jawabnya
Kami kembali berjalan melihat toko
makanan berikutnya dan melihat menu makanannya akhirnya kami tiba di ujung
barisan toko makanan dan aku kembali bertanya kepada hikari san “bagaimana?”
“hmm aku pesan nasi goreng saja kalau kamu ivan kun?” tanyanya kembali “hmm
sama aja deh’ jawabku singkat, setelah menentukan makanan yang di pesan dan
memesannya kami berjalan ke meja di depan toko makanan itu yang kebetulan
kosong, ya kondisi food courtnya masih belum terlalu ramai jadi kami masih bisa
memilih tempat duduk dengan bebas, setelah duduk aku bertanya kepada hikari san
“mau minum apa hikari san?” “minuman soda aja yang di botol minuman saja”
jawabnya. Setelah itu aku berjalan menuju ke toko penjual minuman dan membeli 2
botol minuman soda dan kembali menuju meja kami
Aku memberikan 1 botol minuman soda
kepada hikari san dan langsung di bukanya tutup botolnya, sedangkan aku masih
malas meminumnya karena perutku terasa lapar. Sambil menunggu makanan yang kami
pesan datang hikari san dan aku kembali berbincang-bincang, “kamu tadi lucu lho
pas berbicara tidak jelas setelah turun dari roller coaster” katanya sambil
sedikit tertawa, “memang aku berbicara seperti apa hikari san?” tanyaku
penasaran, “bilang tidak ya?” jawabnya seperti menggodaku saja “ya harus di
beritahu aku kan juga penasaran” jawabku lagi
“kamu yakin tidak malu kalau aku
beritahu?” jawab hikari san kembali, mendengar pertanyaan itu aku sedikit
berfikir sebentar memikirkan macam-macam hal tetapi akhirnya aku tetap ingin
tahu jawabanya “tidak masalah” jawabku, “jadi begini ketika kamu turun tadi kan
kamu seperti orang yang mabuk tuh jalannya, aku di sampingmu memegangimu biar
tidak jatuh tapi sekilas aku mendengar
kamu berbicara . . . . . ah tidak
jadi deh” ucapnya sambil kedua tangannya menutup mulutnya seperti menahan tawa
“ah tidak asik nih” jawabku jengkel
melihat itu hikari san makin tertawa sambil menahan suaranya dengan kedua
tanganya, setelah berbicara seperti itu seorang pramuniaga membawakan 2 piring
nasi goreng ke meja kami “permisi ini pesanannya” setelah berkata seperti itu
dan meletakkan 2 piring nasi goreng pramuniaga itu berjalan berbalik arah dari
tempat kami duduk, “kelihatannya enak” kataku “benar sepertinya enak tercium
dari aromanya juga” kata hikari san, dengan lahap kami memakan nasi goreng itu
bahkan sampai lahapnya akupun tersedak melihat itu hikari san tertawa sambil
berkata “lapar ya lapar tapi tidak seperti itu juga kalau makan” aku yang
tersedak makananku mencoba membuka botol minuman soda tadi dan meminumnya
“ah lega” kataku sedangkan hikari san
hanya tertawa sambil melanjutkan makannya, “menyebalkan sudah tahu tersedak
tidak di bantu malah di tertawain” kataku kesal tetapi hikari san hanya diam
dan melanjutkan makannya sampai habis baru berbicara membalas perkataanku tadi
“ya itu salahmu sendiri, salah sendiri makan aja sampai seperti itu” katanya
sambil tertawa mungkin mengingat kejadian barusan
Setelah makanan kami habis hikari san
mengambil denah di meja dan membukanya, dia sedang serius melihat-lihat wahana
apa saja yang berada di tempat ini sepertinya, dan food court ini sudah mulai
di penuhi orang yang sudah selesai dari bermain di wahana permainan lain dan
juga sekarang memang sudah waktunya makan siang “jadi kita akan kemana hikari
san?” tanyaku yang melihat hikari san masih fokus melihat denah di tangannya
“ke sini saja” katanya sambil menyerahkan denahnya dan menunjuk salah satu
wahana permainan
“. . . .” aku hanya diam ketika
melihat nama wahana itu, “kenapa ivan kun? Apa kamu juga takut masuk ke situ?”
tanya hikari san “tidak juga sih hanya saja . . “ jawabku yang belum selesai di
putus oleh perkataan hikari san “bagus kalau begitu ayo kita berangkat
sekarang” tanpa memperdulikan jawabanku yang belum selesai itu. Kami akhirnya
meninggalkan wilayah food court dan berjalan menuju wahana yang di pilih hikari
san tadi, setelah berjalan tidak terlalu jauh kami tiba di depan sebuah rumah
tua yang besar dengan tembok yang terbuat dari kayu yang sudah usang dan
terlihat sekilas di jendela-jendelanya bayangan atau kilatan cahaya serta
suara-suara menakutkan
Aku yang masih terdiam melihatnya
tiba-tiba di tarik hikari san untuk mengantri masuk ke dalam “ayo” katanya dan
sepertinya antrianya tidak terlalu panjang karena ketika barisan depan kami
berangkat hanya tinggal kami yang mengantri “mungkin karena waktunya makan
siang jadi sepi ya” kataku sambil melihat sekeliling. Setelah beberapa menit
berdiri akhirnya kami di ijinkan masuk dan di bekali sebuah lampu senter untuk
melihat di dalam rumah hantu ini
Memasuki pintu masuk rumah hantu ini
saja rasanya sudah tidak mengenakkan hati, tetapi aku hanya bisa terus
melangkah daripada di tinggal hikari san yang berjalan di depanku “ayo ivan kun
apa kamu takut?” ucap hikari san mengagetkanku “tentu saja tidak” kataku
terpaksa, kami sekarang berada di ruangan yang gelap gulita dan terlihat cahaya
di pintu menuju tempat selanjutnya, tetapi di ruangan ini tidak terjadi apa-apa
jadi kami berjalan terus
Ketika di depan pintu sebelum masuk
kami berdua berhenti dan mengintip ke dalam sambil mengarahkan lampu dari senter
ke dalam ruangan itu, di dalamnya terdapat sebuah kursi yang bergoyang sendiri
tanpa ada yang mendudukinya. Setelah itu kami masuk ke dalam dan tiba-tiba
sebuah benda putih melayang tepat di depan kami dari arah atas kursi itu
sepertinya, langsung saja aku dan hikari san berteriak dan tanpa berfikir lagi
berlari menuju pintu selanjutnya yang berada di belakang kursi itu
Dan sekarang kami berada di ruangan
yang gelap seperti sebelumnya hanya saja ruangan ini begitu luas “hikari san”
panggilku sedangkan dia hanya menjawab “hemm” “bagaimana kalau kita balik arah
saja dan kembali?” tanyaku “ yang benar saja ivan kun” katanya dengan nada
sedikit kesal sambil melihat ke arahku
berdiri di sampingnya “ya mau tidak mau kita harus melanjutkannya” katanya lagi
sambil mulai berjalan. Dan sudah dapat di tebak bahwa ruangan ini lebih
menyeramkan dari ruangan sebelumnya dan terus saja teriakan demi teriakan kami
keluarkan ketika melewati semua ruangan sampai terlihat pintu keluar rumah
hantu ini
“untung aku masih hidup” kataku lemas
sambil duduk di dekat bagian belakang rumah hantu “menyenangkan ya ivan kun”
hikari san berkata dengan wajah yang masih bisa tersenyum “menyenangkan apanya
hikari san, hampir saja aku mati karena sakit jantung di dalam sana” kataku
jengkel tetapi hikari san hanya tertawa mendengar ucapanku barusan, “ya sudah
kamu di sini dulu aku belikan minuman dulu di sana” hikari san berkata sambil
berjalan menuju vending machine penjual minuman
“ini minum dulu” kata hikari san
sambil menyerahkan sebotol minuman kepadaku, tanpa pikir panjang aku langsung
menghabiskan seluru isi minumannya karena kehausan sekali sehabis teriak-teriak
tadi “kamu kehausan ya ivankun” tanya hikari san dan aku hanya menjawabnya
dengan anggukan tanpa berkata apa-apa, setelah itu aku bertanya kepada hikari
san “mau kemana lagi?”, “hmm sekarang sudah sore ya” kata hikari san sambil
melihat jam tanganya
“baiklah kalau begitu kita ke merry go
round aja bagaimana?” katanya bersemangat, “baiklah tapi tunggu sebentar
lagi”kataku “kenapa lagi ivan kun?” tanya hikari san “biarkan tenagaku sedikit
pulih” jawabku, setelah beberapa menit duduk akhirnya kami berangkat menuju
merry go round. Saat ini yang menumpanginya penuh sekali untung saja permainan
ini tidak sampai membuatku pusing, setelah cukup lama bermain di situ dan waktu
sudah menunjukkan jam 18:00 kami akhirnya menuju restoran yang terdapat di
dekat pantai di sebelah tempat bermain ini
“wah indah sekali suasananya,
romantis” kata hikari san sambil melihat sekliling restorant yang berada di
dekat pantai, memang sih tempat ini bisa di bilang romantis karena kami makan di
luar ruangan dengan bintang dan langit malam sebagai payungnya di tambah ombak
dari pantai yang tidak terlalu jauh dan di setiap meja terdapat lilin sebagai
salah satu penerangannya meski ada lampu yang menggantung di atas kami
“ya memang sih” jawabku singkat,
setelah menu makanan yang kami pesan tiba tanpa berpikir panjang lebar kami
memakanya dengan semangat ‘rasanya seperti mimpi untukku’ kataku dalam hati
sambil memakan makanan di depanku, tidak terasa hari yang panjang dan
menyenangkan ini harus selesai setelah ini. Selesai makan malam kami akhirnya
pulang menuju rumah masing-masing selama perjalanan di bus kami lebih banyak
diam karena kelelahan setelah bermain seharian tadi, sesampainya di halte dekat
taman yang biasanya kami berpisah karena jalur bus kami sudah berbeda “jadi
sampai bertemu lagi ya ivankun dan terima kasih untuk hari ini” kata hikari san
sebelum naik ke dalam bus “ya sama-sama hikari san tadi itu sungguh
menyenangkan” balasku, setelah itu kami akhirnya berpisah menaiki bus yang
berbeda
Menyenangkan sekali bermain dan
bersenang-senang bersama di sana sebelum aku ujian masuk perguruan tinggi,
hikari san saat itu juga membawa bekal makanan sehingga membuatku makin senang
saja ketika makan siang. Ketika pulang kami berpisah di halte dekat taman dan
menaiki bus masing-masing menuju rumah kami, di dalam bus menuju rumah aku
hanya tersenyum-tersenyum sendiri mengingat kejadian ini 'ya ini salah satu sejarah
besar dalam perjalanan hidupku, oia kalau sampai rumah aku harus segera
menyelesaikannya untuk segera di cetak' kataku dalam hati dengan semangat
Beberapa hari aku berada dalam tekanan
ujian masuk perguruan untung saja semua pelajaran yang di ajari hikari san
banyak yang membantuku sehingga membuatku tidak merasa terlalu berat
menghadapain ujian masuk perguruan ini, hari terakhir ujian dalah hari ini jadi
semangatku sedang naik-naiknya karena nanti sepulang ujian pasti bertemu hikari
san. Setelah ujian kami di suruh melihat hasil ujianya di internet, setelah
mendengar itu aku berdiri dari bangkuku dan cepat-cepat bergegas meninggalkan
ruangan untuk menuju halte bus terdekat, sesampainya di taman aku berjalan
dengan semangat menuju bangku taman tempat aku dan hikari san biasanya duduk
Tetapi di sana tidak ada siapapun aku
akhirnya duduk sendirian sambil mengirim pesan kepada hikari san, sambil
menunggu pesan dari hikari san aku memadangi sekitar taman ini 'tidak ada yang
berubah ya' kataku dalam hati, setelah lama menunggu di situ akhirnya hikari
san mengirimi pesan bahwa beberapa hari ini dia dan teman-temanya ada acara di
luar kota mendadak jadi kami tidak bisa bertemu untuk beberapa waktu, aku yang
melihat pesan itu hanya bisa membalas iya saja lalu berdiri dari bangku dan
berjalan pulang
Selama beberapa hari aku dan hikari
san saling mengirim pesan seperti biasanya, tanpa terasa hari penentuan aku
masuk perguruan tiba aku membuka laptop di kamarku dan membuka web browser
untuk melihat hasilku, setelah lama mencari akhirnya namaku ada dan ternyata
aku lolos masuk ujian perguruan itu untuk menjadi mahasiswa di sana. Setelah
melihat itu aku mengirim pesan kepada hikari san dia mengucapkan selamat
kepadaku dan mengatakan bahwa dia juga lusa sudah kembali pulang jadi hari itu
juga kami bisa bertemu di taman
Hari yang aku nanti akhirnya tiba, aku
memilih pakaian yang bagus untuk hari ini setelah memilih cukup lama akhirnya
aku bingung sendiri dan hanya mengenakan pakaian biasa saja dengan kaos dan
celana panjang di tambah jaket karena nampak dari jendela kamarku siang itu
awan sedikit gelap "hari ini aku akan menembaknya" kataku dengan
semangat, selama di bus jantungku berdetak dengan kencang membuatku makin grogi
saja, setelah perjalanan yang cukup lama akhirnya aku tiba di halte di kawasan
perkantoran ketika aku turun dari bus terlihat awan semakin gelap saja dan aku
tidak membawa payung
Selama berjalan melewati gedung-gedung
perkantoran menuju taman di pikiranku hanya muncul berbagai pertanyaan 'bagaimana
nanti mengutarakannya? apa dia akan menerimaku? bagaimana respodnya?' dan lain
sebagainya, berjalan cukup lama akhirnya nampak pintu masuk menuju taman di
seberang jalan aku masih saja terdiam melihatnya hingga tiba-tiba suara yang
tidak terdengar asing memanggilku "ivan kun" mendengar itu aku
melihat di dekat pintu masuk hikari san sedang melambaikan tangannya
Aku akhirnya menyebrangi jalan dan
menghampirinya "tumben hikari san tidak menungguku di tempat
biasanya?" "ah tidak sekali-sekali aku ingin menunggumu di sini"
jawabnya sambil tersenyum, kami berjalan menuju tempat kami biasanya duduk
terlihat hikari san membawa sebuah payung di tangannya, benar saja tidak lama
kami duduk dan bercerita berbagai macam hal air hujan sedikit demi sedikit turun
dari langit membasahi bumi, hujanya sedikit lebat sehingga dengan terpaksa kami
berteduh di bawah pohon sambil memakai payung bersama-sama karena aku lupa
tidak membawa payung
Saat itu rasanya aku semakin grogi
saja hujan turun dengan lebat dan sekarang kami berdempetan di dalam satu
payung, setelah saling diam cukup lama aku memberanikan diri membuka
pembicaraan "hikari san", mendengar perkataanku hikari san melihat
sedikit ke arahku, rasanya baru pertama kali kami saling melihat dengan jarak
sedekat ini membuatku makin gugup tetapi aku harus memberanikan diri 'kalau
tidak sekarang kapan lagi' kataku dalam hati
"hikari san aku lulus ujian
masuk" kataku pelan "kan beberapa hari kemarin kamu sudah cerita ivan
kun waktu kita berkirim pesan" katanya, mendengar itu aku hanya dapat
menghina diriku sendiri kembali suasana menjadi sepi seperti semula, akhirnya
dengan memberanikan diri aku keluar dari payung dan membuatku basah karena
hujan tetapi aku tetap ingin berada di sini untuk mengatakan yang sebenarnya
"hikari san untuk saat ini aku akan berusaha jujur untuk pertama
kalinya" kataku sambil melihatnya, dia sedikit kaget dengan ekspresi
bertanya-tanya di wajahnya
"aku sebenarnya menyukaimu sejak
lama hikari san, mungkin sejak pertama kali kita bertemu di taman ini dan
ketika kamu benar-benar mau berbicara kepadaku mungkin saat itu lah aku mulai
menyukaimu . . . aku tahu selisih umur kita berbeda tetapi aku benar-benar
menyukaimu hikari san . . . maukah kamu menjadi pacarku hikari san" kataku
dengan suara lantang, melihat hal itu hikari san terlihat wajahnya merah dan
benar-benar kaget
Dia sedikit bingung ingin mengatakan
apa yang ingin dia katakan "aku benar-benar menyukaimu hikari san, aku
tidak bercanda soal ini" kataku lagi, suasana hening kembali datang kami saling
terdiam yang terdengar hanya suara air hujan yang turun dengan lebatnya.
"aku masih belum bisa menjawabnya sekarang ivan kun" katanya pelan
sambil menundukkan kepalanya, melihat itu aku bertanya kembali "tetapi
jika hikari san tidak menerimaku hubungan kita selama ini tidak akan berubah
kan?" dia hanya menjawab dengan mengangguk saja
Rasanya aneh sekali suasana taman ini
ketika hujan seakan seperti berada di dunia yang berbeda terlebih lagi
mendengar jawaban hikari san seperti itu, aku kembali bertanya kepadanya
"jadi kapan hikari san akan memberi tahuku jawabanya?" dia tidak
menjawab pertanyaaku dan masih terdiam sambil menundukkan kepalanya, melihat
hal itu aku hanya bisa berkata "begitu ya" dan akhirnya aku permisi
untuk pulang sedangkan hikari san masih terdiam di tempat itu
Selama berjalan menuju halte di hari
yang hujan ini aku bertanya pada diriku sendiri 'apa ini balasan karena aku
menolak diana? apa ini yang di namakan karma? apa karena hikari san tahu bahwa
dulu diana menembakku jadi dia seakan-akan menolakku, atau ada hal lain yang
aku tidak tahu' aku akhirnya tiba di halte tempat biasanya bus datang. Selama
di bus aku hanya berdiri saja karena badanku basah kuyup terkena hujan aku pun
seakan marah kepada cuaca hari ini dan mengumpatnya di dalam hati 'kenapa kau
selalu datang di saat yang tidak tepat, sialan'
Setelah kejadian itu awalnya aku
mengirim pesan kepada hikari san masih saja di balas seperti biasanya, tetapi
entah kenapa tiba-tiba beberapa hari ini setiap aku mengirim pesan jarang
sekali mendapatkan balasanya, pernah beberapa kali aku mencoba meneleponnya
hanya saja tidak pernah di angkatnya padahal sebelumnya dia masih membalas
pesan, setelah itu tidak pernah lagi terdengar bagaimana kabar hikari san
bahkan ketika aku datang ke perguruan tinggi tempat kami belajar aku berusaha
mencari-carinya hanya saja tidak pernah bertemu
Aku mencoba mendatangi tempat dia
tinggal di sini tetapi hanya teman-temannya saja yang keluar memberitahu bahwa
dia sedang tidak ada di rumah, karena seringnya aku datang ke situ akhirnya aku
tahu dari teman-temannya bahwa hikari san sebenarnya sudah mempunyai seorang
pacar yang sama-sama mahasiswa pertukaran pelajar dari jepang, "hikari
chan sudah mempunyai pacar ivan kun, sebenarnya hubungan mereka sedang tidak
harmonis beberapa waktu ini dan dia sering terlihat murung tetapi semua berubah
ketika dia bertemu kamu sepertinya, senyumannya seakan-akan kembali semangatnya
juga bahkan hubunganya dengan pacarnya yang renggang sudah kembali seperti
semula, semua itu berkat kamu ivan kun"
Mendengar perkataan itu rasanya hatiku
sangat sakit sekali 'apakah seperti ini juga perasaan diana saat aku tolak
dulu, meski tidak di tolak langsung oleh hikari san tetapi . . .' kataku dalam hati, entah perasaan apa
ini sakit, sedih, tidak terima, marah, semua bercampur menjadi satu saat ini
apa lagi mendengar perkataanya "semua itu berkat kamu ivan kun",
"semua berkat aku? jadi aku hanya jadi tempat pelampiasan semata?"
kataku dengan depresi di depan teman hikari san
Setelah mengetahui hal itu aku masih
saja datang ke taman seperti biasanya, hari ini hujan sedang mengguyur kota
membuat musim kemarau tahun ini semakin aneh saja menurutku, taman nampak sepi
tanpa terlihat satupun pengunjung aku terus saja berjalan-jalan mengelilingi
taman sendirian menggunakan payung, nampak berbeda sekali taman ini ketika
hujan datang seakan-akan seperti tempat yang tidak pernah aku kenal sama sekali
Dari tempatku berdiri diam saat ini
yang berada di seberang tempat biasanya aku dan hikari san duduk terbayang
semua sekilas masa dulu saat musim kemarau yang panas, ketika aku pertama kali
aku melihat hikari san sore itu, saat besoknya dengan semangat aku pingin
bertemu kembali dengan hikari san, pertama kalinya aku bisa berbincang dengan
seorang perempuan kembali, ketika kami saling memakan kue bersama di tempat
itu, ketika akhirnya aku mengetahui namanya untuk pertama kali setelah sekian
lama, pertama kali juga aku bertukar nomer dengan seorang yang ternyata aku
sukai, mengantarkannya pulang, dan masih banyak lagi kenangan indah di tempat
itu saat aku dan hikari san bersama
Ketika mengingat semua itu tidak
terasa air mataku berjatuhan, untung saja hari ini hujan sehingga jika ada
orang lewat pun mereka tidak akan menyadari ketika aku sedang menangis,
akhirnya aku hanya melihat tempat itu dari kejauhan di seberang danau 'apa
jarakku dengan hikari san seperti ini?' kataku dalam hati, hujan semakin lebat
hari ini, aku kembali berjalan menjauh dari tempat aku berdiri saat ini untuk
pulang kembali ke rumahku
Sesampainya di rumah hujan masih saja
turun di dalam kamar aku hanya memandangi buku novelku di depanku sambil
bertanya sendiri "apakah aku bisa menyelesaikanmu?", dalam diam aku
kembali mengingat ketika aku akan memberikan juga hadiah kepada hikari san
tetapi apa dia masih akan menerimanya. Sebuah pesan masuk ke smartphoneku,
ketika kau melihatnya pesan masuk dari hikari san bahwa dia ingin bertemu saat
ini, aku hanya melihat pesan itu sambil bicara sendiri di depan smartphoneku
"kenapa? apa kamu kurang puas? mau apa lagi aku sudah tahu semuanya hikari
sann", tentu saja dia tidak dapat mendengarnya karena aku hanya berbicara
sendiri dengan smartphone di tanganku ini, dengan emosi aku melempar
smartphoneku di tempat tidurku
Tetapi tetap saja suara pesan masuk
terus saja terdengar, aku hanya mengacuhkannya dengan menutupi smartphooneku
dengan bantal "sudah diamlah mau apa lagi kamu" kataku sambil air mataku menetes jatuh, terdengar kembali
nada pemberitahuan dari smartphoneku tetapi itu bukan nada dari pesan tetapi
dari panggilan masuk, aku pinggirkan bantalku dan melihat siapa yang
meneleponku saat ini
Seperti bisa di tebak hikari san
meneleponku tetapi aku hanya melihatnya saja dan membiarkannya terus berbunyi,
akhirnya dia sepertinya menyerah tetapi kembali pesan masuk datang, karena
lama-lama aku juga bosan mendengar suara pesan aku mencoba melihat semua isi
pesan dari hikari san "kenapa kamu ivan tidak bisa di hubungi?"
"kamu marah karena aku tidak menjawab perasaaanmu?" dan lain
sebagainya tetapi sama saja intin pertanyaanya hingga satu terakhir yang baru
saja masuk berisi "kalau begitu besok aku tunggu di taman seperti
biasanya", aku melihat pesan itu dan berpikir cukup lama lalu membalasnya
"baiklah hikari san"
Keesokan harinya aku datang lebih dulu
di tempat biasanya kami bertemu di taman itu, cukup lama aku duduk sendiri
sambil membawa novelku entah kenapa aku ingin sekali membawanya bersamaku hari
ini, akhirnya hikari san nampak sudah terlihat dari kejauhan dan berjalan ke
arah sini, hari ini dia memakai long dress berwarna putih tidak seperti
biasanya yang memakai pakaian dan celana saja. Jujur saja melihat hikari san
memakai pakaian seperti itu perasaan suka kembali muncul ke permukaan hatiku
tetapi ketika aku mengingat perkataan temannya perasaan itu seperti tertarik ke
dalam kembali
"selamat siang ivan kun"
sapanya sambil tersenyum dan masih berdiri, aku yang duduk dengan memegang buku
novelku bertanya "ada apa hikari san memintaku datang ke sini?",
"aku hari ini ingin memberitahukan suatu hal kepadamu ivan kun . ."
dia berbicara tetapi sebelum selesai aku menghentikanya dengan berbicara
"soal kamu sudah memiliki pacar?" mendengar perkataanku barusan
ekspresinya seperti orang sedang melihat hantu di depannya
"kenapa hikari san? apa aku salah
atau perlu aku mengulanginnya sekali lagi?" tanyaku, sedangkan hikari san
hanya menundukkan wajahnya sebenarnya melihat itu aku sudah tidak kuat lagi dan
ingin lari saja dari tempat ini tetapi aku, aku masih ingin tahu yang
sebenarnya dari mulutnya sendiri meski itu sakit untukku. hikari san akhirnya
mengangkat kepalanya setelah beberapa saat dan menatapku dia mulai berbicara
"memang benar aku sudah memiliki pacar ivan kun tetapi . . ."
"sudahlah hikari san lebih baik tidak kamu teruskan, hal itu malah membuatku
semakin sakit saja" kataku menghentikan perkataanya dan bangkit dari
dudukku
"tetapi aku sebenarnya menyukaimu
ivan kun hanya saja dia lebih dari seorang pacar melainkan dia adalah
tunanganku" hikari san berkata dengan pelan lalu diam, 'tunangan? ternyata
seperti itu' kataku dalam hati, aku sudah tidak dapat berpikir dengan benar
lagi saat itu yang ada sekarang aku hanya ingin pulang saja tetapi kenapa tadi
aku membawa buku ini kenapa aku sendiri juga tidak tahu mengapa
Hikari san melihat buku novelku di
tangan kananku dan bertanya "kenapa kamu membawa buku itu ivan kun?",
aku yang mendengar pertanyaanya hanya melihat buku itu saja tanpa dapat berkata
apapun saat ini, aku akhirnya melangkah menjauh dari tempat itu dengan hikari
san masih diam di sana, selama berjalan menjauh aku terus berpikir kenapa aku
membawa buku ini, tiba-tiba terlintas janjiku dulu kepada hikari san bahwa aku
ingin memberikannya hadiah apakah ketika aku tahu dia sudah memiliki pacar,
bukan pacar lagi tetapi tunangan apakah setelah mengetahui itu aku tidak jadi
memberikan benda ini
Akhirnya aku menghentikan langkahku
dan beralik arah kembali ke hikari san "ini? aku akan memberikannya
sebelum hikari san kembali ke jepang sebagai hadiahku kepadamu sesuai janjiku,
aku tidak peduli meski kamu sudah memiliki pacar atau tunangan sekalipun rasa
sukaku kepadamu tidak akan pernah sirna karena. . . karena kamulah hikari san
yang membuatku bisa menyelesaikan buku ini jadi tunggulah sebentar lagi hikari
san" kataku lalu kembali meninggalkanya dan pulang ke rumah
Di sisa hari pada bulan july ini aku
meneruskan mengerjakan novel ini, meski perasaanku saat ini tidak dapat aku
jelaskan seperti apa tetapi aku masih ingin meneruskannya dan menceritakkan apa
yang sebenarnya ada di hatiku melalui tulisan di buku novel ini. Musim kemarau
bulan ini begitu aneh karena hujan sering datang, entah kenapa ketika hujan
datang aku tidak dapat merasakan indahnya dunia ini seperti saat musim kemarau
yang panas di siang hari, sepertinya bulan juli ini terlewati tidak sesuai
dengan harapanku di awal bulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar