JUNI
Hari ini di minggu awal bulan juni
pengumuman kelulusan akan di bagikan oleh wali kelas, kami semua murid kelas 12
di sekolah ini atau mungkin seluruh murid kelas 12 di indonesia sedang
memikirkan hal yang sama di benak kami saaat ini "lulus atau tidak"
itulah yang menjadi beban berat melebihi ujian itu sendiri. Aku menanti
pengumuman kelulusan di ruangan kelas tetapi sampai jam 10 pagi belum ada kabar
apapun di tambah udara musim kemarau yang semakin memuncak membuat ku semakin
resah sendiri, hikari san mengirimi pesan untukku agar aku bersabar dan yakin
dengan hasil dari kerja keras selama ujian nasional
Pesan dari hikari san memang membuatku
sedikit tenang tetapi tetap saja perasaan takut masih menjalar di seluruh saraf
otak dan mengalir melalui pembulu darah menuju seluruh bagian tubuhku membuat
keringat bercucuran dari pori-pori kulitku "udaranya panas" kataku
dengan nada frustasi, bukan panas lagi mungkin untuk menggambarkan situasi
penuh tekanan hari ini. Semua murid laki-laki maupun perempuan di kelasku
nampak gelisah juga sama sepertiku menanti hasil pengumuman kelulusan yang akan
di bagikan
Jam sudah bergerak ke angka 10:30
tetapi belum datang juga wali kelas kami salah seorang murid bahkan berteriak
membuat situasi menjadi semakin mencekam di kelas ini "apa-apaan ini mana hasilnya
aku penasarn ini" "benar apa maunya sih guru-guru ini membiarkan kita
depresi seperti ini", saling bersautan cemoohan atau kata-kata sejenis itu
di kelas ini membuat mental murid yang lain semakin jatuh, tiba-tiba terdengar
suara andra berbicara sambil berdiri di depan kelas "teman-teman tenanglah
sebentar lagi pasti pengumumanya datang aku percaya bapak ibu guru tidak akan
membiarkan kita cemas seperti ini" terdengar juga suara dari salah satu
murid menjawab perkataan andra "ya itu memang benar tetapi fakta berbicara
lain, lihatlah saat ini di sini bagaimana kita di biarkan dalam situasi tidak
menentu seperti ini sejak pagi hari sampai sekarang"
Mendengar perkataan teman satu
kelasnya andra terdiam terlihat ekspresi di wajahnya sedikit bingung melihat
itu aku menjadi kasian juga ingin sekali mengeluarkan kata-kata di kepalaku
tetapi rasanya sulit sekali, terdengar semakin banyak pertanyaan yang di
pertanyakan ke andra membuatnya terlihat semakin tertekan juga. Akhirnya aku
mengeluarkan suaraku yang jarang sekali berinteraksi dengan teman satu kelasku
sendiri "sudahlah kalau kalian tidak puas atau merasa bingung kenapa
kalian tidak langsung ke ruang guru dan menanyakanya dari pada hanya berdebat
tidak jelas dan saling menghina satu sama lain" ketika aku selesai
berbicara seperti itu seisi ruangan kelas melihat ke arahku
Membuatku menjadi bingung harus
berekspresi seperti apa tiba-tiba suara diana memecahkan keheningan sementara
itu "benar juga yang di katakan ivan kalau begitu bagaimana ketua kelas atau
andra yang menanyakan hal tersebut ke ruangan guru", mendengar perkataan
diana semua seakan mengangguk tanda setuju akhirnya andra dan ketua kelas kami
keluar kelas untuk menuju ruangan guru sedangkan situasi di dalam kelas meski
tenang, tetapi beberapa murid saling berbisik-bisik sambil melihat ke arahku
bagiku mungkin itu tidaklah aneh karena aku jarang berbicara seperti itu dan
baru kali ini aku mengatakan sesuatu hal selain pelajaran pada teman satu
kelasku
Di mejanya diana tersenyum sambil
mengetik sesuatu di smartphonenya, smartphone di sakuku bergetar dan aku
mengambilnya terlihat sebuah pesan masuk dari diana rupanya "kata-katamu
membuat situasi bisa tenang kenapa dari dulu kalau ada hal seperti ini di kelas
kamu hanya diam seakan tidak mengetahuinya?", melihat pesan itu aku hanya
terdiam kemudian melihat ke arah diana yang sedang mengobrol bersama teman
perempuanya di dekat bangkunya sambil sesekali melihat ke arahku
Setelah 10 menit berlalu andra dan
ketua kelas yang pergi ke ruang guru akhirnya mereka berdua kembali membawa
sebuah berita, andra berbicara di depan kelas "jam 11 wali kelas akan
datang ke sini untuk memberikan surat berisi hasil ujian kita jadi bersabarlah
teman-teman" setelah mengatakan itu andra dan ketua kelas duduk di bangkunya
masing-masing tetapi sebelum andra duduk di bangkunya dia menghampiriku samibl
berkata "terima kasih ivan" sambil menepuk pundak kananku dan
berjalan ke bangkunya
10 menit berjalan dengan lambat hingga
seorang guru perempuan berparas cantik dengan rambut hitam di potong sebahu
terlihat di pintu kelas, suasana yang tadi ramai di dalam kelas berubah
seketika menjadi hening "baiklah aku akan memberikan hasil ujian nasional
kalian berdasarkan nomer absen jadi bersabarlah dan tenang" kata ibu guru.
Satu per satu nama murid di panggil maju ke depan dan d berikan amplop berwarna
putih setelah menerimanya mereka kembali ke bangku masing-masing
"baiklah kalian sudah menerima
amplopnya kan silahkan di buka ya" ibu guru berbicara dengan wajah serius,
aku mensobek pinggiran amplop di tanganku dan mengambil sebuah kertas yang di
lipat di dalamnya, jantungku terasa berdetak dengan cepat ketika mengambil
kertas itu, ku buka kertas hasil ujian nasional ini dengan penuh rasa yang
tidak dapat di gambarkan. Terdapat tulisan nama lengkap ku dan kata-kata yang
ingin aku baca "LULUS" berada di bagian paling bawah kertas itu
Terdengar suara sorak bahagia dari
seluruh murid di kelas ini hampir bersamaan termasuk diriku sendiri melihat
hasil yang sangat kami inginkan, setelah melihat hasil itu aku langsung
mengirim pesan kepada hikari san bahwa aku telah lulus dari ujian nasional dan
tidak lama kemudian hikari san mengirim pesan balasan yang mengajakku untuk
merayakannya di taman tempat kami biasa bertemu sepulang sekolah
"hei ivan kamu nanti ada acara
kami semua akan merayakan pesta kelulusan di cafe dekat sekolah bagaimana kamu
ikut?" diana terdengar menanyaiku dengan raut wajah bahagia "hmm maaf
sepertinya aku tidak bisa datang" jawabku membalas pertanyaanya "ow
ya sudah kalau begitu, aku duluan ya"diana berkata dengan raut wajah
sedikit sedih dan langsung meninggalkan bangku tempatku duduk saat ini
Sebelum kami meninggalkan ruangan
kelas untuk pulang setelah mendapatkan hasil ujian nasional ibu guru wali kelas
kembali datang ke kelas dan memberitahukan bahwa 2 minggu dari sekarang akan
ada wisuda kelulusan kami jadi sampe selesai wisuda kami di larang tidak masuk
sekolah dan juga bahwa dalam minggu ini akan di adakan pentas seni tahunan
merayakan ulang tahun sekolah, aku sebenarnya tidak terlalu memperdulikan hal
itu yang ada di benakku saat ini hanya datang ke taman memberitahukan hasil ini
kepada hikari san secara langsung hanya itu saja tidak ada yang lain
Aku meninggalkan ruang kelas hanya
sendirian karena semua teman satu kelasku akan melaksanakan pesta kelulusan di
sebuah cafe, melewati semua lorong kelas 12 nampak semua murid sedang bahagia
'mungkin semua lulus ujian nasional' kataku dalam hati sambil berjalan melewati
ruangan guru dan gerbang sekolah yang masih belum terlalu ramai murid pulang.
Bus yang aku tunggu datang dengan penumpang yang tidak terlalu ramai,
perjalanan siang hari yang cerah ini pun tidak terlalu macet sehingga bus tiba
di halte yang biasanya aku turuni ketika ke taman dengan waktu yang cepat, berjalan
dengan cepat dan semakin cepat bahkan lama kelamaan seperti orang yang sedang
berlari aku menuju taman itu dengan semangat, aku memasuki wilayah taman yang
sepi dan langsung menuju tempat biasanya aku duduk
Hikari san sudah menungguku rupanya di
tempat itu "hai ivan kun selamat ya"ucapnya ketika aku baru saja
sampai dengan nafas menggebu karena habis berlari "terimakasih hikari san
ini juga berkat doamu" jawabku masih sedikit berat, "ya sudah duduk
dulu" suruhnya kepadaku tanpa berpikir lagi aku langsung duduk di samping
hikari san. Hari ini taman masih sepi pengunjung udara masih tetap sama panas
hanya saja perasaan senang di dalam hati ini sangat luar biasa sekali bukan
karena aku lulus ujian tetapi karena hikari san juga mau menungguku di sini
"oia hikari san tadi kamu bilang
akan merayakan kelulusanku di sini jadi merayakan seperti apa itu?"
tanyaku dengan semangat, di bawah kursi nampak sebuah tas yang dari aku datang
ke sini sudah berada di sana cuman aku tidak mengerti apa isi di dalamnya "sabar
ya" hikari san berkata menenangkanku sambil mengambil tas di bawahnya dan
membukanya. "ini" dia berkata sambil mengambil sebuah kotak persegi
berwarna hitam dengan hiasan motif bunga sakura di atasnya dan menyerahkan
kepadaku "apa ini hikari san?" tanyaku penasaran, "buka
sendiri" jawabnya sambil tersenyum
"wah cantik sekali isi bekal
makanan ini" kata-kataku dengan tatapan takjub melihat isi makanan yang di
bentuk sedemikian rupa dan terdapat tulisan "selamat" di atasnya yang
berwarna hijau seperti lumut, "coba di makan ya ivan kun tapi maaf kalau
rasanya tidak enak" hikari san berkata dengan sedikit malu, aku yang tidak
terbiasa dengan sumpit memilih mengambil sendok dan memakan bekal itu 'ini enak
sekali belum pernah aku merasakan makanan seenak ini apa lagi buatan seorang
perempuan yang hanya untukku' kataku dalam hati dengan sedikit terharu
"jadi bagaimana ivan kun
rasanya" tanya hikari san dengan wajah penasaran , "hmm enak banget
baru pertama kali aku makan masakan seenak ini hikari san" jawabku jujur,
"terima kasih" katanya dengan wajah tersenyum yang membuatnya semakin
cantik. Waktu berjalan dengan cepat siang itu kami mengobrol berbagai macam hal
ke sana dan kemari hingga matahari mulai terbenam. "oia ivan kun ini satu
lagi hadiahku untukmu" kata hikari san sambil menyerahkan sebuah buku
kepadaku, ketika aku melihatnya ternyata itu adalah sebuah buku novel dari
pengarang terkenal
"bukannya buku novel ini mahal
hikari san"tanyaku kepadanya "tidak apa-apa jangan pikirkan
harganya"jawabnya "baiklah kalau begitu, aku juga akan memberi sebuah
hadiah untuk hikari san" kataku dengan semangat "hadiah apa itu ivan
kun?" hikari san nampak penasaran, "ada deh mau tau aja"jawabku
sambil menjulurkan lidah "dasar pelit" rengeknya manja yang semakin
membuatnya cantik
Hari pertama persiapan ulang tahun
sekolah, nampak wajah-wajah murid kelas 12 begitu semangat dan bahagia karena
berita kelulusan kemarin, aku memasuki ruang kelas yang nampak begitu sibuk
mempersiapkan berbagai macam pakaian dan lain sebagainya "hei ivan kenapa
kamu diam saja di pintu masuk sini bantu kami" seorang laki-laki
menyuruhku membantu mereka, aku dengan malas datang dan membantu berbagai macam
hal di kelas ini, lama kelamaan akhirnya aku tau kelas ini sedang mempersiapkan
sebuah pentas drama untuk acara ulang tahun sekolah
Terlihat andra memerankan seorang
kesatria sedangkan diana terlihat sedang berlatih menghafal naskah dengan
serius di bangku tempat aku biasa duduk "permisi diana ini tempat
dudukku" kataku memohon, "untuk beberapa hari ini bangku ini bukan
milikmu lagi"jawabnya tanpa melihat ke arahku sedikitpun, akhirnya aku
duduk di bangku depan tempat diana duduk dan menaruh tas punggungku, karena
semua sedang sibuk dan aku yang tidak melakukan apapun akhirnya aku mengirim pesan
kepada hikari san yang ternyata di balasnya karena dia sedang bersantai di
rumah
Lumayan lama aku sibuk dengan
smartphoneku hingga aku tidak memperdulikan apa yang terjadi di ruangan ini,
tiba-tiba saja suasana menjadi sepi dan membuat rasa penasaranku muncul untuk
melihatnya "lho kemana semuanya" tanyanku kebingungan "kamu
terlalu asik bermain smartphone sih makanya tidak menghiraukan teman-teman yang
sibuk" jawab diana yang masih fokus dengan naskah di tangannya. Setelah
berbicara seperti ini suasana menjadi hening kembali di ruangan ini membuatku
merasa tidak nyaman dan memaksa diriku untuk sekedar bertanya kepada diana
"anu kamu memerankan apa di pentas nanti?
Mendengar pertanyaanku diana lalu
menaruh kertas naskah itu dan berbicara "coba kamu tebak", aku
langsung merubah ekspresiku dengan kesal "kamu ini di tanya balas
nanya" jawabku sebal "hahahahaha aku memerankan seorang putri yang
terpenjara dan di selamatkan seorang pangeran, bagaimana? romantis kan?"
diana bertanya kepadaku dengan tersenyum "ya lumayanlah, tetapi siapa yang
memerankan pangeranya?" tanyaku penasaran "andra" jawab diana
dengan lemas, "wah cocok sekali kalian bagai pasangan ideal memang"
aku berkata dengan santai tetapi ekspresi diana semakin terlihat menyeramkan
mendengar kata-kataku barusan dan langsung berdiri dari bangku kemudian
berjalan keluar kelas tanpa sepata kata keluar dari mulutnya
Hari kedua persiapan ulang tahun
sekolah, semua masih sibuk seperti kemarin hanya saja hari ini mereka mulai
mencoba sedikit adegan percakapan termasuk diana dan andra, ketika melihatku
duduk melihat mereka berlatih ntah kenapa diana terlihat sedikit kaku gerak
tubuhnya aku sendiri juga tidak memahami kenapa dan akhirnya aku hanya membaca
novel yang di berikan oleh hikari san kemarin, selama aku membaca novel
sayup-sayup terdengar suara berbisik dari beberapa orang di dalam kelas ini
"hei kamu tahu tidak beberapa waktu lalu diana dan ivan jalan bareng d
mall" "masak sih?" "iya iya aku dengar mereka jalan berdua
saja di mall sepulang sekolah" "mana mungkin diana jalan bersama
cowok penyendiri semacam ivan"
Dan berbagai macam suara terdengar
berbisik dari mulut ke mulut, aku sebenarnya cuek menanggapi hal itu dengan
membaca novel tetapi diana berbeda, dia terdengar berkata dengan suara lantang
"lalu kenapa? apa hal itu menjadi masalah untukmu?". Mendengar
perkataan diana beberapa murid perempuan yang tadi sedang bergosip membalasnya
"tidak ada hanya saja bagi kami itu hal yang lucu" "iya benar
lihat lah ivan dia pendiam penyendiri apa kerennya laki-laki seperti itu"
mereka saling berbicara bergantian membalas perkataan dari diana "lebih
baik dia dari pada kalian" diana menjawab kembali dengan suara yang
lantang
Aku yang melihat ekspresi diana yang
belum pernah aku lihat selama ini akhirnya aku ikut juga dalam masalah itu aku
bangkit dari kursiku dan menghampiri mereka, saat itu aku sadar semua mata
orang di kelas ini tertuju pada kami "sudahlah aku tidak mau membuang
waktuku yang berharga dengan menanggapi gosip murahan kalian, kalau aku jadi
kalian aku pasti malu, karena apa ? karena kalian hanya bisa membicarakan
kejelekan orang lain di belakangnya dengan sembunyi-sembunyi, lihatlah
sekelilingmu siapa dari hasil pembicaraan yang tidak berguna ini yang akan di
anggap menjadi pecundang" kataku dengan sedikit keras dan hasilnya suasana
di kelas menjadi hening untuk beberapa saat tetapi diana yang melihatku
membantunya malah pergi keluar dari ruangan ini
Setiap sepulang sekolah meski saat
situasi sibuk seperti ini aku tidak pernah melupakan datang ke taman itu untuk
bertemu hikari san meski hanya mengobrol atau duduk diam sambil mengerjakan
novelku, hari ini aku menceritakan kejadian yang terjadi tadi di sekolah kepada
hikari san, mendengar perkataanku dia terdiam beberapa saat seperti sedang
memikirkan sesuatu "mungkin dia menyukaimu ivan kun" hikari san
berbicara dengan suara santai tetapi tatapanya terlihat seperti berbeda, aku
yang mendengar perkataan hikari san hanya terdiam sambil berpikir 'mana
mungkin? diana lebih cocok dengan andra, kalau denganku mana cocok'.
"ada-ada saja kamu hikari
san" jawabku dengan nada yang ragu, setelah pembicaraan itu sekarang
hikari san lah yang bercerita tentang seseorang yang membuatnya beberapa bulan
ini merasa sedih dan bersalah "aku sebenarnya juga sedang mengalami masalah
pribadi dengan seseorang yang sama-sama mahasiswa jepang yang berada di
sini" dia bercerita panjang lebar tentang masalahnya, aku yang mendengar
hikari san bercerita hanya diam dan menghiburnya serta memberi sedikit saran
meski aku sendiri juga tidak tahu apakah saran itu benar atau sebaliknya
Hari ketiga persiapan ulang tahun
sekolah, hari itu diana tidak nampak di kelas membuat semua orang di kelas
menjadi bingung dan sepertinya para gerombolan yang kemarin menggoda diana yang
terkena dampaknya, mereka di marahi hampir seluruh orang di kelas tanpa
terkecuali dan andra lah yang paling marah karena masalah itu, sedangkan aku?
aku? aku hanya membaca buku novel yang di berikan hikari san beberapa waktu
yang lalu. Suara ramai berlangsung lama tiba-tiba andra memanggilku "ivan
kesini sebentar"
Aku bangkit dari kursi dengan malas
sambil menutup buku novelku dan membawanya serta ke tempat andra dan para
gerombolan perempuan itu "ngomong-ngomong apa yang di katakan mereka
benar?" andra bertanya dengan memasang wajah serius, "kamu mau
jawaban jujur atau bohong?" tanyaku sehingga membuat andra emosi dan
membentakku "tentu saja jujur". "merepotkan saja, ya baiklah
memang benar beberapa waktu yang lalu aku pergi ke mall dan jalan-jalan dengan
diana sepulang sekolah dan yang memintaku adalah diana akupun juga tidak
mengerti kenapa dia melakukannya, sudah cukup?" aku menjelaskan apa yang
sebenarnya kepada mereka, mendengar perkataanku para gerombolan itu sedikit
terkejut termasuk andra juga
"hei-hei memang aneh ya?"
aku bertanya kembali membuat mereka akhirnya sadar, "tidak ada" jawab
andra singkat sambil berjalan menjauh "sudah? begitu saja? dasar"
jawabku sebal melihat respond andra yang berubah. Bel tanda pulang sekolah
berbunyi aku dan semua murid keluar dari kelas masing-masing seperti biasa aku
berjalan menuju gerbang untuk pergi ke taman seperti biasanya tetapi di depan
gerbang andra berdiri seperti menunggu seseorang, aku seperti biasa hanya
melewatinya tanpa memberi salam atau sesuatu sejenisnya
Tiba-tiba andra memegang pundak kiriku
dari belakang dan berkata "bisa ikut aku sebentar ivan?" melihat
perkataanya yang sedikit serius itu, akhirnya dengan terpaksa aku mengikutinya
dan mengirim pesan kepada hikari san bahwa aku akan datang sedikit telat karena
ada suatu hal yang harus di kerjakan di sekolah , untung saja hikari san
seperti memahami pesanku. kami berdua berjalan menuju tempat paling ujung di
belakang sekolah "jika diana menyukaimu bagaimana ivan?" tanya andra
dengan serius "aku tidak mengerti maksud pembicaraanmu andra" jawabku
yang memang tidak paham dengan maksudnya "kamu ini sebenarnya polos apa
pura-pura polos huh?" andra menjawab dengan emosi sambil memegang kerah
seragamku "tttuuunngggguuu ndra tenang-tenang" aku berbicara dengan
sedikit takut juga melihat respondnya dan akhirnya dia melepas kerahku dan
sedikit mendorongku kebelakang
"sebenarnya aku sendiri tidak
tahu harus menjawab apa" aku berkata dengan sedikit bingung 'ha diana
menyukaiku? mana mungkin jangan bercanda' aku menanyai diriku sendiri,
"kalau memang itu yang terjadi bagaimana van? apa kamu akan
menerimanya?", 'menerima?aku tidak mengerti akan menerimannya atau tidak'
aku hanya dapat berbicara di pikiranku sendiri dan hanya memperlihatkan
ekspresi bingung di wajahku, seperti melihat ekspresiku andra akhirnya menyerah
menanyaiku dan membiarkan aku pulang
Selama di bus aku merasa bingung
dengan apa yang terjadi beberapa hari ini 'diana menyukaiku? itu hanya candaan
belaka pasti? pasti mereka hanya berencana menipuku agar aku merasa keren atau
sejenisnya dan akhirnya mereka keluar dan memberi tahu yang sebenarnya. Ya
pasti seperti itu' aku berkata dalam hati dengan kebingungan. Ketika di
tamanpun pikiranku melayang kemana-mana hingga hampir tidak ada ide untuk
menulis apapun, seperti melihatku kebingungan hikari san bertanya kepadaku
"sepertinya terjadi sesuatu ya ivan kun?"
"iya hikari san tadi di sekolah
terjadi suatu masalah yang tidak dapat aku pikirkan sendiri" jawabku
lemas, "kalau begitu ceritakanlah padaku mungkin aku bisa membantumu"
hikari san berkata sambil menampakkan senyum malaikatnya, "baiklah jadi
begini seperti yang kemarin sebenarnya masalahnya, soal teman perempuan satu
kelasku itu hikari san hari ini dia tidak masuk sekolah mungkin karena masalah
kemarin nah beberapa orang menanyaiku soal kebenaran gosip dan . . . ."
aku seperti tidak bisa melanjutkan kata-kataku di depan hikari san, aku tidak
mau dia salah sangkah lagi karena ini bahkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa
aku berpikir seperti itu ketika di depan hikari san
"dan apa ivan kun?" tanya
hikari san, "dan jika dia menyukaiku apa yang aku lakukan" aku
berkata seperti itu seakan di siang hari yang cerah dan panas ini tiba-tiba
kilat datang menyambar dan suaranya seperti terdengar bergemuruh dengan keras,
setelah aku mengatakan hal itu dan melihat hikari san wajahnya sepertinya juga
bingung harus mengatakan apa hingga aku berbicara lagi "seharusnya aku
tidak menceritakan ini kepada hikari san", "tidak apa-apa kok,
menurutku jika kamu juga menyukainya kenapa tidak bilang sejujurnya saja?"
hikari san berkata seperti memaksakan dirinya
"mana mungkin hikari san aku bisa
menerimanya jika aku sepertinya menyukai orang lain" tiba-tiba aku
berbicara secara respond menjawab pertanyaan hikari san "seseorang?"
dia bertanya dengan nada penasaran, mendengar itu aku hanya bisa diam saja dan
berbicara dalam pikiranku sendiri 'iya hikari san mungkin aku menyukaimu
tetapi. . . . tetapi aku tidak bisa mengatakannya
hari keempat persiapan ulang tahun
sekolah, pagi itu ternyata diana sudah masuk sekolah tetapi, tetapi ketika aku
melihat wajahnya ekspresinya tidak bisa terlihat seperti biasanya olehku, hari
itu kami semua berlatih di aula sekolah untuk acara yang tinggal 2 hari lagi.
Meski diana kemarin tidak masuk sekolah sepertinya dia sudah bisa menghafal
semua kata-kata dalam naskah itu dan aku yang hanya seorang kru di belakang
layar tidak terlalu sibuk seperti mereka yang akan berada di atas panggung,
andra dan diana sedang beradu akting di atas panggung aula aku dapat melihat
mereka dari tempat penonton sambil berjongkok dan bersandar di tembok untuk
membaca buku novelku
Latihan dari pagi sampai siang
benar-benar membuat kelelahan termasuk aku juga yang tidak terlalu banyak kerja
ini karena udara hari ini juga tidak kalah panasnya, aku melihat ke langit dari
jendela di aula dan nampak sedikit awan hitam muncul di angkasa "bukanya
ini musim kemarau tapi kenapa awan tanda akan turun hujan sudah datang"
kataku sebal, ketika bel istirahat berbunyi semua pergi ke kantin untuk membeli
makanan atau minuman sedangkan aku masih berada di dalam aula sambil
berkeliling melihat-lihat isi aula seperti orang tidak punya kerjaan ya memang
aku tidak punya kerjaan siang ini
Berjalan-jalan dari tempat penonton
sampai ke belakang panggung bahkan sampai berputar-putar di luar aula hingga
aku melihat andra menarik tangan diana menuju tempat yang sedikit tidak
terlihat di belakang aula, aku seperti penguntit yang penasaran akhirnya
mengikuti mereka pelan-pelan agar tidak ketahuan. Di tempat itu andra memegang
tangan diana yang terlihat sedikit kebingungan dan berkata "diana aku
menyukai kamu, maukah kamu menerimaku sebagai pacarmu?"
'pacar? suka? ow berarti selama ini
andra menyukai diana, ya memang mereka pasangan yang cocok sih jadi aku tidak
terlalu kaget juga' aku berkata dalam pikiranku, diana yang di tanyai andra
seperti itu sedikit kebingungan dan berkata "mmm. . . maaf andra aku tidak
bisa menerimamu" seketika itu andra melepaskan pegangan tanganya dan
mundur beberapa langkah dan bertanya "kenapa? apa karena ivan? kamu
menyukai ivan?" terdengar dari tempatku mengintip suara andra berat dan
intonasinya sedikit tinggi ketika menyebut namaku, diana hanya menjawab dengan
anggukan kepala membuat andra akhirnya terjatuh di tanah dengan lemas sepertinya
sedangkan aku yang mendengar dan melihatnya hanya dapat terdiam seribu bahasa
'yang benar? kenapa aku? bukanya orang yang di depanmu itu lebih layak dari
pada aku' terlintas kata-kata itu di pikiranku
Terdengar bel tanda selesai istirahat
berbunyi aku langsung berlari kembali ke aula yang masih sepi dengan orang
duluan dan pura-pura membaca novel seperti tadi sedangkan andra dan diana
datang beberapa menit setelahnya, ketika andra melihatku terlihat di wajahnya
sedikit emosi sedangkan diana tidak berani memandangiku, hari ini jam 13:00
hujan deras mengguyur kota ini ternyata musim kemarau tidak selamanya cerah dan
panas tetapi masih datang saja kesedihan dan udara dingin yang aneh ini
hari terakhir persiapan ulang tahun
sekolah, hari ini adalah hari jumat hari terakhir kami semua untuk persiapan
ulang tahun sekolah semua murid di sekolah hari ini di bebaskan dari tugas
sekolah jadi mereka dapat melakukan persiapan dan mulai menata kelas, panggung
di lapangan bola dan tempat berjualan di sekitarnya, sedangkan kami sedang
mempersiapkan untuk drama di aula semua orang sibuk hari ini meski udara cerah
dan panas tetapi semangat mereka sepertinya semakin membara
Para murid yang bermain drama sedang
bersiap-siap memakai pakaiannya masing-masing di ruang ganti sedangkan aku dan
yang lainya memasang hiasan di panggung aula, setelah melakukan dekorasi yang
cukup lama akhirnya kami selesai dan akhirnya semua murid yang bermain drama
muncul di panggung setelah ketua kelas yang termasuk ketua untuk acara kami ini
datang dan memberitahu berbagai macam hal akhirnya latihan sesungguhnya di
mulai. Nampak semuanya bisa menikmati dan menghayati peran mereka, aku yang
hanya berdiri sambil melihat mereka berlatih malah sibuk mengirim dan membalas
pesan dari hikari san
Setelah ceritanya telah selesai ketua
kelas kami datang dan memberi sedikit arahan kepada mereka semua, bel tanda
istirahat berbunyi semua orang setelah selesai berganti pakaian seragam
akhirnya menuju kantin sekolah sedangkan aku baru saja akan ke ruang ganti dan
melihat diana sedang duduk terdiam di sana, sedikit bingung akan berbicara atau
mengacuhkan dia saja akhirnya aku memilih menjadi diriku yang acuh kepada orang
lain dan berjalan melewati tempat diana duduk, ketika aku berada di depannya
terasa tanganya yang mungil dan halus memegang pergelangan tangan kananku untuk
menahanku berhenti melangkah
Aku akhirnya berhenti dan melihat ke
arah wajah diana yang terlihat bingung, aku memberanikan diriku seperti bukan
biasanya dan bertanya "ada apa diana?" mendengarku bertanya dia hanya
melihatku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat selama ini, kami saling
diam dalam sunyi aula ini hanya saling melihat tanpa bergerak atau melakukan
apapun, saling berkontak mata dengan mata hingga sebuah suara batuk mengagetkan
kami berdua "uhuk" secara respond kami melihat ke arah pintu masuk
belakang panggung dan melihat seseorang sedang berdiri dan melihat ke arah kami
"andra" kataku ketika menyadari sosok itu adalah andra, melihat ada
seseorang diana melepaskan pegangnya di tanganku dan menundukkan kepalanya
Sepertinya dia melihat kami yang
saling terdiam tadi ekspresinya berubah drastis tidak seperti kemarin hari ini
wajahnya terlihat tenang, "maaf menganggu hanya saja dompetku ketinggalan
di ruang ganti" andra berkata sambil berjalan menuju ruang ganti yang
melewati tempat kami berada sekarang, hari ini situasi di belakang panggung
semakin aneh saja sepertinya, aku mengirimi pesan kepada hikari san bahwa hari
ini aku tidak dapat datang ke taman karena ada persiapan sampai sore hari untuk
acara besuk dan memberitahukanya besuk orang di luar sekolah dapat datang
melihat berbagai acara yang kami adakan, hikari san membalas bahwa dia akan
datang besuk untuk melihat drama kelasku yang akan di adakan setelah jam
istirahat
Hari ini seluruh murid sepertinya
bekerja keras untuk acara besuk semua murid baru pulang dari sekolah sudah sore
hari bahkan kelas kami pun baru saja selesai mempersiapkan segalanya di aula
ini sekitar jam 16:00, sebenarnya kelas yang menampilkan drama bukan kelas kami
saja maka dari itulah persiapannya baru selesai sore hari dan setelah rapat
sebentar dengan seluruh tim akhirnya kami dapat pulang untuk beristirahat
karena hari esok akan lebih berat dari pada hari ini
Hari ulang tahun sekolah hari ini akan
di selenggarakan, pagi-pagi sekali sekolah ini sudah ramai oleh murid yang
mempersiapkan diri untuk berbagai macam acara, untuk orang dari luar sekolah
baru dapat masuk setelah jam 9 pagi setelah acara pembukaan yang di hadiri
kepala sekolah dan seluruh murid selesai barulah pagar gerbang sekolah di buka.
Aku yang masih berada di kelas sendirian mengirim pesan kepada hikari san bahwa
dia dapat datang ke sini setelah jam 9 pagi, entah kenapa pikiranku hari ini
terasa gelisah sekali tetapi aku berusaha memendamnya dan akhirnya berjalan
keluar ruangan kelas menuju aula
Di belakang panggung sudah nampak
murid dari kelas lain sedang bersiap akan naik ke panggung aku yang baru sadar
kelas kami akan memulai pentas setelah istirahat akhirnya keluar dari pintu
belakang panggung aula dan menuju tempat penonton untuk melihat drama itu
tetapi selama perjalanan atau bahkan ketika duduk melihat pentas drama dari
kelas lain tidak nampak murid dari kelasku sendiri, aku mencoba mengirim pesan
kepada diana atau ketua kelas tetapi tidak mendapat balasan apapun "ada
apa ini ya kemana semua saat seperti ini" jawabku sedikit kesal
Jujur saja aku tidak terlalu paham
dengan sesuatu seperti drama yang berada di panggung depanku saat ini 'lebih
mudah mencerna sebuah cerita anime memang dari pada cerita drama klasik seperti
sekarang' kataku di pikiranku sendiri, pentas drama ini sudah memakan waktu 2
jam tetapi belum selesai juga "jam 11 apa masih lama ya" jawabku
sambil menguap karena mengantuk dan bosan 'hikari san datang jam berapa ya
kira-kira' aku bertanya pada diriku sendiri
Akhirnya jam 11:30 pentas pun selesai
semua orang bertepuk tangan setelah melihatnya sedangkan aku? aku tidak paham
sama sekali dan hanya ikut-ikutan bertepuk tangan saja lalu pergi ke luar aula
hingga bertemu dengan andra "hei andra" panggilku 'tetapi tumben
sekali aku memanggil nama orang seperti ini' pikirku sendiri dengan bingung
tapi terserahlah, andra yang mendengar panggilanku akhirnya berbalik arah dan
melihatku "ivan kamu kemana saja? kami semua tadi sedang
bersiap-siap" andra berkata dengan sedikit marah "ah aku tadi barusan
lihat pentas yang di mainkan kelas lain, memang kalian dimana tadi aku mencari
sampai di aula kalian tidak ada" kataku
"soal itu nanti saja sekarang ayo
kembali ke kelas dan bersiap-siap membawa peralatan kita untuk drama nanti ke
aula" andra berkata kepadaku sambil kembali berjalan, sesampainya di
ruangan kelas nampak semua orang sedang sibuk dan ketika melihat andra dan aku
datang semua langsung berteriak "nah ini dia kemana saja kamu"
"hei ivan bantu sini cepat" dan berbagai macam suara lainnya, aku
hanya dapat berkata "maaf" dan berjalan menghampiri mereka
Selama membantu di kelas untuk
mempersiapkan peralatan bahkan sampai di belakang panggung aula aku tidak
melihat diana dan bertanya kepada teman yang lain tetapi semua menjawab tidak
melihat, jam 12:30 kami telah mempersiapkan semuanya untuk pentas setelah
istirahat aku mencoba mengirim pesan kepada hikari san tetapi tetap saja tidak
ada balasan sama sekali "tumben sekali hikari san tidak membalas
pesanku" kataku pelan. Ketua kelas memberi kami selebaran kertas berisi
jadwal dan tugas masing-masing nanti dan aku melihat namaku di jadwal terakhir
untuk maju dan memberi salam penutup dari kelas kami
"hei ketua kelas apa ini?" aku
bertanya dengan sedikit bingung, "ow itu kamu nanti yang maju untuk
memberi salam penutup dari kelas kita" katanya santai "aku bahkan
tidak mengetauhinya" aku berbicara dengan suara depresi "tenang saja
ivan, ini ambil dan hafallah untuk nanti" ketua kelas berkata sambil
memberikan sepucuk kertas berisi kata-kata penutup salam dan aku harus
menghafalnya dari sekarang sampai nanti sebelum pentas selesai
Pentas drama kelas kami akhirnya di
mulai sekitar jam 13:00 semua pemain nampak silih berganti keluar dan masuk
dari belakang panggung, sedangkan aku masih menghafal kata penutup untuk nanti
dan hanya mengintip dari belakang panggung, di sana nampak diana sedang beradu
akting dengan andra "lho diana kapan datangnya" kataku penasaran
sambil masih memegang kertas yang tadi di berikan ketua kelas
Aku tetap saja tidak memahami drama
kelasku sendiri cahaya penerangan hanya menyorot ke arah panggung sedangkan di
tempat penonton menjadi gelap, tiba-tiba nada pesan masuk di smartphoneku
berbunyi "siapa ini ya" aku bertanya-tanya sambil membuka kunci di
layarnya, ternyata pesan dari hikari san yang sekarang sedang berada di aula
juga untuk melihat drama kelasku, tanpa sadar aku bersyukur dia mau datang
meski aku sendiri tidak memaikan peran apapun
Pentas drama selama 2 jam akhirnya
selesai dengan sang putri yang menolak cinta sang kesatria, "sekarang jam
15:00 lumayan lama juga" kataku menggerutu dan menjadi deg-degan karena
sebentar lagi bagianku datang, setelah adegan barusan semua tim maju ke depan
termasuk aku juga cahaya lampu masih saja menyorot ke arah panggung ini saja,
aku memegang microphone di tanganku dengan sedikit gemetar 'baru pertama kali
aku berada di panggung ini dengan di lihat banyak orang termausk hikari san
juga' kataku dalam hati sambil cemas
"mmmm" aku sedikit sulit
membuka mulutku lebih banyak lagi hingga tiba-tiba diana memanggil namaku
menggunakan microphone di tanganya "ivan", mendengar panggilanya aku
kemudian melihat ke arah diana berdiri di sebelah kananku yang jarak kami
sekitar 2 meter saja mengenakan gaun seperti seorang putri semakin
memperlihatkan kecantikannya saja. Aku masih terdiam di sana melihat diana
tetapi dia akhirnya meneruskan kata-katanya barusan "aku . . ."
mendengar kata aku membuat jantungku berdegub kencang 'jangan-jangan ini'
kataku sendiri dalam hati
"aku sebenarnya sudah menyukaimu
dari pertama kali kita bertemu di kelas 12 entah kenapa pandangan dan pikiranku
tidak dapat berpaling darimu, selama ini. . . . selama ini aku memendam
perasaan ini hanya berpura-pura diam saja dan sedikit kasar kepadamu tetapi itu
semua. . . itu semua agar kamu tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya . .
." diana berhenti berkata sambil menundukkan kepalanya sedangkan aku hanya
dapat terdiam, saat ini suasana di dalam aula menjadi benar-benar hening
seperti hanya ada kami berdua saja di ruangan ini
Diana melanjutkan kata-katanya kembali
sambil melihat ke arahku " sebenarnya aku menyukaimu . . . . sangat
menyukaimu. . . jadi. . .maukah kamu menjadi pacarku ivan" mendengar kata
terakhir diana 'menjadi pacarku? maksudnya aku menjadi pacar diana? apa ini
namanya aku sedang di tembak seseorang' segala pertanyaan berkecamuk di
kepalaku hingga tanpa sadar kertas di tanganku terlepas dan entah jatuh kemana.
Saat ini aku bingung memikirkan berbagai macam hal 'di sini ada hikari san dan
dia pasti sedang melihatku saat ini bagaimana ini, tapi kalau aku menerimanya.
. . tapi kalau menerimanya bagaimana, aduh aku jadi bingung sendiri, adegan ini
adegan ini seperti di novel-novel atau anime yang biasanya aku lihat' segala
macam pikiran terus berkecamuk di kepalaku hingga akhirnya aku mendekatkan
microphone di tanganku
"terima kasih diana kamu sudah
mau menyukaiku yang penyendiri ini, aku sangat bahagia ketika kamu mengatakanya
seperti ini . . aku sendiri bahkan tidak dapat mengekspresikan seperti apa
kebahagiaan ini tapi . . ." aku menghentikan kataku sebentar dan kembali
melanjutkannya "tapi aku minta maaf karena aku tidak bisa menerimamu
menjadi pacarku . . .", 'ya seperti ini lah seharusnya' aku meyakinkan
diriku sendiri, diana kembali bertanya kepadaku "kenapa ivan? katakan
alasannya kamu tidak bisa menerimaku apa aku kurang cantik?" saat ini
terlihat di wajah diana sebuah air mata yang turun sedikit demi sedikit dari
matanya yang indah aku hanya dapat berkata "bukan masalah kamu cantik atau
tidak, kamu adalah perempuan yang cantik menurutku tetapi aku tidak bisa
menerimamu karena aku . . . aku menyukai
seseorang"
Mendengar perkataanku barusan tangisan
di wajah diana seperti jatuh dengan deras tetapi terlihat dia seperti menahanya
dan kembali bertanya "siapakah dia? siapa perempuan itu ivan", aku
hanya bisa menjawab dengan nada yang lemas sekali saat itu "maaf diana aku
tidak dapat memberitahukanya kepadamu" setelah kata-kata itu air mata diana
jatuh dengan derasnya 'dia menangis apa aku sekejam itu' kataku sendiri, dia
menjatuhkan microphone di tanganya dan berlari dengan tangisan kesedihan,
berlari dan terus berlari hingga keluar aula. Semua orang menatapku termasuk
andra dia bahkan terlihat marah mendengar jawabaku tadi kepada diana tetapi
andra memilih mengejar diana
Setelah itu aku seperti tidak
mengingat apapun kejadian setelahnya yang jelas aku sudah duduk di bangkuku di
dalam kelas nampak wajah semua orang seperti marah karena respondku tadi di
aula, aku sudah tidak dapat berpikir apapun lagi saat itu bahkan andra diana
dan beberapa teman perempuan tidak nampak di dalam kelas "dasar pecundang
padahal itu tadi kesempatan emasmu" kata seorang teman kelasku, aku yang
mendengarnya hanya terdiam di mejaku seakan-akan pikiranku sudah tidak berada
di tubuhku sendiri
Hari ini seperti duniaku seakan-akan
runtuh bukan karena kata-kata penolakanku tetapi ketika melihat ekspresi diana
dan tangisanya di atas panggung tadi bahkan ketika dia lari keluar dari aula
yang dapat aku lakukan hanya, hanya diam berdiri tanpa dapat melakukan apapun
laki-laki macam apakah aku ini
Keesokan harinya atau lebih tepatnya
hari minggu aku hanya dapat tertidur di kamarku masih terlihat jelas di mataku
kejadian kemarin ketika melihat diana seperti itu, ingin sekali saat ini aku
menelponya dan meminta maaf tetapi apa daya aku tidak berani melakukanya bahkan
sejak itu hikari san juga tidak mengirimi aku pesan "sepertinya hari itu
aku menyakiti langsung 2 hati perempuan" kataku dengan lemas di dalam
kamar
Sebuah nada pesan terdengar di
telingaku, dengan malas aku mengambil smartphone yang berada tidak jauh dari
tempatku tidur sekarang "mungkin hanya pesan hinaan dari teman kelas atau
pesan marah dari andra yang masuk" kataku tetapi aku tetap saja mengambil
smartphoneku dan melihat sebuah nama yang tertera adalah "hikari
san". Dia menyuruhku sekarang untuk datang ke taman
Dari kejauhan nampak hikari san sedang
duduk menggunakan jaket berwarna merah
dengan celana panjang hitam, aku berjalan mendekatinya dan menyapanya
"halo hikari san" mendengar seseorang menyapanya dia melihatku dan
membalasnya "ya selamat datang ivan kun" sambil tersenyum, aku pun
duduk di sebelahnya dan bertanya "ada apa hikari san menyuruhku ke sini
pagi hari seperti ini", dia hanya diam mendengar aku bertanya kepadanya
kemudian hikari san membuka mulutnya "kenapa kamu kemarin menolaknya
menjadi pacarmu ivan kun" mendengar perkataanya membuat jantungku seakan
berhenting berdetak untuk sebentar dan berdetak kembali 'jadi benar hikari san
kemarin melihat diana menembakku'
"itu karena . . . " aku
sebenarnya tidak dapat meneruskan perkataanku karena aku tidak menemukan kata
yang tepat, tetapi tetap saja aku berusaha mengatakannya "aku menyukai
seseorang" setelah mengatakan itu hikari san kemudian menatapku dan
bertanya "siapa seseorang itu ivan kun? apa dia lebih cantik dari
perempuan yang kemarin menembakmu?", aku diam sebentar dan kembali
menjawab pertanyaan hikari san "mereka berdua sama-sama cantik, kecantikan
mereka berdua bagaikan bidadari yang turun dari langit hanya saja aku tidak
dapat berbohong kepada perasaanku sendiri dan menerima diana"
Setelah berkata seperti itu hikari san
nampak masih penasaran akan kata-kataku mungkin di pikirannya dia bertanya 'siapakah
perempuan yang di sukai ivan kun', seandainya aku dapat mengatakannya sekarang
bahwa aku menyukai hikari san tetapi aku masih saja tidak berani
mengutarakannya
Mengawali hari senin ini aku berangkat
ke sekolah dengan masih penuh rasa keraguan, di kepalaku masih banyak
pertanyaan salah satunya 'bagaimana jika aku bertemu diana nanti di kelas apa
yang harus aku lakukan', selama perjalanan di dalam bus bahkan berjalan di
gerbang masih saja perasaan ragu datang menghampiriku, langkah demi langkah semakin
terasa berat ketika mendekati ruang kelasku
Ketika memasuki kelas sepertinya
suasana menjadi tidak bersahabat semua mata tertuju kepadaku tidak jauh berbeda
keadaanya seperti sore hari kemarin ketika aku menolaknya hanya saja hari ini
tidak ada cibiran atau sejenisnya terdengar hanya tatapan mata yang seperti
menusukku, aku berjalan melewati bangku tempat diana duduk dia hanya diam
sambil membaca sebuah buku. Ketika melewatinya aku sebenarnya ingin sekali
meminta maaf soal kemarin hanya saja aku tidak tau harus berkata seperti apa
atau berekspresi seperti apa ketika di depanya maka dari itu aku hanya dapat
diam dan pura-pura cuek saja
Hanya saja entah kenapa kaki ini tidak
mau bergerak bahkan selangkahpun, aku akhirnya menyerah dan mengambil buku
novel dari dalam tas, baru pertama kali rasanya aku mengerjakan novelku di
kelas seperti ini tetapi seperti ada dorongan saja untuk mengerjakan di sini
jadi mau tidak mau aku pun membuka buku novelku dan mulai menulis Suasana hari
ini begitu aneh bagiku sebenarnya ada rasa ingin untuk datang ke tempat dia
duduk
Terdengar suara di dalam ruangan ini
semakin lama semakin sepi dan akhirnya membuat rasa penasaranku untuk melihat
sekeliling muncul dan benar saja kelas sudah hampir tidak ada penghuninya hanya
tinggal dua orang yang tersisa di sini yaitu adalah aku dan diana yang duduk di
bangku depan sedangkan aku berada di deretan belakang. Aku akhirnya berpikir
kembali untuk datang ke bangku diana duduk karena sekarang ruangan sudah sepi,
setelah berpikir cukup lama aku menaruh pulpen di atas buku novelku dan berdiri
dari bangkuku
Padahal jarak kami duduk tidak terlalu
jauh hanya saja seakan jarakku dan dia sekarang terlihat jauh sekali 'apa ini
namanya jika orang memiliki rasa bersalah' tanyaku dalam hati, setelah berjuang
akhirnya aku berdiri di samping diana duduk hanya saja dia tetap saja membaca
buku, aku yang masih diam di sampingnya sepertinya tidak dia hiraukan aku
akhirnya melihat buku yang dia baca 'bukanya sampul itu adalah buku yang ingin
aku pinjam dulu saat bertemu diana' kataku
Terlihat dia tidak membalik lembar
kertas buku itu dan hanya menatapnya saja sedari tadi, iseng-iseng aku ikutan
membaca salah satu barisnya "apa sebenarnya salahku? kenapa perasaan yang
selama ini aku pendam dan akhirnya aku utarakan padamu hanya berakhir seperti
ini, ketika aku mendengar jawabanmu kemarin seakan duniaku seperti hancur
menjadi berkeping-keping apa hal seperti ini membuatmu puas? membuatku terluka
seperti ini" melihat tulisan itu jantungku seperti berhenti berdetak
sebentar dan kemudian berdetak kembali dengan cepat
"hmm diana" aku memanggil
namanya dengan penuh keraguan, dia masih saja diam melihat buku di depannya
terasa suasana semakin membuatku tertekan melihat ekspresinya seperti ini, aku
sedikit membungkukkan tubuhku ke depan untuk melihat wajahnya 'dia menahan air
matanya' aku berkata dalam hati sambil kaget melihat diana yang menahan air
matanya, melihat itu secara otomatis tangan kananku bergerak ingin menyentuh
pundaknya
Sambil berkata "maafkan aku soal
kemarin diana", mendengar perkataanku itu diana langsung melihat ke arahku
sambil tangan kirinya memegang pergelangan tanganku yang tadi ingin menyentuh
pundaknya, "sakit" diana berkata dengan pelan dan terdengar lirih
"rasanya sakit di sini" dia meneruskan tanganya sambil tangan kananya
yang bebas menyentuh dadanya, "apa kamu tahu rasanya sesakit apa
ivan?" diana bertanya kepadaku sambil tetap melihat ke arahku
Mendengar pertanyaanya membuatku
bingung 'apa kamu tahu rasanya sesakit apa ivan?' perkataanya seakan menggema
dan terdengar terus menerus di telingaku membuat perasaanku juga tiba-tiba
merasakan sesuatu yang membuat sakit entah karena apa, aku hanya bisa terdiam
terus dan terus terdiam di hadapan diana yang sedang sedih, "kenapa kamu ngelakuin
ini sama aku? apa sih salahku sama kamu? apa kamu . . . " diana berkata
dengan nada yang semakin lirih dan menggenggam erat pergelangan tanganku dengan
kedua tanganya membuatku merasa bukan hanya sakit fisik tapi di luar itu juga
yang selama ini tidak pernah aku alami
Diana tidak melanjutkan perkataanya
tetapi hanya memegang erat dan semakin erat sambil air matanya akhirnya
berjatuhan, melihat adegan itu rasanya aku benar-benar sudah tidak kuat lagi,
diana kembali meneruskan kata-katanya sambil terus menangis "apa kamu
menyukai perempuan yang dulu . . . . yang waktu dulu kita bertemu di
taman", 'bagaimana dia tahu? bukanya dia sudah pulang waktu itu menaiki
bus' pertanyaan silih berganti berkecamuk di kepalaku
"kkkee. . . .kkkeennapa kamu bisa
tahu diana?" tanyaku yang sedikit terguncang karena mendengar perkataanya
barusan, "waktu itu ketika aku sudah menaiki bus. . . pikiranku sedikit
tidak tenang melihatmu waktu di taman melihat perempuan itu jadi . . . . ketika
kamu sudah tidak nampak di bus aku memaksa bus itu berhenti dan aku mengikutimu
yang kembali masuk ke taman. . . sebenarnya aku ragu kamu akan kembali ke taman
tetapi ternyata keraguanku itu salah, kamu kembali ke tempat kita duduk sore
itu dan bertemu dengan dia"
"aku bahkan mendengar kamu meminta
maaf padanya, maka itu aku ingin sekali menembakmu kemarin agar kamu tahu bahwa
aku juga menyukaimu, tetapi sepertinya hatimu tidak bisa lepas darinya .
." setelah mengatakan itu diana melepaskan kedua genggaman tanganya dan
memasukkan buku di mejanya, dia berdiri dari bangkunya dan berjalan
meningglakan aku yang masih terdiam di kelas ini tanpa sepatah kata pun keluar
lagi dari dalam mulutnya
Keesokan harinya masih berjalan
seperti itu hanya saja diana sudah berbicara kepada teman-teman perempuanya termasuk
andra yang setia menemaninya 'ya memang ini lah yang terbaik untukmu andra,
hidup bersama laki-laki yang sepadan denganmu bukan dengan aku yang pecundang
ini' kataku dalam hati. Hari berjalan terus menerus hingga akhirnya hari wisuda
pun datang setelah berbagai macam acara kami berkumpul bersama dalam kelas dan
melakukan foto bersama untuk kenang-kenangan sebelum kami masuk perguruan
tinggi
Setelah foto secara mendadak andra
menembak diana dan seperti bisa di duga diana menerimanya, semua orang di
ruangan terlihat bahagia diana menerima andra sedangkan aku ketika melihat
diana menerima andra hanya dapat tersenyum dan berjalan menjauh dari ruangan
kelas untuk pulang tetapi andra menahanku sambil berkata "terima kasih
ivan", "diana memang lebih layak bersamamu dari pada denganku jadi
tolong bahagiakan dia" setelah aku berbicara seperti itu aku kembali
melanjutkan langkahku
Akhirnya bulan juni yang terasa berat
ini terlewati dengan berbagai kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan untuk
selamanya, mulai ketika menerima hasil ujian, berkumpul bersama semuanya yang
selama ini tidak pernah aku lakukan, melakukan kegiatan untuk pentas drama
bersama-sama, kebahagiaan yang tidak terduga ketika diana menembakku, dan rasa
sakit yang amat sangat melihat diana begitu sedih ketika di kelas, bahkan
sampai saat ini tulisan di buku itu masih teringat dengan jelas di pikiranku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar