Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 4 ]

 JUNI


Hari ini di minggu awal bulan juni pengumuman kelulusan akan di bagikan oleh wali kelas, kami semua murid kelas 12 di sekolah ini atau mungkin seluruh murid kelas 12 di indonesia sedang memikirkan hal yang sama di benak kami saaat ini "lulus atau tidak" itulah yang menjadi beban berat melebihi ujian itu sendiri. Aku menanti pengumuman kelulusan di ruangan kelas tetapi sampai jam 10 pagi belum ada kabar apapun di tambah udara musim kemarau yang semakin memuncak membuat ku semakin resah sendiri, hikari san mengirimi pesan untukku agar aku bersabar dan yakin dengan hasil dari kerja keras selama ujian nasional

Pesan dari hikari san memang membuatku sedikit tenang tetapi tetap saja perasaan takut masih menjalar di seluruh saraf otak dan mengalir melalui pembulu darah menuju seluruh bagian tubuhku membuat keringat bercucuran dari pori-pori kulitku "udaranya panas" kataku dengan nada frustasi, bukan panas lagi mungkin untuk menggambarkan situasi penuh tekanan hari ini. Semua murid laki-laki maupun perempuan di kelasku nampak gelisah juga sama sepertiku menanti hasil pengumuman kelulusan yang akan di bagikan


Jam sudah bergerak ke angka 10:30 tetapi belum datang juga wali kelas kami salah seorang murid bahkan berteriak membuat situasi menjadi semakin mencekam di kelas ini "apa-apaan ini mana hasilnya aku penasarn ini" "benar apa maunya sih guru-guru ini membiarkan kita depresi seperti ini", saling bersautan cemoohan atau kata-kata sejenis itu di kelas ini membuat mental murid yang lain semakin jatuh, tiba-tiba terdengar suara andra berbicara sambil berdiri di depan kelas "teman-teman tenanglah sebentar lagi pasti pengumumanya datang aku percaya bapak ibu guru tidak akan membiarkan kita cemas seperti ini" terdengar juga suara dari salah satu murid menjawab perkataan andra "ya itu memang benar tetapi fakta berbicara lain, lihatlah saat ini di sini bagaimana kita di biarkan dalam situasi tidak menentu seperti ini sejak pagi hari sampai sekarang"

Mendengar perkataan teman satu kelasnya andra terdiam terlihat ekspresi di wajahnya sedikit bingung melihat itu aku menjadi kasian juga ingin sekali mengeluarkan kata-kata di kepalaku tetapi rasanya sulit sekali, terdengar semakin banyak pertanyaan yang di pertanyakan ke andra membuatnya terlihat semakin tertekan juga. Akhirnya aku mengeluarkan suaraku yang jarang sekali berinteraksi dengan teman satu kelasku sendiri "sudahlah kalau kalian tidak puas atau merasa bingung kenapa kalian tidak langsung ke ruang guru dan menanyakanya dari pada hanya berdebat tidak jelas dan saling menghina satu sama lain" ketika aku selesai berbicara seperti itu seisi ruangan kelas melihat ke arahku

Membuatku menjadi bingung harus berekspresi seperti apa tiba-tiba suara diana memecahkan keheningan sementara itu "benar juga yang di katakan ivan kalau begitu bagaimana ketua kelas atau andra yang menanyakan hal tersebut ke ruangan guru", mendengar perkataan diana semua seakan mengangguk tanda setuju akhirnya andra dan ketua kelas kami keluar kelas untuk menuju ruangan guru sedangkan situasi di dalam kelas meski tenang, tetapi beberapa murid saling berbisik-bisik sambil melihat ke arahku bagiku mungkin itu tidaklah aneh karena aku jarang berbicara seperti itu dan baru kali ini aku mengatakan sesuatu hal selain pelajaran pada teman satu kelasku

Di mejanya diana tersenyum sambil mengetik sesuatu di smartphonenya, smartphone di sakuku bergetar dan aku mengambilnya terlihat sebuah pesan masuk dari diana rupanya "kata-katamu membuat situasi bisa tenang kenapa dari dulu kalau ada hal seperti ini di kelas kamu hanya diam seakan tidak mengetahuinya?", melihat pesan itu aku hanya terdiam kemudian melihat ke arah diana yang sedang mengobrol bersama teman perempuanya di dekat bangkunya sambil sesekali melihat ke arahku

Setelah 10 menit berlalu andra dan ketua kelas yang pergi ke ruang guru akhirnya mereka berdua kembali membawa sebuah berita, andra berbicara di depan kelas "jam 11 wali kelas akan datang ke sini untuk memberikan surat berisi hasil ujian kita jadi bersabarlah teman-teman" setelah mengatakan itu andra dan ketua kelas duduk di bangkunya masing-masing tetapi sebelum andra duduk di bangkunya dia menghampiriku samibl berkata "terima kasih ivan" sambil menepuk pundak kananku dan berjalan ke bangkunya

10 menit berjalan dengan lambat hingga seorang guru perempuan berparas cantik dengan rambut hitam di potong sebahu terlihat di pintu kelas, suasana yang tadi ramai di dalam kelas berubah seketika menjadi hening "baiklah aku akan memberikan hasil ujian nasional kalian berdasarkan nomer absen jadi bersabarlah dan tenang" kata ibu guru. Satu per satu nama murid di panggil maju ke depan dan d berikan amplop berwarna putih setelah menerimanya mereka kembali ke bangku masing-masing

"baiklah kalian sudah menerima amplopnya kan silahkan di buka ya" ibu guru berbicara dengan wajah serius, aku mensobek pinggiran amplop di tanganku dan mengambil sebuah kertas yang di lipat di dalamnya, jantungku terasa berdetak dengan cepat ketika mengambil kertas itu, ku buka kertas hasil ujian nasional ini dengan penuh rasa yang tidak dapat di gambarkan. Terdapat tulisan nama lengkap ku dan kata-kata yang ingin aku baca "LULUS" berada di bagian paling bawah kertas itu

Terdengar suara sorak bahagia dari seluruh murid di kelas ini hampir bersamaan termasuk diriku sendiri melihat hasil yang sangat kami inginkan, setelah melihat hasil itu aku langsung mengirim pesan kepada hikari san bahwa aku telah lulus dari ujian nasional dan tidak lama kemudian hikari san mengirim pesan balasan yang mengajakku untuk merayakannya di taman tempat kami biasa bertemu sepulang sekolah

"hei ivan kamu nanti ada acara kami semua akan merayakan pesta kelulusan di cafe dekat sekolah bagaimana kamu ikut?" diana terdengar menanyaiku dengan raut wajah bahagia "hmm maaf sepertinya aku tidak bisa datang" jawabku membalas pertanyaanya "ow ya sudah kalau begitu, aku duluan ya"diana berkata dengan raut wajah sedikit sedih dan langsung meninggalkan bangku tempatku duduk saat ini

Sebelum kami meninggalkan ruangan kelas untuk pulang setelah mendapatkan hasil ujian nasional ibu guru wali kelas kembali datang ke kelas dan memberitahukan bahwa 2 minggu dari sekarang akan ada wisuda kelulusan kami jadi sampe selesai wisuda kami di larang tidak masuk sekolah dan juga bahwa dalam minggu ini akan di adakan pentas seni tahunan merayakan ulang tahun sekolah, aku sebenarnya tidak terlalu memperdulikan hal itu yang ada di benakku saat ini hanya datang ke taman memberitahukan hasil ini kepada hikari san secara langsung hanya itu saja tidak ada yang lain

Aku meninggalkan ruang kelas hanya sendirian karena semua teman satu kelasku akan melaksanakan pesta kelulusan di sebuah cafe, melewati semua lorong kelas 12 nampak semua murid sedang bahagia 'mungkin semua lulus ujian nasional' kataku dalam hati sambil berjalan melewati ruangan guru dan gerbang sekolah yang masih belum terlalu ramai murid pulang. Bus yang aku tunggu datang dengan penumpang yang tidak terlalu ramai, perjalanan siang hari yang cerah ini pun tidak terlalu macet sehingga bus tiba di halte yang biasanya aku turuni ketika ke taman dengan waktu yang cepat, berjalan dengan cepat dan semakin cepat bahkan lama kelamaan seperti orang yang sedang berlari aku menuju taman itu dengan semangat, aku memasuki wilayah taman yang sepi dan langsung menuju tempat biasanya aku duduk

Hikari san sudah menungguku rupanya di tempat itu "hai ivan kun selamat ya"ucapnya ketika aku baru saja sampai dengan nafas menggebu karena habis berlari "terimakasih hikari san ini juga berkat doamu" jawabku masih sedikit berat, "ya sudah duduk dulu" suruhnya kepadaku tanpa berpikir lagi aku langsung duduk di samping hikari san. Hari ini taman masih sepi pengunjung udara masih tetap sama panas hanya saja perasaan senang di dalam hati ini sangat luar biasa sekali bukan karena aku lulus ujian tetapi karena hikari san juga mau menungguku di sini

"oia hikari san tadi kamu bilang akan merayakan kelulusanku di sini jadi merayakan seperti apa itu?" tanyaku dengan semangat, di bawah kursi nampak sebuah tas yang dari aku datang ke sini sudah berada di sana cuman aku tidak mengerti apa isi di dalamnya "sabar ya" hikari san berkata menenangkanku sambil mengambil tas di bawahnya dan membukanya. "ini" dia berkata sambil mengambil sebuah kotak persegi berwarna hitam dengan hiasan motif bunga sakura di atasnya dan menyerahkan kepadaku "apa ini hikari san?" tanyaku penasaran, "buka sendiri" jawabnya sambil tersenyum

"wah cantik sekali isi bekal makanan ini" kata-kataku dengan tatapan takjub melihat isi makanan yang di bentuk sedemikian rupa dan terdapat tulisan "selamat" di atasnya yang berwarna hijau seperti lumut, "coba di makan ya ivan kun tapi maaf kalau rasanya tidak enak" hikari san berkata dengan sedikit malu, aku yang tidak terbiasa dengan sumpit memilih mengambil sendok dan memakan bekal itu 'ini enak sekali belum pernah aku merasakan makanan seenak ini apa lagi buatan seorang perempuan yang hanya untukku' kataku dalam hati dengan sedikit terharu

"jadi bagaimana ivan kun rasanya" tanya hikari san dengan wajah penasaran , "hmm enak banget baru pertama kali aku makan masakan seenak ini hikari san" jawabku jujur, "terima kasih" katanya dengan wajah tersenyum yang membuatnya semakin cantik. Waktu berjalan dengan cepat siang itu kami mengobrol berbagai macam hal ke sana dan kemari hingga matahari mulai terbenam. "oia ivan kun ini satu lagi hadiahku untukmu" kata hikari san sambil menyerahkan sebuah buku kepadaku, ketika aku melihatnya ternyata itu adalah sebuah buku novel dari pengarang terkenal

"bukannya buku novel ini mahal hikari san"tanyaku kepadanya "tidak apa-apa jangan pikirkan harganya"jawabnya "baiklah kalau begitu, aku juga akan memberi sebuah hadiah untuk hikari san" kataku dengan semangat "hadiah apa itu ivan kun?" hikari san nampak penasaran, "ada deh mau tau aja"jawabku sambil menjulurkan lidah "dasar pelit" rengeknya manja yang semakin membuatnya cantik

Hari pertama persiapan ulang tahun sekolah, nampak wajah-wajah murid kelas 12 begitu semangat dan bahagia karena berita kelulusan kemarin, aku memasuki ruang kelas yang nampak begitu sibuk mempersiapkan berbagai macam pakaian dan lain sebagainya "hei ivan kenapa kamu diam saja di pintu masuk sini bantu kami" seorang laki-laki menyuruhku membantu mereka, aku dengan malas datang dan membantu berbagai macam hal di kelas ini, lama kelamaan akhirnya aku tau kelas ini sedang mempersiapkan sebuah pentas drama untuk acara ulang tahun sekolah

Terlihat andra memerankan seorang kesatria sedangkan diana terlihat sedang berlatih menghafal naskah dengan serius di bangku tempat aku biasa duduk "permisi diana ini tempat dudukku" kataku memohon, "untuk beberapa hari ini bangku ini bukan milikmu lagi"jawabnya tanpa melihat ke arahku sedikitpun, akhirnya aku duduk di bangku depan tempat diana duduk dan menaruh tas punggungku, karena semua sedang sibuk dan aku yang tidak melakukan apapun akhirnya aku mengirim pesan kepada hikari san yang ternyata di balasnya karena dia sedang bersantai di rumah

Lumayan lama aku sibuk dengan smartphoneku hingga aku tidak memperdulikan apa yang terjadi di ruangan ini, tiba-tiba saja suasana menjadi sepi dan membuat rasa penasaranku muncul untuk melihatnya "lho kemana semuanya" tanyanku kebingungan "kamu terlalu asik bermain smartphone sih makanya tidak menghiraukan teman-teman yang sibuk" jawab diana yang masih fokus dengan naskah di tangannya. Setelah berbicara seperti ini suasana menjadi hening kembali di ruangan ini membuatku merasa tidak nyaman dan memaksa diriku untuk sekedar bertanya kepada diana "anu kamu memerankan apa di pentas nanti?

Mendengar pertanyaanku diana lalu menaruh kertas naskah itu dan berbicara "coba kamu tebak", aku langsung merubah ekspresiku dengan kesal "kamu ini di tanya balas nanya" jawabku sebal "hahahahaha aku memerankan seorang putri yang terpenjara dan di selamatkan seorang pangeran, bagaimana? romantis kan?" diana bertanya kepadaku dengan tersenyum "ya lumayanlah, tetapi siapa yang memerankan pangeranya?" tanyaku penasaran "andra" jawab diana dengan lemas, "wah cocok sekali kalian bagai pasangan ideal memang" aku berkata dengan santai tetapi ekspresi diana semakin terlihat menyeramkan mendengar kata-kataku barusan dan langsung berdiri dari bangku kemudian berjalan keluar kelas tanpa sepata kata keluar dari mulutnya

Hari kedua persiapan ulang tahun sekolah, semua masih sibuk seperti kemarin hanya saja hari ini mereka mulai mencoba sedikit adegan percakapan termasuk diana dan andra, ketika melihatku duduk melihat mereka berlatih ntah kenapa diana terlihat sedikit kaku gerak tubuhnya aku sendiri juga tidak memahami kenapa dan akhirnya aku hanya membaca novel yang di berikan oleh hikari san kemarin, selama aku membaca novel sayup-sayup terdengar suara berbisik dari beberapa orang di dalam kelas ini "hei kamu tahu tidak beberapa waktu lalu diana dan ivan jalan bareng d mall" "masak sih?" "iya iya aku dengar mereka jalan berdua saja di mall sepulang sekolah" "mana mungkin diana jalan bersama cowok penyendiri semacam ivan"

Dan berbagai macam suara terdengar berbisik dari mulut ke mulut, aku sebenarnya cuek menanggapi hal itu dengan membaca novel tetapi diana berbeda, dia terdengar berkata dengan suara lantang "lalu kenapa? apa hal itu menjadi masalah untukmu?". Mendengar perkataan diana beberapa murid perempuan yang tadi sedang bergosip membalasnya "tidak ada hanya saja bagi kami itu hal yang lucu" "iya benar lihat lah ivan dia pendiam penyendiri apa kerennya laki-laki seperti itu" mereka saling berbicara bergantian membalas perkataan dari diana "lebih baik dia dari pada kalian" diana menjawab kembali dengan suara yang lantang

Aku yang melihat ekspresi diana yang belum pernah aku lihat selama ini akhirnya aku ikut juga dalam masalah itu aku bangkit dari kursiku dan menghampiri mereka, saat itu aku sadar semua mata orang di kelas ini tertuju pada kami "sudahlah aku tidak mau membuang waktuku yang berharga dengan menanggapi gosip murahan kalian, kalau aku jadi kalian aku pasti malu, karena apa ? karena kalian hanya bisa membicarakan kejelekan orang lain di belakangnya dengan sembunyi-sembunyi, lihatlah sekelilingmu siapa dari hasil pembicaraan yang tidak berguna ini yang akan di anggap menjadi pecundang" kataku dengan sedikit keras dan hasilnya suasana di kelas menjadi hening untuk beberapa saat tetapi diana yang melihatku membantunya malah pergi keluar dari ruangan ini

Setiap sepulang sekolah meski saat situasi sibuk seperti ini aku tidak pernah melupakan datang ke taman itu untuk bertemu hikari san meski hanya mengobrol atau duduk diam sambil mengerjakan novelku, hari ini aku menceritakan kejadian yang terjadi tadi di sekolah kepada hikari san, mendengar perkataanku dia terdiam beberapa saat seperti sedang memikirkan sesuatu "mungkin dia menyukaimu ivan kun" hikari san berbicara dengan suara santai tetapi tatapanya terlihat seperti berbeda, aku yang mendengar perkataan hikari san hanya terdiam sambil berpikir 'mana mungkin? diana lebih cocok dengan andra, kalau denganku mana cocok'.

"ada-ada saja kamu hikari san" jawabku dengan nada yang ragu, setelah pembicaraan itu sekarang hikari san lah yang bercerita tentang seseorang yang membuatnya beberapa bulan ini merasa sedih dan bersalah "aku sebenarnya juga sedang mengalami masalah pribadi dengan seseorang yang sama-sama mahasiswa jepang yang berada di sini" dia bercerita panjang lebar tentang masalahnya, aku yang mendengar hikari san bercerita hanya diam dan menghiburnya serta memberi sedikit saran meski aku sendiri juga tidak tahu apakah saran itu benar atau sebaliknya

Hari ketiga persiapan ulang tahun sekolah, hari itu diana tidak nampak di kelas membuat semua orang di kelas menjadi bingung dan sepertinya para gerombolan yang kemarin menggoda diana yang terkena dampaknya, mereka di marahi hampir seluruh orang di kelas tanpa terkecuali dan andra lah yang paling marah karena masalah itu, sedangkan aku? aku? aku hanya membaca buku novel yang di berikan hikari san beberapa waktu yang lalu. Suara ramai berlangsung lama tiba-tiba andra memanggilku "ivan kesini sebentar"

Aku bangkit dari kursi dengan malas sambil menutup buku novelku dan membawanya serta ke tempat andra dan para gerombolan perempuan itu "ngomong-ngomong apa yang di katakan mereka benar?" andra bertanya dengan memasang wajah serius, "kamu mau jawaban jujur atau bohong?" tanyaku sehingga membuat andra emosi dan membentakku "tentu saja jujur". "merepotkan saja, ya baiklah memang benar beberapa waktu yang lalu aku pergi ke mall dan jalan-jalan dengan diana sepulang sekolah dan yang memintaku adalah diana akupun juga tidak mengerti kenapa dia melakukannya, sudah cukup?" aku menjelaskan apa yang sebenarnya kepada mereka, mendengar perkataanku para gerombolan itu sedikit terkejut termasuk andra juga

"hei-hei memang aneh ya?" aku bertanya kembali membuat mereka akhirnya sadar, "tidak ada" jawab andra singkat sambil berjalan menjauh "sudah? begitu saja? dasar" jawabku sebal melihat respond andra yang berubah. Bel tanda pulang sekolah berbunyi aku dan semua murid keluar dari kelas masing-masing seperti biasa aku berjalan menuju gerbang untuk pergi ke taman seperti biasanya tetapi di depan gerbang andra berdiri seperti menunggu seseorang, aku seperti biasa hanya melewatinya tanpa memberi salam atau sesuatu sejenisnya

Tiba-tiba andra memegang pundak kiriku dari belakang dan berkata "bisa ikut aku sebentar ivan?" melihat perkataanya yang sedikit serius itu, akhirnya dengan terpaksa aku mengikutinya dan mengirim pesan kepada hikari san bahwa aku akan datang sedikit telat karena ada suatu hal yang harus di kerjakan di sekolah , untung saja hikari san seperti memahami pesanku. kami berdua berjalan menuju tempat paling ujung di belakang sekolah "jika diana menyukaimu bagaimana ivan?" tanya andra dengan serius "aku tidak mengerti maksud pembicaraanmu andra" jawabku yang memang tidak paham dengan maksudnya "kamu ini sebenarnya polos apa pura-pura polos huh?" andra menjawab dengan emosi sambil memegang kerah seragamku "tttuuunngggguuu ndra tenang-tenang" aku berbicara dengan sedikit takut juga melihat respondnya dan akhirnya dia melepas kerahku dan sedikit mendorongku kebelakang

"sebenarnya aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa" aku berkata dengan sedikit bingung 'ha diana menyukaiku? mana mungkin jangan bercanda' aku menanyai diriku sendiri, "kalau memang itu yang terjadi bagaimana van? apa kamu akan menerimanya?", 'menerima?aku tidak mengerti akan menerimannya atau tidak' aku hanya dapat berbicara di pikiranku sendiri dan hanya memperlihatkan ekspresi bingung di wajahku, seperti melihat ekspresiku andra akhirnya menyerah menanyaiku dan membiarkan aku pulang

Selama di bus aku merasa bingung dengan apa yang terjadi beberapa hari ini 'diana menyukaiku? itu hanya candaan belaka pasti? pasti mereka hanya berencana menipuku agar aku merasa keren atau sejenisnya dan akhirnya mereka keluar dan memberi tahu yang sebenarnya. Ya pasti seperti itu' aku berkata dalam hati dengan kebingungan. Ketika di tamanpun pikiranku melayang kemana-mana hingga hampir tidak ada ide untuk menulis apapun, seperti melihatku kebingungan hikari san bertanya kepadaku "sepertinya terjadi sesuatu ya ivan kun?"

"iya hikari san tadi di sekolah terjadi suatu masalah yang tidak dapat aku pikirkan sendiri" jawabku lemas, "kalau begitu ceritakanlah padaku mungkin aku bisa membantumu" hikari san berkata sambil menampakkan senyum malaikatnya, "baiklah jadi begini seperti yang kemarin sebenarnya masalahnya, soal teman perempuan satu kelasku itu hikari san hari ini dia tidak masuk sekolah mungkin karena masalah kemarin nah beberapa orang menanyaiku soal kebenaran gosip dan . . . ." aku seperti tidak bisa melanjutkan kata-kataku di depan hikari san, aku tidak mau dia salah sangkah lagi karena ini bahkan aku sendiri juga tidak tahu kenapa aku berpikir seperti itu ketika di depan hikari san

"dan apa ivan kun?" tanya hikari san, "dan jika dia menyukaiku apa yang aku lakukan" aku berkata seperti itu seakan di siang hari yang cerah dan panas ini tiba-tiba kilat datang menyambar dan suaranya seperti terdengar bergemuruh dengan keras, setelah aku mengatakan hal itu dan melihat hikari san wajahnya sepertinya juga bingung harus mengatakan apa hingga aku berbicara lagi "seharusnya aku tidak menceritakan ini kepada hikari san", "tidak apa-apa kok, menurutku jika kamu juga menyukainya kenapa tidak bilang sejujurnya saja?" hikari san berkata seperti memaksakan dirinya

"mana mungkin hikari san aku bisa menerimanya jika aku sepertinya menyukai orang lain" tiba-tiba aku berbicara secara respond menjawab pertanyaan hikari san "seseorang?" dia bertanya dengan nada penasaran, mendengar itu aku hanya bisa diam saja dan berbicara dalam pikiranku sendiri 'iya hikari san mungkin aku menyukaimu tetapi. . . . tetapi aku tidak bisa mengatakannya

hari keempat persiapan ulang tahun sekolah, pagi itu ternyata diana sudah masuk sekolah tetapi, tetapi ketika aku melihat wajahnya ekspresinya tidak bisa terlihat seperti biasanya olehku, hari itu kami semua berlatih di aula sekolah untuk acara yang tinggal 2 hari lagi. Meski diana kemarin tidak masuk sekolah sepertinya dia sudah bisa menghafal semua kata-kata dalam naskah itu dan aku yang hanya seorang kru di belakang layar tidak terlalu sibuk seperti mereka yang akan berada di atas panggung, andra dan diana sedang beradu akting di atas panggung aula aku dapat melihat mereka dari tempat penonton sambil berjongkok dan bersandar di tembok untuk membaca buku novelku

Latihan dari pagi sampai siang benar-benar membuat kelelahan termasuk aku juga yang tidak terlalu banyak kerja ini karena udara hari ini juga tidak kalah panasnya, aku melihat ke langit dari jendela di aula dan nampak sedikit awan hitam muncul di angkasa "bukanya ini musim kemarau tapi kenapa awan tanda akan turun hujan sudah datang" kataku sebal, ketika bel istirahat berbunyi semua pergi ke kantin untuk membeli makanan atau minuman sedangkan aku masih berada di dalam aula sambil berkeliling melihat-lihat isi aula seperti orang tidak punya kerjaan ya memang aku tidak punya kerjaan siang ini

Berjalan-jalan dari tempat penonton sampai ke belakang panggung bahkan sampai berputar-putar di luar aula hingga aku melihat andra menarik tangan diana menuju tempat yang sedikit tidak terlihat di belakang aula, aku seperti penguntit yang penasaran akhirnya mengikuti mereka pelan-pelan agar tidak ketahuan. Di tempat itu andra memegang tangan diana yang terlihat sedikit kebingungan dan berkata "diana aku menyukai kamu, maukah kamu menerimaku sebagai pacarmu?"

'pacar? suka? ow berarti selama ini andra menyukai diana, ya memang mereka pasangan yang cocok sih jadi aku tidak terlalu kaget juga' aku berkata dalam pikiranku, diana yang di tanyai andra seperti itu sedikit kebingungan dan berkata "mmm. . . maaf andra aku tidak bisa menerimamu" seketika itu andra melepaskan pegangan tanganya dan mundur beberapa langkah dan bertanya "kenapa? apa karena ivan? kamu menyukai ivan?" terdengar dari tempatku mengintip suara andra berat dan intonasinya sedikit tinggi ketika menyebut namaku, diana hanya menjawab dengan anggukan kepala membuat andra akhirnya terjatuh di tanah dengan lemas sepertinya sedangkan aku yang mendengar dan melihatnya hanya dapat terdiam seribu bahasa 'yang benar? kenapa aku? bukanya orang yang di depanmu itu lebih layak dari pada aku' terlintas kata-kata itu di pikiranku

Terdengar bel tanda selesai istirahat berbunyi aku langsung berlari kembali ke aula yang masih sepi dengan orang duluan dan pura-pura membaca novel seperti tadi sedangkan andra dan diana datang beberapa menit setelahnya, ketika andra melihatku terlihat di wajahnya sedikit emosi sedangkan diana tidak berani memandangiku, hari ini jam 13:00 hujan deras mengguyur kota ini ternyata musim kemarau tidak selamanya cerah dan panas tetapi masih datang saja kesedihan dan udara dingin yang aneh ini

hari terakhir persiapan ulang tahun sekolah, hari ini adalah hari jumat hari terakhir kami semua untuk persiapan ulang tahun sekolah semua murid di sekolah hari ini di bebaskan dari tugas sekolah jadi mereka dapat melakukan persiapan dan mulai menata kelas, panggung di lapangan bola dan tempat berjualan di sekitarnya, sedangkan kami sedang mempersiapkan untuk drama di aula semua orang sibuk hari ini meski udara cerah dan panas tetapi semangat mereka sepertinya semakin membara

Para murid yang bermain drama sedang bersiap-siap memakai pakaiannya masing-masing di ruang ganti sedangkan aku dan yang lainya memasang hiasan di panggung aula, setelah melakukan dekorasi yang cukup lama akhirnya kami selesai dan akhirnya semua murid yang bermain drama muncul di panggung setelah ketua kelas yang termasuk ketua untuk acara kami ini datang dan memberitahu berbagai macam hal akhirnya latihan sesungguhnya di mulai. Nampak semuanya bisa menikmati dan menghayati peran mereka, aku yang hanya berdiri sambil melihat mereka berlatih malah sibuk mengirim dan membalas pesan dari hikari san

Setelah ceritanya telah selesai ketua kelas kami datang dan memberi sedikit arahan kepada mereka semua, bel tanda istirahat berbunyi semua orang setelah selesai berganti pakaian seragam akhirnya menuju kantin sekolah sedangkan aku baru saja akan ke ruang ganti dan melihat diana sedang duduk terdiam di sana, sedikit bingung akan berbicara atau mengacuhkan dia saja akhirnya aku memilih menjadi diriku yang acuh kepada orang lain dan berjalan melewati tempat diana duduk, ketika aku berada di depannya terasa tanganya yang mungil dan halus memegang pergelangan tangan kananku untuk menahanku berhenti melangkah

Aku akhirnya berhenti dan melihat ke arah wajah diana yang terlihat bingung, aku memberanikan diriku seperti bukan biasanya dan bertanya "ada apa diana?" mendengarku bertanya dia hanya melihatku dengan tatapan yang belum pernah aku lihat selama ini, kami saling diam dalam sunyi aula ini hanya saling melihat tanpa bergerak atau melakukan apapun, saling berkontak mata dengan mata hingga sebuah suara batuk mengagetkan kami berdua "uhuk" secara respond kami melihat ke arah pintu masuk belakang panggung dan melihat seseorang sedang berdiri dan melihat ke arah kami "andra" kataku ketika menyadari sosok itu adalah andra, melihat ada seseorang diana melepaskan pegangnya di tanganku dan menundukkan kepalanya

Sepertinya dia melihat kami yang saling terdiam tadi ekspresinya berubah drastis tidak seperti kemarin hari ini wajahnya terlihat tenang, "maaf menganggu hanya saja dompetku ketinggalan di ruang ganti" andra berkata sambil berjalan menuju ruang ganti yang melewati tempat kami berada sekarang, hari ini situasi di belakang panggung semakin aneh saja sepertinya, aku mengirimi pesan kepada hikari san bahwa hari ini aku tidak dapat datang ke taman karena ada persiapan sampai sore hari untuk acara besuk dan memberitahukanya besuk orang di luar sekolah dapat datang melihat berbagai acara yang kami adakan, hikari san membalas bahwa dia akan datang besuk untuk melihat drama kelasku yang akan di adakan setelah jam istirahat

Hari ini seluruh murid sepertinya bekerja keras untuk acara besuk semua murid baru pulang dari sekolah sudah sore hari bahkan kelas kami pun baru saja selesai mempersiapkan segalanya di aula ini sekitar jam 16:00, sebenarnya kelas yang menampilkan drama bukan kelas kami saja maka dari itulah persiapannya baru selesai sore hari dan setelah rapat sebentar dengan seluruh tim akhirnya kami dapat pulang untuk beristirahat karena hari esok akan lebih berat dari pada hari ini

Hari ulang tahun sekolah hari ini akan di selenggarakan, pagi-pagi sekali sekolah ini sudah ramai oleh murid yang mempersiapkan diri untuk berbagai macam acara, untuk orang dari luar sekolah baru dapat masuk setelah jam 9 pagi setelah acara pembukaan yang di hadiri kepala sekolah dan seluruh murid selesai barulah pagar gerbang sekolah di buka. Aku yang masih berada di kelas sendirian mengirim pesan kepada hikari san bahwa dia dapat datang ke sini setelah jam 9 pagi, entah kenapa pikiranku hari ini terasa gelisah sekali tetapi aku berusaha memendamnya dan akhirnya berjalan keluar ruangan kelas menuju aula

Di belakang panggung sudah nampak murid dari kelas lain sedang bersiap akan naik ke panggung aku yang baru sadar kelas kami akan memulai pentas setelah istirahat akhirnya keluar dari pintu belakang panggung aula dan menuju tempat penonton untuk melihat drama itu tetapi selama perjalanan atau bahkan ketika duduk melihat pentas drama dari kelas lain tidak nampak murid dari kelasku sendiri, aku mencoba mengirim pesan kepada diana atau ketua kelas tetapi tidak mendapat balasan apapun "ada apa ini ya kemana semua saat seperti ini" jawabku sedikit kesal

Jujur saja aku tidak terlalu paham dengan sesuatu seperti drama yang berada di panggung depanku saat ini 'lebih mudah mencerna sebuah cerita anime memang dari pada cerita drama klasik seperti sekarang' kataku di pikiranku sendiri, pentas drama ini sudah memakan waktu 2 jam tetapi belum selesai juga "jam 11 apa masih lama ya" jawabku sambil menguap karena mengantuk dan bosan 'hikari san datang jam berapa ya kira-kira' aku bertanya pada diriku sendiri

Akhirnya jam 11:30 pentas pun selesai semua orang bertepuk tangan setelah melihatnya sedangkan aku? aku tidak paham sama sekali dan hanya ikut-ikutan bertepuk tangan saja lalu pergi ke luar aula hingga bertemu dengan andra "hei andra" panggilku 'tetapi tumben sekali aku memanggil nama orang seperti ini' pikirku sendiri dengan bingung tapi terserahlah, andra yang mendengar panggilanku akhirnya berbalik arah dan melihatku "ivan kamu kemana saja? kami semua tadi sedang bersiap-siap" andra berkata dengan sedikit marah "ah aku tadi barusan lihat pentas yang di mainkan kelas lain, memang kalian dimana tadi aku mencari sampai di aula kalian tidak ada" kataku

"soal itu nanti saja sekarang ayo kembali ke kelas dan bersiap-siap membawa peralatan kita untuk drama nanti ke aula" andra berkata kepadaku sambil kembali berjalan, sesampainya di ruangan kelas nampak semua orang sedang sibuk dan ketika melihat andra dan aku datang semua langsung berteriak "nah ini dia kemana saja kamu" "hei ivan bantu sini cepat" dan berbagai macam suara lainnya, aku hanya dapat berkata "maaf" dan berjalan menghampiri mereka

Selama membantu di kelas untuk mempersiapkan peralatan bahkan sampai di belakang panggung aula aku tidak melihat diana dan bertanya kepada teman yang lain tetapi semua menjawab tidak melihat, jam 12:30 kami telah mempersiapkan semuanya untuk pentas setelah istirahat aku mencoba mengirim pesan kepada hikari san tetapi tetap saja tidak ada balasan sama sekali "tumben sekali hikari san tidak membalas pesanku" kataku pelan. Ketua kelas memberi kami selebaran kertas berisi jadwal dan tugas masing-masing nanti dan aku melihat namaku di jadwal terakhir untuk maju dan memberi salam penutup dari kelas kami

"hei ketua kelas apa ini?" aku bertanya dengan sedikit bingung, "ow itu kamu nanti yang maju untuk memberi salam penutup dari kelas kita" katanya santai "aku bahkan tidak mengetauhinya" aku berbicara dengan suara depresi "tenang saja ivan, ini ambil dan hafallah untuk nanti" ketua kelas berkata sambil memberikan sepucuk kertas berisi kata-kata penutup salam dan aku harus menghafalnya dari sekarang sampai nanti sebelum pentas selesai

Pentas drama kelas kami akhirnya di mulai sekitar jam 13:00 semua pemain nampak silih berganti keluar dan masuk dari belakang panggung, sedangkan aku masih menghafal kata penutup untuk nanti dan hanya mengintip dari belakang panggung, di sana nampak diana sedang beradu akting dengan andra "lho diana kapan datangnya" kataku penasaran sambil masih memegang kertas yang tadi di berikan ketua kelas

Aku tetap saja tidak memahami drama kelasku sendiri cahaya penerangan hanya menyorot ke arah panggung sedangkan di tempat penonton menjadi gelap, tiba-tiba nada pesan masuk di smartphoneku berbunyi "siapa ini ya" aku bertanya-tanya sambil membuka kunci di layarnya, ternyata pesan dari hikari san yang sekarang sedang berada di aula juga untuk melihat drama kelasku, tanpa sadar aku bersyukur dia mau datang meski aku sendiri tidak memaikan peran apapun

Pentas drama selama 2 jam akhirnya selesai dengan sang putri yang menolak cinta sang kesatria, "sekarang jam 15:00 lumayan lama juga" kataku menggerutu dan menjadi deg-degan karena sebentar lagi bagianku datang, setelah adegan barusan semua tim maju ke depan termasuk aku juga cahaya lampu masih saja menyorot ke arah panggung ini saja, aku memegang microphone di tanganku dengan sedikit gemetar 'baru pertama kali aku berada di panggung ini dengan di lihat banyak orang termausk hikari san juga' kataku dalam hati sambil cemas

"mmmm" aku sedikit sulit membuka mulutku lebih banyak lagi hingga tiba-tiba diana memanggil namaku menggunakan microphone di tanganya "ivan", mendengar panggilanya aku kemudian melihat ke arah diana berdiri di sebelah kananku yang jarak kami sekitar 2 meter saja mengenakan gaun seperti seorang putri semakin memperlihatkan kecantikannya saja. Aku masih terdiam di sana melihat diana tetapi dia akhirnya meneruskan kata-katanya barusan "aku . . ." mendengar kata aku membuat jantungku berdegub kencang 'jangan-jangan ini' kataku sendiri dalam hati

"aku sebenarnya sudah menyukaimu dari pertama kali kita bertemu di kelas 12 entah kenapa pandangan dan pikiranku tidak dapat berpaling darimu, selama ini. . . . selama ini aku memendam perasaan ini hanya berpura-pura diam saja dan sedikit kasar kepadamu tetapi itu semua. . . itu semua agar kamu tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya . . ." diana berhenti berkata sambil menundukkan kepalanya sedangkan aku hanya dapat terdiam, saat ini suasana di dalam aula menjadi benar-benar hening seperti hanya ada kami berdua saja di ruangan ini

Diana melanjutkan kata-katanya kembali sambil melihat ke arahku " sebenarnya aku menyukaimu . . . . sangat menyukaimu. . . jadi. . .maukah kamu menjadi pacarku ivan" mendengar kata terakhir diana 'menjadi pacarku? maksudnya aku menjadi pacar diana? apa ini namanya aku sedang di tembak seseorang' segala pertanyaan berkecamuk di kepalaku hingga tanpa sadar kertas di tanganku terlepas dan entah jatuh kemana. Saat ini aku bingung memikirkan berbagai macam hal 'di sini ada hikari san dan dia pasti sedang melihatku saat ini bagaimana ini, tapi kalau aku menerimanya. . . tapi kalau menerimanya bagaimana, aduh aku jadi bingung sendiri, adegan ini adegan ini seperti di novel-novel atau anime yang biasanya aku lihat' segala macam pikiran terus berkecamuk di kepalaku hingga akhirnya aku mendekatkan microphone di tanganku

"terima kasih diana kamu sudah mau menyukaiku yang penyendiri ini, aku sangat bahagia ketika kamu mengatakanya seperti ini . . aku sendiri bahkan tidak dapat mengekspresikan seperti apa kebahagiaan ini tapi . . ." aku menghentikan kataku sebentar dan kembali melanjutkannya "tapi aku minta maaf karena aku tidak bisa menerimamu menjadi pacarku . . .", 'ya seperti ini lah seharusnya' aku meyakinkan diriku sendiri, diana kembali bertanya kepadaku "kenapa ivan? katakan alasannya kamu tidak bisa menerimaku apa aku kurang cantik?" saat ini terlihat di wajah diana sebuah air mata yang turun sedikit demi sedikit dari matanya yang indah aku hanya dapat berkata "bukan masalah kamu cantik atau tidak, kamu adalah perempuan yang cantik menurutku tetapi aku tidak bisa menerimamu karena aku . . .  aku menyukai seseorang"

Mendengar perkataanku barusan tangisan di wajah diana seperti jatuh dengan deras tetapi terlihat dia seperti menahanya dan kembali bertanya "siapakah dia? siapa perempuan itu ivan", aku hanya bisa menjawab dengan nada yang lemas sekali saat itu "maaf diana aku tidak dapat memberitahukanya kepadamu" setelah kata-kata itu air mata diana jatuh dengan derasnya 'dia menangis apa aku sekejam itu' kataku sendiri, dia menjatuhkan microphone di tanganya dan berlari dengan tangisan kesedihan, berlari dan terus berlari hingga keluar aula. Semua orang menatapku termasuk andra dia bahkan terlihat marah mendengar jawabaku tadi kepada diana tetapi andra memilih mengejar diana

Setelah itu aku seperti tidak mengingat apapun kejadian setelahnya yang jelas aku sudah duduk di bangkuku di dalam kelas nampak wajah semua orang seperti marah karena respondku tadi di aula, aku sudah tidak dapat berpikir apapun lagi saat itu bahkan andra diana dan beberapa teman perempuan tidak nampak di dalam kelas "dasar pecundang padahal itu tadi kesempatan emasmu" kata seorang teman kelasku, aku yang mendengarnya hanya terdiam di mejaku seakan-akan pikiranku sudah tidak berada di tubuhku sendiri

Hari ini seperti duniaku seakan-akan runtuh bukan karena kata-kata penolakanku tetapi ketika melihat ekspresi diana dan tangisanya di atas panggung tadi bahkan ketika dia lari keluar dari aula yang dapat aku lakukan hanya, hanya diam berdiri tanpa dapat melakukan apapun laki-laki macam apakah aku ini

Keesokan harinya atau lebih tepatnya hari minggu aku hanya dapat tertidur di kamarku masih terlihat jelas di mataku kejadian kemarin ketika melihat diana seperti itu, ingin sekali saat ini aku menelponya dan meminta maaf tetapi apa daya aku tidak berani melakukanya bahkan sejak itu hikari san juga tidak mengirimi aku pesan "sepertinya hari itu aku menyakiti langsung 2 hati perempuan" kataku dengan lemas di dalam kamar

Sebuah nada pesan terdengar di telingaku, dengan malas aku mengambil smartphone yang berada tidak jauh dari tempatku tidur sekarang "mungkin hanya pesan hinaan dari teman kelas atau pesan marah dari andra yang masuk" kataku tetapi aku tetap saja mengambil smartphoneku dan melihat sebuah nama yang tertera adalah "hikari san". Dia menyuruhku sekarang untuk datang ke taman

Dari kejauhan nampak hikari san sedang duduk menggunakan  jaket berwarna merah dengan celana panjang hitam, aku berjalan mendekatinya dan menyapanya "halo hikari san" mendengar seseorang menyapanya dia melihatku dan membalasnya "ya selamat datang ivan kun" sambil tersenyum, aku pun duduk di sebelahnya dan bertanya "ada apa hikari san menyuruhku ke sini pagi hari seperti ini", dia hanya diam mendengar aku bertanya kepadanya kemudian hikari san membuka mulutnya "kenapa kamu kemarin menolaknya menjadi pacarmu ivan kun" mendengar perkataanya membuat jantungku seakan berhenting berdetak untuk sebentar dan berdetak kembali 'jadi benar hikari san kemarin melihat diana menembakku'

"itu karena . . . " aku sebenarnya tidak dapat meneruskan perkataanku karena aku tidak menemukan kata yang tepat, tetapi tetap saja aku berusaha mengatakannya "aku menyukai seseorang" setelah mengatakan itu hikari san kemudian menatapku dan bertanya "siapa seseorang itu ivan kun? apa dia lebih cantik dari perempuan yang kemarin menembakmu?", aku diam sebentar dan kembali menjawab pertanyaan hikari san "mereka berdua sama-sama cantik, kecantikan mereka berdua bagaikan bidadari yang turun dari langit hanya saja aku tidak dapat berbohong kepada perasaanku sendiri dan menerima diana"

Setelah berkata seperti itu hikari san nampak masih penasaran akan kata-kataku mungkin di pikirannya dia bertanya 'siapakah perempuan yang di sukai ivan kun', seandainya aku dapat mengatakannya sekarang bahwa aku menyukai hikari san tetapi aku masih saja tidak berani mengutarakannya

Mengawali hari senin ini aku berangkat ke sekolah dengan masih penuh rasa keraguan, di kepalaku masih banyak pertanyaan salah satunya 'bagaimana jika aku bertemu diana nanti di kelas apa yang harus aku lakukan', selama perjalanan di dalam bus bahkan berjalan di gerbang masih saja perasaan ragu datang menghampiriku, langkah demi langkah semakin terasa berat ketika mendekati ruang kelasku

Ketika memasuki kelas sepertinya suasana menjadi tidak bersahabat semua mata tertuju kepadaku tidak jauh berbeda keadaanya seperti sore hari kemarin ketika aku menolaknya hanya saja hari ini tidak ada cibiran atau sejenisnya terdengar hanya tatapan mata yang seperti menusukku, aku berjalan melewati bangku tempat diana duduk dia hanya diam sambil membaca sebuah buku. Ketika melewatinya aku sebenarnya ingin sekali meminta maaf soal kemarin hanya saja aku tidak tau harus berkata seperti apa atau berekspresi seperti apa ketika di depanya maka dari itu aku hanya dapat diam dan pura-pura cuek saja

Hanya saja entah kenapa kaki ini tidak mau bergerak bahkan selangkahpun, aku akhirnya menyerah dan mengambil buku novel dari dalam tas, baru pertama kali rasanya aku mengerjakan novelku di kelas seperti ini tetapi seperti ada dorongan saja untuk mengerjakan di sini jadi mau tidak mau aku pun membuka buku novelku dan mulai menulis Suasana hari ini begitu aneh bagiku sebenarnya ada rasa ingin untuk datang ke tempat dia duduk

Terdengar suara di dalam ruangan ini semakin lama semakin sepi dan akhirnya membuat rasa penasaranku untuk melihat sekeliling muncul dan benar saja kelas sudah hampir tidak ada penghuninya hanya tinggal dua orang yang tersisa di sini yaitu adalah aku dan diana yang duduk di bangku depan sedangkan aku berada di deretan belakang. Aku akhirnya berpikir kembali untuk datang ke bangku diana duduk karena sekarang ruangan sudah sepi, setelah berpikir cukup lama aku menaruh pulpen di atas buku novelku dan berdiri dari bangkuku

Padahal jarak kami duduk tidak terlalu jauh hanya saja seakan jarakku dan dia sekarang terlihat jauh sekali 'apa ini namanya jika orang memiliki rasa bersalah' tanyaku dalam hati, setelah berjuang akhirnya aku berdiri di samping diana duduk hanya saja dia tetap saja membaca buku, aku yang masih diam di sampingnya sepertinya tidak dia hiraukan aku akhirnya melihat buku yang dia baca 'bukanya sampul itu adalah buku yang ingin aku pinjam dulu saat bertemu diana' kataku

Terlihat dia tidak membalik lembar kertas buku itu dan hanya menatapnya saja sedari tadi, iseng-iseng aku ikutan membaca salah satu barisnya "apa sebenarnya salahku? kenapa perasaan yang selama ini aku pendam dan akhirnya aku utarakan padamu hanya berakhir seperti ini, ketika aku mendengar jawabanmu kemarin seakan duniaku seperti hancur menjadi berkeping-keping apa hal seperti ini membuatmu puas? membuatku terluka seperti ini" melihat tulisan itu jantungku seperti berhenti berdetak sebentar dan kemudian berdetak kembali dengan cepat

"hmm diana" aku memanggil namanya dengan penuh keraguan, dia masih saja diam melihat buku di depannya terasa suasana semakin membuatku tertekan melihat ekspresinya seperti ini, aku sedikit membungkukkan tubuhku ke depan untuk melihat wajahnya 'dia menahan air matanya' aku berkata dalam hati sambil kaget melihat diana yang menahan air matanya, melihat itu secara otomatis tangan kananku bergerak ingin menyentuh pundaknya

Sambil berkata "maafkan aku soal kemarin diana", mendengar perkataanku itu diana langsung melihat ke arahku sambil tangan kirinya memegang pergelangan tanganku yang tadi ingin menyentuh pundaknya, "sakit" diana berkata dengan pelan dan terdengar lirih "rasanya sakit di sini" dia meneruskan tanganya sambil tangan kananya yang bebas menyentuh dadanya, "apa kamu tahu rasanya sesakit apa ivan?" diana bertanya kepadaku sambil tetap melihat ke arahku

Mendengar pertanyaanya membuatku bingung 'apa kamu tahu rasanya sesakit apa ivan?' perkataanya seakan menggema dan terdengar terus menerus di telingaku membuat perasaanku juga tiba-tiba merasakan sesuatu yang membuat sakit entah karena apa, aku hanya bisa terdiam terus dan terus terdiam di hadapan diana yang sedang sedih, "kenapa kamu ngelakuin ini sama aku? apa sih salahku sama kamu? apa kamu . . . " diana berkata dengan nada yang semakin lirih dan menggenggam erat pergelangan tanganku dengan kedua tanganya membuatku merasa bukan hanya sakit fisik tapi di luar itu juga yang selama ini tidak pernah aku alami

Diana tidak melanjutkan perkataanya tetapi hanya memegang erat dan semakin erat sambil air matanya akhirnya berjatuhan, melihat adegan itu rasanya aku benar-benar sudah tidak kuat lagi, diana kembali meneruskan kata-katanya sambil terus menangis "apa kamu menyukai perempuan yang dulu . . . . yang waktu dulu kita bertemu di taman", 'bagaimana dia tahu? bukanya dia sudah pulang waktu itu menaiki bus' pertanyaan silih berganti berkecamuk di kepalaku

"kkkee. . . .kkkeennapa kamu bisa tahu diana?" tanyaku yang sedikit terguncang karena mendengar perkataanya barusan, "waktu itu ketika aku sudah menaiki bus. . . pikiranku sedikit tidak tenang melihatmu waktu di taman melihat perempuan itu jadi . . . . ketika kamu sudah tidak nampak di bus aku memaksa bus itu berhenti dan aku mengikutimu yang kembali masuk ke taman. . . sebenarnya aku ragu kamu akan kembali ke taman tetapi ternyata keraguanku itu salah, kamu kembali ke tempat kita duduk sore itu dan bertemu dengan dia"

"aku bahkan mendengar kamu meminta maaf padanya, maka itu aku ingin sekali menembakmu kemarin agar kamu tahu bahwa aku juga menyukaimu, tetapi sepertinya hatimu tidak bisa lepas darinya . ." setelah mengatakan itu diana melepaskan kedua genggaman tanganya dan memasukkan buku di mejanya, dia berdiri dari bangkunya dan berjalan meningglakan aku yang masih terdiam di kelas ini tanpa sepatah kata pun keluar lagi dari dalam mulutnya

Keesokan harinya masih berjalan seperti itu hanya saja diana sudah berbicara kepada teman-teman perempuanya termasuk andra yang setia menemaninya 'ya memang ini lah yang terbaik untukmu andra, hidup bersama laki-laki yang sepadan denganmu bukan dengan aku yang pecundang ini' kataku dalam hati. Hari berjalan terus menerus hingga akhirnya hari wisuda pun datang setelah berbagai macam acara kami berkumpul bersama dalam kelas dan melakukan foto bersama untuk kenang-kenangan sebelum kami masuk perguruan tinggi

Setelah foto secara mendadak andra menembak diana dan seperti bisa di duga diana menerimanya, semua orang di ruangan terlihat bahagia diana menerima andra sedangkan aku ketika melihat diana menerima andra hanya dapat tersenyum dan berjalan menjauh dari ruangan kelas untuk pulang tetapi andra menahanku sambil berkata "terima kasih ivan", "diana memang lebih layak bersamamu dari pada denganku jadi tolong bahagiakan dia" setelah aku berbicara seperti itu aku kembali melanjutkan langkahku

Akhirnya bulan juni yang terasa berat ini terlewati dengan berbagai kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan untuk selamanya, mulai ketika menerima hasil ujian, berkumpul bersama semuanya yang selama ini tidak pernah aku lakukan, melakukan kegiatan untuk pentas drama bersama-sama, kebahagiaan yang tidak terduga ketika diana menembakku, dan rasa sakit yang amat sangat melihat diana begitu sedih ketika di kelas, bahkan sampai saat ini tulisan di buku itu masih teringat dengan jelas di pikiranku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar