AGUSTUS
Melewati awal bulan agustus aku terus
mengerjakan sisa novelku yang kurang sedikit lagi selesai, berbagai macam
perasaan dan pikiran berkecamuk terkadang bahkan rasanya seakan hatiku ini
sudah mati rasa saja hingga tidak dapat merasakan apapun, terkadang aku
berpikir untuk menyerah saja ketika mengingat kembali bahwa hikari san sudah
memiliki tunangan tetapi, tetapi aku masih ingin memberikan novel ini untuknya
meski rasa sukaku ini tidak tersampaikan paling tidak lewat tulisan ini hikari
san bisa mengerti apa yang sebenarnya di hatiku, selama beberapa minggu ini aku
tidak ingin sama sekali mengirimi pesan kepada hikari san meskipun dia
mengirimi pesan beberapa kali tetapi hanya aku acuhkan saja pesan itu karena
ingin fokus dengan novelku
Hari demi hari terlewati dengan terus
menulis novel ini, sendirian di ruang kamar aku ingin sekali menyelesaikannya
dan memberikan hasilnya kepada hikari san "jika hikari san seandainya
tidak mempunyai tunangan apakah dia mau menerimaku?" kataku pelan sambil
menghentikan kegiatan menulis novelku, buku novel di meja tulisku terus saja
aku pandangi tetapi tetap saja aku bingung menentukan endingnya seperti apa
karena baru kali inilah aku benar-benar merasakan hal seperti ini
Akhirnya aku benar-benar menghentikan
menulis novel dan berdiri dari kursiku berjalan melihat langit siang ini dari
jendela di dalam kamarku "cerah sekali hari ini" kataku pelan,
setelah melihat cuaca yang cerah dan tentu saja masih panas seperti biasanya
aku mengambil jaket dari dalam lemariku kemudian berjalan keluar kamar menuju
pintu depan rumah "berjalan-jalan sebentar mungkin bisa membuat ide untuk
menulis datang" kataku
Sekarang masih jam 10 pagi jadi
jalanan masih tidak terlalu ramai karena banyak orang masih berada dalam jam
kerja jadi berjalan mengelilingi perumahaan mungkin bisa sedikit menyenangkan,
berjalan dan terus berjalan tanpa arah kakiku melangkah hingga tiba di halte
bus dekat rumahku, aku berhenti di situ dan hanya diam saja ketika bus datang
membuka pintunya untuk penumpang yang turun atau masuk, tetapi aku tetap
berdiri terdiam hingga bus itu berjalan kembali
'tetap saja aku tidak bisa memahami
perasaanku saat ini' kataku dalam hati, akhirnya bus yang menuju kawasan
perkantoran yang biasanya aku naiki ke taman datang dan berhenti di depanku,
ada beberapa orang turun dari bus itu dan aku masih saja menatap pintu masuk
itu sekilas seperti terlihat bayangan hikari san seperti melambai kepadaku dari
dalam bus membuatku tiba-tiba berjalan masuk ke dalam bus. Aku tersadar ketika
pintu bus menutup membuatku terpaksa duduk di dalam bus yang sepi penumpang
itu, aku memilih duduk di bangku paling belakang sambil melihat jalanan yang
tidak terlalu ramai pagi ini
Tidak terasa bus sudah berhenti di
halte di kawasan perkantoran yang biasanya aku tuju beberapa bulan terakhir
ini, masih diam aku duduk melihat pintunya terbuka rasa ragu menghantuiku untuk
turun hingga akhirnya pintu bus menutup kembali hingga aku berteriak "tunggu
pak" membuat supir bus menghentikan busnya dan melihat ke arahku yang
sedang lari menuju pintu depan bus itu "saya turun sini" kataku dan
akhirnya supir bus itu membuka pintunya
Bus itu sudah kembali berjalan menjauh
dan aku masih saja berdiam di halte ini dari kejauhan nampak seorang perempuan
dengan rambutnya yang indah tergerai berjalan menuju halte ini dari arah taman
dengan membawa payung, aku berharap itu adalah hikari san sehingga aku masih
tetap saja diam di halte sambil melihat dia datang ke sini, beberapa menit
menunggu ternyata dia bukan orang yang ingin sekali aku jumpai "ivan"
katanya kaget ketika melihatku berdiri di halte ini
"eh diana ya" kataku sedikit
gugup, sungguh berbeda dia yang sekarang dengan beberapa waktu yang lalu ketika
pentas sekolah, wajahnya sekarang sudah terlihat lebih bahagia menurutku tidak
seperti dulu, "iya ivan bagaimana kabarmu?" tanya diana sambil
berdiri berhadapan denganku masih memegang payungnya "eh baik-baik
saja" jawabku dengan suara pelan, seperti menyadarinya diana kembali
bertanya "yakin kamu baik-baik saja?" aku yang mendengar pertanyaanya
hanya diam dan memalingkan muka saja
'apa tidak masalah cerita dengan
diana' pikirku dengan keraguan yang sangat tidak bisa di bayangkan, "anu
lebih baik kita cari tempat yang enak untuk ngobrol diana" kataku
tiba-tiba diana hanya mengangguk dan bertanya "bagaimana kalau di
taman?", 'taman?' aku masih diam dan berpikir untuk beberapa saat ketika
diana menawari berbincang-bincang di taman, dengan ragu aku hanya mengangguk
saja akhirnya kami berdua berjalan ke arah taman. Saat ini jalanan begitu sepi
karena semua orang sedang sibuk bekerja beberapa menit berjalan dari halte
akhirnya kami tiba di seberang taman setelah melihat ke kiri dan ke kanan kami
menyeberangi jalan untuk menuju gerbang masuk taman tersebut
Pagi hari ini taman begitu sepi tidak
terlihat satupun pengunjung lain selain kami berdua, rasanya begitu aneh buatku
meski dulu pernah datang ke tempat ini bersama diana hanya saja ketika
mengingat kejadian beberapa waktu kemarin dan sekarang berjalan berdua dengan
diana benar-benar membuatku semakin merasa bersalah saja 'apa aku harus kembali
bersama diana saja, atau tetap menunggu hikari san yang tidak mungkin aku dapat
masuk ke dalam kehidupannya lebih dalam lagi' kataku dalam hati
Diana membuka percakapan setelah lama
berjalan di taman dan hanya diam saja "apa kamu sudah menembak orang yang
kamu sukai dulu ivan?", mendengar pertanyaan itu rasanya hatiku seperti di
tusuk oleh pisau rasanya begitu sakit sekali meski dengan nada yang halus diana
menanyakannya, "belum" jawabku bohong "lho kenapa belum? nanti
keburu di tembak orang lain lho" diana berhenti melangkah sambil bertanya
kepadaku, aku akhirnya berhenti melangkah dan membalikkan badanku untuk melihat
diana yang berhenti di belakangku barusan
"tidak apa-apa" jawabku
pelan, "mana bisa tidak apa-apa" kata diana dengan sedikit keras
membuatku kaget mendengarnya "ya mau bagaimana lagi diana dia . . ."
aku sudah tidak bisa melanjutkan kata-kataku di hadapan diana, dia melangkah
maju dan melihatku dari jarak dekat membuat jantungku berdetak dengan kencang
melihat diana dari jarak sedekat ini, "aaa . . . anu" kataku gugup
sambil memalingkan wajahku "anu?" tanya diana membuatku semakin gugup
akhirnya aku memegang kedua pundaknya dan mendorongnya sedikit kebelakang
"begini jadi dia sebenarnya sudah mempunyai tunangan. . ." akhirnya
kata-kata itu meluncur dari mulutku dengan rasa sakit yang kembali terasa di
hatiku
Ketika mendengar kata-kataku mata
diana membesar dan mulutnya sedikit terbuka kemudian di tutupnya dengan kedua
tangan, saat itu rasanya dunia benar-benar ingin runtuh saja bayangkan saja
perempuan di depanku saat ini beberapa waktu lalu menembakku tetapi aku
menolaknya karena alasan menyukai perempuan lain tetapi, orang yang aku sukai
ternyata sudah memiliki seorang tunangan. Diana akhirnya memegang kedua
tanganku untuk melepaskannya dari pundaknya sehingga membuat payung di tanganya
jatuh
Sekali lagi tanganku merasakan
halusnya tangan diana perasaan aneh tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhkua
rasanya ingin aku menangis dan memeluknya tetapi aku siapa diana sekarang 'aku
hanya seseorang yang sudah mencampakan perasaanya dan sekarang aku ingin
memelukan benar-benar bajingan aku ini' kataku mengumpat diriku sendiri.
"kamu yang sabar ya ivan" begitu lembut sekali terdengar suara diana
olehku, "iya diana" kataku sambil menarik kedua tanganku
Akhirnya kami melanjutkan langkah
kami, diana mengambil payungnya yang jatuh barusan kembali berputar-putar di
taman membuat kami lelah dan akhirnya memilih duduk di salah satu bangku di
taman ini "lalu bagaimana diana? apa kamu sudah punya pacar" tanyaku
tiba-tiba sehingga diana melihatku dan berkata "sudah, aku sekarang sudah
pacaran sama andra" terdengar suaranya begitu berat untuk mengatakan hal
itu "ow bagus kalau begitu kalian memang pasangan yang cocok" kataku
mengimbuhinya
Cuaca panas hari ini yang begitu
sangat menusuk di imbangi oleh angi sepoi-sepoi yang terasa sedikit
menyegarkannya, daun-daun nampak terlepas dari ranting pohon tertiup dan
terbang oleh angin membuat suasana benar-benar begitu aneh untukku tetapi entah
kenapa ketika mendengar diana sekarang sudah berpacaran dengan andra membuatku
sedikit lega "kamu tidak marah sama aku kan diana soal waktu itu"
tanyaku, diana yang mendengar pertanyaanku hanya melihatku sambil tersenyum dan
berkata "tidak kok abis mau bagaimana lagi meski mau marah atau melakukan
yang lainnya aku tidak bisa merubah perasaanmu kepadanya" setelah
mengatakan itu senyumannya menghilang dan hanya melihatku, kami saling menatap
dalam waktu yang lama hingga akhirnya aku berpamitan pulang "baiklah kalau
begitu aku pulang dulu ya diana" kataku sambil berdiri "ah iya ivan
kamu jangan menyerah ya" diana berbicara sambil tersenyum membuatnya
semakin cantik, akhirnya kami berpisah siang itu di taman ini entah kapan lagi
waktu dapat mempertemukan kami kembali
Seakan-akan semangatku kembali meluap
aku berjalan dengan semangat pulang ke rumah tetapi di tengah jalan dari
kejauhan terlihat seorang perempuan
sedang menggandeng seorang laki-laki dan mereka saling tertawa, ya saat
itu aku melihatnya memasuki taman ini berjalan ke arah tempat biasanya aku
duduk, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku yang melihat mereka dari
kejauhan "tidak salah lagi itu adalah . . . hikari san" kataku pelan
Ya sekali lagi hatiku sakit lebih
sakit dari pada tadi seakan-akan sudah di cabik-cabik tubuhku ini, aku memilih
menghindar dari pada bertemu mereka sudah cukup seperti ini saja melihat mereka
dari kejauhan, kembali aku melangkah menuju halte di kawasan perkantoran untuk
menunggu bus pulang ke rumah. Di dalam bus aku hanya diam dan berpikir
'benar-benar menyedihkan aku ini, menolak perempuan yang aku suka dan mengejar
seorang perempuan yang ternyata sudah memiliki tunangan di tambah lagi aku
berjanji kepadanya akan selalu menyukainya, benar-benar bodoh aku ini'
Sesampainya bus di halte kawasan
rumahku aku pun turun dengan perasaan campur aduk tidak karuan, berjalan di
bawah sinar matahari yang begitu panas benar-benar membantuku semakin depresi
di siang hari ini. Akhirnya aku berdiri di depan rumahku sendiri tapi aku diam
sesaat sambil melihat rumahku 'saat aku membutuhkan pertolongan pun keluargaku
tidak ada di sisiku, mereka hanya sibuk dengan kehidupan mereka sendiri apa
artinya uang mereka ketika kasih sayang tidak menyertainya' umpatku dalam hati,
aku berjalan memasuki rumahku sambil membuka pagar dan kembali menutupnya
Pintu rumah aku buka "aku
pulang" sapaku tetapi tetap saja tidak terdengar suara balasan dari dalam
rumah, ingin rasanya aku kabur saja dan pergi tetapi aku tidak bisa
melakukannya entah kenapa, aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku di lantai
2. Di dalam kamar aku kembali membuka buku novelku dan kembali mengambil pensil
untuk menulis sekali lagi 'kurang 1 bagian lagi dan selesai sudah' kataku dalam
hati
Setelah berjalan sekitar 1 minggu
akhirnya novel ini sudah selesai sampai bagian endingnya "akhirnya
sekarang tinggal mencetaknya lalu memberikan kepada hikari san" kataku
sambil merenggangkan badanku di kursi, aku menatap langit gelap dari tempatku
duduk saat ini "lagi-lagi hujan datang di tengah musim kemarau"
kataku dengan lemas, akhirnya aku menutup buku novelku dan meletakkan pensil di
meja kemudian berjalan ke arah tempat tidur untuk istirahat, setelah merebahkan
badan aku berkata pada diriku sendiri "kalau begitu besuk saja aku
cetak"
Pagi hari ini udara kembali cerah aku
hanya memakan selapis roti dengan selai coklat di tengahnya dan berjalan menuju
halte bus di kawasan rumahku, baiklah tinggal menyerahkan ke percetakkan untuk
mencetakknya lalu setelah itu kemana lagi ya oia sebentar lagi ulang tahun
negaraku kan kataku sambil melihat tanggal di layar smartponeku "besuk
lusa tanggal 17 agustus ya" kataku pelan hingga akhirnya bus yang aku
tunggu datang dan membukakan pintunya
Memakan waktu hampir 1 jam perjalanan
karena macetnya jalan akhirnya aku sampai di tempat percetakkan, setelah masuk
dan berbicara dengan pegawainya akhirnya harga telah di sepakati aku
menyerahkan buku novelku untuk mencetak 1 halaman sample dulu saja kataku,
setelah membayar uang mukanya akhirnya aku meninggalkan tempat itu, jalanan
siang ini begitu macet karena kurang 2 hari lagi ulang tahun indonesia jadi
sepertinya beberapa orang sedang sibuk berbelanja untuk malam renungan tanggal
16 besok
Lama sekali aku menunggu bus di halte
tetapi tidak terlihat satu pun bus yang akan datang akhirnya aku berjalan kaki
menyusuri kawasan pertokoan ini, nampak banyak orang juga sedang berjalan
melwati trotoar yang di penuhi oleh penjual kaki lama "ya seperti ini lah
khasnya trotoar di indonesia" ucapku, aku meneruskan langkahku menyusuri
trotoar ini hingga sampai di ujungnya terdapat toko alat musik yang ramai oleh
pengunjung yang keluar masuk, lama aku berdiri di depan toko itu melihat alat
musik sampai terdengar seseorang memanggil namaku "ivan"
Aku melihat ke arah orang yang
memanggilku barusan "ow andra" sapaku, dia menghampiriku menggunakan
seragam sama seperti pegawai toko yang lain, "apa kamu bekerja di
sini?" tanyaku "iya van sambil menunggu masuk kuliah karena libur
panjang aku bekerja sambilan di sini" katanya, "ow bagus kalau
begitu" jawabku, andra menyuruhku masuk melihat-lihat ke dalam toko tetapi
aku menolaknya karena aku juga tidak terlalu paham soal alat musik jadi setelah
itu aku berpamitan untuk melanjutkan jalan-jalan tidak jelasku hingga halte
berikutnya yang jaraknya bisa di bilang jauh dari halte sebelumnya
Akhirnya di halte itu terlihat 1 bus
yang sedang menunggu penumpang aku pun berlari masuk ke dalamnya sebelum
pintunya di tutup "untung saja masih sempat" kataku sedikit kelelahan
karena berlari barusan, perjalanan begitu lama karena benar-benar macet hari
ini mungkin semua sudah mulai libur ya hingga 1 jam lebih aku baru sampai
rumah, di depan pagar terdapat selebaran undangan untuk datang ke malam
renungan tanggal 16 agustus besuk
Tanggal 16 agustus pagi ini sedikit
gelap awannya, sambil menunggu hasil cetak novel hari ini aku ingin sekali
jalan-jalan ke taman tetapi tidak lupa aku membawa payung untuk berjaga-jaga
apabila hujan tiba-tiba datang ketika aku berada di taman. Dengan santai aku
berjalan melewati gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi "ha
tumben taman ini ramai sekali" kataku karena di depanku sekarang nampak
banyak orang keluar masuk membawa berbagai macam peralatan yang tidak aku tahu
sebelumnya sedang keluar masuk taman
Karena penasaran akupun berjalan
memasuki taman melihat sedang apa sebenarnya orang-orang ini, ingin sekali
rasanya mengirimi pesan kepada hikari san tetapi aku bingung ingin mengatakan
apa lagi kepadanya ya karena sudah jelas aku tidak mungkin di terima di hatinya
saat ini ataupun selamanya karena dia sudah mempunyai seorang tunangan, aku
terus berjalan mengikuti beberapa orang yang sedang membawa banyak peralatan
seperti lampu sorot dan kamera seperti di televisi
Di tempat aku duduk biasanya terlihat
ramai oleh orang yang sedang memegang kamera dan lampur sorot yang di letakkan
di sekitarnya, terlihat juga sepasanng laki-laki dan perempuan sedang duduk di
sana dengan di sorot oleh beberapa kameran dari beberapa sisi, aku hanya dapat
melihatnya dari kejauhan karena selebihnya sudah di halangi oleh orang dengan
badan yang lebih besar dariku, aku pun bertanya kepadanya "memang sedang
ada apa ini?" laki-laki berbadan besar ini
melihatku kemudian berbicara "sedang ada pengambilan gambar untuk
film bioskop" mendengar itu akupun takjub, ya baru pertama kali aku
melihat pengambilan gambar untuk film dengan kedua mataku
Akhirnya aku menjauh dari tempat itu
dan melihat pengambilan gambarnya dari seberang danau, awan semakin gelap
terlihat di atas tempat ini semakin gelap dan semakin gelap saja hingga sebutir
air hujan jatuh satu demi satu dari atas langit membuat semua kru berlarian
untuk melindungi peralatan mereka dengan berbagai macam cara, aku yang sudah
mempersiapkan payung kali ini tidak akan terkena hujan lagi, meski hujan tidak
terlalu deras tetap saja mereka semua kebingungan tetapi pengambilan gambar
terus saja di lakukan di tengah hujan
Setelah lama melihat aku akhinya bosan
sendiri dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 14:00 "sudah waktunya
pulang" kataku, akhirnya aku berjalan menuju gerbang taman untuk menuju
halte bus di kawasan perkantoran. Selama di bus terlihat langit gelap
sepertinya menyelimuti seluruh kota ini dan hujan terus saja turun, setelah
sampai di halte dekat rumahku aku turun dengan membuka payung karena hujan
belum juga reda
Selama berjalan melewati hujan nampak
hanya beberapa kendaraan yang lewat "memang menyebalkan bukan hujan di tengah
musim kemarau" kataku entah berbicara kepada siapa, aku terus berjalan
hingga terlihat rumahku dari kejauhan, terlihat beberapa orang tetanggaku
sepertinya sedang menyiapkan beberapa hal untuk acara malam nanti, aku menyapa
mereka ketika saling berpapasan kemudian melanjutkan langkahku hingga sampai di
rumah
"terasa membosankan sudah tidak
memiliki hal yang ingin di kerjakan" umpatku, aku duduk di ruang keluarga
sambil menyalakan televisi memindah siaran terus menerus tetapi semuanya siaran
hari in menurutku jelek jadi aku mematikannya dan berjalan menuju kamarku untuk
tidur, ketika berada di tempat tidur terdengar bunyi pesan masuk aku melihatnya
dan ternyata dari hikari san "apakah masih lama novelnya ivan kun?",
aku hanya melihatnya dan diam berpikir sejenak kemudian membalasnya "iya
hikari san masih lama tunggulah sebentar lagi" setelah membalas pesannya
aku menaruh smartphone di sampingku kemudian menutup mataku
Pagi hari jam 06:00 tanggal 17 agustus
terdengar suara orang ramai sekali melewati depan rumahku, aku akhirnya bangun
dari tidurku dan melihat jalan dari jendela kamarku, terlihat anak muda atau
orang kantoran sedang berlari menuju ke arah halte bus "memang ada apa sih
pagi-pagi begini orang-orang sudah sibuk" kataku sambil kembali tiduran di
tempat tidur dan menarik selimutku kembali
Sambil tiduran aku berpikir 'sekarang
tanggal brp sih' kemudian aku mengambil smartphoneku dan melihat sekarang
tanggal 17 agustus 'oia kalau dulu waktu SMA pasti aku juga pagi hari seperti
ini lari-lari ke halte bus untuk upacara di sekolah tetapi sekarang. . .
sekarang sudah tidak lagi jadi ya sudah' kataku dalam hati sambil melanjutkan
tidurku
Liburan sekolah sambil menunggu masuk
kuliah pada bulan september nanti begitu membosankan, tidak memiliki kegiatan
lagi hanya diam di kamar saja atau melakukan kegiatan sehari-hari benar-benar
membuat berakhirnya bulan agustus ini begitu sangat membosankan. Aku berharap
nanti masih bisa bertemu hikari san saat bulan september nanti ketika novelku
sudah selesai sebelum dia kembali ke jepang bersama tunanganya "aku hanya
ingin memberikan buku itu kepadanya, hanya itu saja yang bisa aku lakukan"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar