Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 6 ]

AGUSTUS



Melewati awal bulan agustus aku terus mengerjakan sisa novelku yang kurang sedikit lagi selesai, berbagai macam perasaan dan pikiran berkecamuk terkadang bahkan rasanya seakan hatiku ini sudah mati rasa saja hingga tidak dapat merasakan apapun, terkadang aku berpikir untuk menyerah saja ketika mengingat kembali bahwa hikari san sudah memiliki tunangan tetapi, tetapi aku masih ingin memberikan novel ini untuknya meski rasa sukaku ini tidak tersampaikan paling tidak lewat tulisan ini hikari san bisa mengerti apa yang sebenarnya di hatiku, selama beberapa minggu ini aku tidak ingin sama sekali mengirimi pesan kepada hikari san meskipun dia mengirimi pesan beberapa kali tetapi hanya aku acuhkan saja pesan itu karena ingin fokus dengan novelku

Hari demi hari terlewati dengan terus menulis novel ini, sendirian di ruang kamar aku ingin sekali menyelesaikannya dan memberikan hasilnya kepada hikari san "jika hikari san seandainya tidak mempunyai tunangan apakah dia mau menerimaku?" kataku pelan sambil menghentikan kegiatan menulis novelku, buku novel di meja tulisku terus saja aku pandangi tetapi tetap saja aku bingung menentukan endingnya seperti apa karena baru kali inilah aku benar-benar merasakan hal seperti ini


Akhirnya aku benar-benar menghentikan menulis novel dan berdiri dari kursiku berjalan melihat langit siang ini dari jendela di dalam kamarku "cerah sekali hari ini" kataku pelan, setelah melihat cuaca yang cerah dan tentu saja masih panas seperti biasanya aku mengambil jaket dari dalam lemariku kemudian berjalan keluar kamar menuju pintu depan rumah "berjalan-jalan sebentar mungkin bisa membuat ide untuk menulis datang" kataku

Sekarang masih jam 10 pagi jadi jalanan masih tidak terlalu ramai karena banyak orang masih berada dalam jam kerja jadi berjalan mengelilingi perumahaan mungkin bisa sedikit menyenangkan, berjalan dan terus berjalan tanpa arah kakiku melangkah hingga tiba di halte bus dekat rumahku, aku berhenti di situ dan hanya diam saja ketika bus datang membuka pintunya untuk penumpang yang turun atau masuk, tetapi aku tetap berdiri terdiam hingga bus itu berjalan kembali

'tetap saja aku tidak bisa memahami perasaanku saat ini' kataku dalam hati, akhirnya bus yang menuju kawasan perkantoran yang biasanya aku naiki ke taman datang dan berhenti di depanku, ada beberapa orang turun dari bus itu dan aku masih saja menatap pintu masuk itu sekilas seperti terlihat bayangan hikari san seperti melambai kepadaku dari dalam bus membuatku tiba-tiba berjalan masuk ke dalam bus. Aku tersadar ketika pintu bus menutup membuatku terpaksa duduk di dalam bus yang sepi penumpang itu, aku memilih duduk di bangku paling belakang sambil melihat jalanan yang tidak terlalu ramai pagi ini

Tidak terasa bus sudah berhenti di halte di kawasan perkantoran yang biasanya aku tuju beberapa bulan terakhir ini, masih diam aku duduk melihat pintunya terbuka rasa ragu menghantuiku untuk turun hingga akhirnya pintu bus menutup kembali hingga aku berteriak "tunggu pak" membuat supir bus menghentikan busnya dan melihat ke arahku yang sedang lari menuju pintu depan bus itu "saya turun sini" kataku dan akhirnya supir bus itu membuka pintunya

Bus itu sudah kembali berjalan menjauh dan aku masih saja berdiam di halte ini dari kejauhan nampak seorang perempuan dengan rambutnya yang indah tergerai berjalan menuju halte ini dari arah taman dengan membawa payung, aku berharap itu adalah hikari san sehingga aku masih tetap saja diam di halte sambil melihat dia datang ke sini, beberapa menit menunggu ternyata dia bukan orang yang ingin sekali aku jumpai "ivan" katanya kaget ketika melihatku berdiri di halte ini

"eh diana ya" kataku sedikit gugup, sungguh berbeda dia yang sekarang dengan beberapa waktu yang lalu ketika pentas sekolah, wajahnya sekarang sudah terlihat lebih bahagia menurutku tidak seperti dulu, "iya ivan bagaimana kabarmu?" tanya diana sambil berdiri berhadapan denganku masih memegang payungnya "eh baik-baik saja" jawabku dengan suara pelan, seperti menyadarinya diana kembali bertanya "yakin kamu baik-baik saja?" aku yang mendengar pertanyaanya hanya diam dan memalingkan muka saja

'apa tidak masalah cerita dengan diana' pikirku dengan keraguan yang sangat tidak bisa di bayangkan, "anu lebih baik kita cari tempat yang enak untuk ngobrol diana" kataku tiba-tiba diana hanya mengangguk dan bertanya "bagaimana kalau di taman?", 'taman?' aku masih diam dan berpikir untuk beberapa saat ketika diana menawari berbincang-bincang di taman, dengan ragu aku hanya mengangguk saja akhirnya kami berdua berjalan ke arah taman. Saat ini jalanan begitu sepi karena semua orang sedang sibuk bekerja beberapa menit berjalan dari halte akhirnya kami tiba di seberang taman setelah melihat ke kiri dan ke kanan kami menyeberangi jalan untuk menuju gerbang masuk taman tersebut

Pagi hari ini taman begitu sepi tidak terlihat satupun pengunjung lain selain kami berdua, rasanya begitu aneh buatku meski dulu pernah datang ke tempat ini bersama diana hanya saja ketika mengingat kejadian beberapa waktu kemarin dan sekarang berjalan berdua dengan diana benar-benar membuatku semakin merasa bersalah saja 'apa aku harus kembali bersama diana saja, atau tetap menunggu hikari san yang tidak mungkin aku dapat masuk ke dalam kehidupannya lebih dalam lagi' kataku dalam hati

Diana membuka percakapan setelah lama berjalan di taman dan hanya diam saja "apa kamu sudah menembak orang yang kamu sukai dulu ivan?", mendengar pertanyaan itu rasanya hatiku seperti di tusuk oleh pisau rasanya begitu sakit sekali meski dengan nada yang halus diana menanyakannya, "belum" jawabku bohong "lho kenapa belum? nanti keburu di tembak orang lain lho" diana berhenti melangkah sambil bertanya kepadaku, aku akhirnya berhenti melangkah dan membalikkan badanku untuk melihat diana yang berhenti di belakangku barusan

"tidak apa-apa" jawabku pelan, "mana bisa tidak apa-apa" kata diana dengan sedikit keras membuatku kaget mendengarnya "ya mau bagaimana lagi diana dia . . ." aku sudah tidak bisa melanjutkan kata-kataku di hadapan diana, dia melangkah maju dan melihatku dari jarak dekat membuat jantungku berdetak dengan kencang melihat diana dari jarak sedekat ini, "aaa . . . anu" kataku gugup sambil memalingkan wajahku "anu?" tanya diana membuatku semakin gugup akhirnya aku memegang kedua pundaknya dan mendorongnya sedikit kebelakang "begini jadi dia sebenarnya sudah mempunyai tunangan. . ." akhirnya kata-kata itu meluncur dari mulutku dengan rasa sakit yang kembali terasa di hatiku

Ketika mendengar kata-kataku mata diana membesar dan mulutnya sedikit terbuka kemudian di tutupnya dengan kedua tangan, saat itu rasanya dunia benar-benar ingin runtuh saja bayangkan saja perempuan di depanku saat ini beberapa waktu lalu menembakku tetapi aku menolaknya karena alasan menyukai perempuan lain tetapi, orang yang aku sukai ternyata sudah memiliki seorang tunangan. Diana akhirnya memegang kedua tanganku untuk melepaskannya dari pundaknya sehingga membuat payung di tanganya jatuh

Sekali lagi tanganku merasakan halusnya tangan diana perasaan aneh tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhkua rasanya ingin aku menangis dan memeluknya tetapi aku siapa diana sekarang 'aku hanya seseorang yang sudah mencampakan perasaanya dan sekarang aku ingin memelukan benar-benar bajingan aku ini' kataku mengumpat diriku sendiri. "kamu yang sabar ya ivan" begitu lembut sekali terdengar suara diana olehku, "iya diana" kataku sambil menarik kedua tanganku

Akhirnya kami melanjutkan langkah kami, diana mengambil payungnya yang jatuh barusan kembali berputar-putar di taman membuat kami lelah dan akhirnya memilih duduk di salah satu bangku di taman ini "lalu bagaimana diana? apa kamu sudah punya pacar" tanyaku tiba-tiba sehingga diana melihatku dan berkata "sudah, aku sekarang sudah pacaran sama andra" terdengar suaranya begitu berat untuk mengatakan hal itu "ow bagus kalau begitu kalian memang pasangan yang cocok" kataku mengimbuhinya

Cuaca panas hari ini yang begitu sangat menusuk di imbangi oleh angi sepoi-sepoi yang terasa sedikit menyegarkannya, daun-daun nampak terlepas dari ranting pohon tertiup dan terbang oleh angin membuat suasana benar-benar begitu aneh untukku tetapi entah kenapa ketika mendengar diana sekarang sudah berpacaran dengan andra membuatku sedikit lega "kamu tidak marah sama aku kan diana soal waktu itu" tanyaku, diana yang mendengar pertanyaanku hanya melihatku sambil tersenyum dan berkata "tidak kok abis mau bagaimana lagi meski mau marah atau melakukan yang lainnya aku tidak bisa merubah perasaanmu kepadanya" setelah mengatakan itu senyumannya menghilang dan hanya melihatku, kami saling menatap dalam waktu yang lama hingga akhirnya aku berpamitan pulang "baiklah kalau begitu aku pulang dulu ya diana" kataku sambil berdiri "ah iya ivan kamu jangan menyerah ya" diana berbicara sambil tersenyum membuatnya semakin cantik, akhirnya kami berpisah siang itu di taman ini entah kapan lagi waktu dapat mempertemukan kami kembali

Seakan-akan semangatku kembali meluap aku berjalan dengan semangat pulang ke rumah tetapi di tengah jalan dari kejauhan terlihat seorang perempuan  sedang menggandeng seorang laki-laki dan mereka saling tertawa, ya saat itu aku melihatnya memasuki taman ini berjalan ke arah tempat biasanya aku duduk, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaanku yang melihat mereka dari kejauhan "tidak salah lagi itu adalah . . . hikari san" kataku pelan

Ya sekali lagi hatiku sakit lebih sakit dari pada tadi seakan-akan sudah di cabik-cabik tubuhku ini, aku memilih menghindar dari pada bertemu mereka sudah cukup seperti ini saja melihat mereka dari kejauhan, kembali aku melangkah menuju halte di kawasan perkantoran untuk menunggu bus pulang ke rumah. Di dalam bus aku hanya diam dan berpikir 'benar-benar menyedihkan aku ini, menolak perempuan yang aku suka dan mengejar seorang perempuan yang ternyata sudah memiliki tunangan di tambah lagi aku berjanji kepadanya akan selalu menyukainya, benar-benar bodoh aku ini'

Sesampainya bus di halte kawasan rumahku aku pun turun dengan perasaan campur aduk tidak karuan, berjalan di bawah sinar matahari yang begitu panas benar-benar membantuku semakin depresi di siang hari ini. Akhirnya aku berdiri di depan rumahku sendiri tapi aku diam sesaat sambil melihat rumahku 'saat aku membutuhkan pertolongan pun keluargaku tidak ada di sisiku, mereka hanya sibuk dengan kehidupan mereka sendiri apa artinya uang mereka ketika kasih sayang tidak menyertainya' umpatku dalam hati, aku berjalan memasuki rumahku sambil membuka pagar dan kembali menutupnya

Pintu rumah aku buka "aku pulang" sapaku tetapi tetap saja tidak terdengar suara balasan dari dalam rumah, ingin rasanya aku kabur saja dan pergi tetapi aku tidak bisa melakukannya entah kenapa, aku berjalan menaiki tangga menuju kamarku di lantai 2. Di dalam kamar aku kembali membuka buku novelku dan kembali mengambil pensil untuk menulis sekali lagi 'kurang 1 bagian lagi dan selesai sudah' kataku dalam hati

Setelah berjalan sekitar 1 minggu akhirnya novel ini sudah selesai sampai bagian endingnya "akhirnya sekarang tinggal mencetaknya lalu memberikan kepada hikari san" kataku sambil merenggangkan badanku di kursi, aku menatap langit gelap dari tempatku duduk saat ini "lagi-lagi hujan datang di tengah musim kemarau" kataku dengan lemas, akhirnya aku menutup buku novelku dan meletakkan pensil di meja kemudian berjalan ke arah tempat tidur untuk istirahat, setelah merebahkan badan aku berkata pada diriku sendiri "kalau begitu besuk saja aku cetak"

Pagi hari ini udara kembali cerah aku hanya memakan selapis roti dengan selai coklat di tengahnya dan berjalan menuju halte bus di kawasan rumahku, baiklah tinggal menyerahkan ke percetakkan untuk mencetakknya lalu setelah itu kemana lagi ya oia sebentar lagi ulang tahun negaraku kan kataku sambil melihat tanggal di layar smartponeku "besuk lusa tanggal 17 agustus ya" kataku pelan hingga akhirnya bus yang aku tunggu datang dan membukakan pintunya

Memakan waktu hampir 1 jam perjalanan karena macetnya jalan akhirnya aku sampai di tempat percetakkan, setelah masuk dan berbicara dengan pegawainya akhirnya harga telah di sepakati aku menyerahkan buku novelku untuk mencetak 1 halaman sample dulu saja kataku, setelah membayar uang mukanya akhirnya aku meninggalkan tempat itu, jalanan siang ini begitu macet karena kurang 2 hari lagi ulang tahun indonesia jadi sepertinya beberapa orang sedang sibuk berbelanja untuk malam renungan tanggal 16 besok

Lama sekali aku menunggu bus di halte tetapi tidak terlihat satu pun bus yang akan datang akhirnya aku berjalan kaki menyusuri kawasan pertokoan ini, nampak banyak orang juga sedang berjalan melwati trotoar yang di penuhi oleh penjual kaki lama "ya seperti ini lah khasnya trotoar di indonesia" ucapku, aku meneruskan langkahku menyusuri trotoar ini hingga sampai di ujungnya terdapat toko alat musik yang ramai oleh pengunjung yang keluar masuk, lama aku berdiri di depan toko itu melihat alat musik sampai terdengar seseorang memanggil namaku "ivan"

Aku melihat ke arah orang yang memanggilku barusan "ow andra" sapaku, dia menghampiriku menggunakan seragam sama seperti pegawai toko yang lain, "apa kamu bekerja di sini?" tanyaku "iya van sambil menunggu masuk kuliah karena libur panjang aku bekerja sambilan di sini" katanya, "ow bagus kalau begitu" jawabku, andra menyuruhku masuk melihat-lihat ke dalam toko tetapi aku menolaknya karena aku juga tidak terlalu paham soal alat musik jadi setelah itu aku berpamitan untuk melanjutkan jalan-jalan tidak jelasku hingga halte berikutnya yang jaraknya bisa di bilang jauh dari halte sebelumnya

Akhirnya di halte itu terlihat 1 bus yang sedang menunggu penumpang aku pun berlari masuk ke dalamnya sebelum pintunya di tutup "untung saja masih sempat" kataku sedikit kelelahan karena berlari barusan, perjalanan begitu lama karena benar-benar macet hari ini mungkin semua sudah mulai libur ya hingga 1 jam lebih aku baru sampai rumah, di depan pagar terdapat selebaran undangan untuk datang ke malam renungan tanggal 16 agustus besuk

Tanggal 16 agustus pagi ini sedikit gelap awannya, sambil menunggu hasil cetak novel hari ini aku ingin sekali jalan-jalan ke taman tetapi tidak lupa aku membawa payung untuk berjaga-jaga apabila hujan tiba-tiba datang ketika aku berada di taman. Dengan santai aku berjalan melewati gedung-gedung perkantoran yang menjulang tinggi "ha tumben taman ini ramai sekali" kataku karena di depanku sekarang nampak banyak orang keluar masuk membawa berbagai macam peralatan yang tidak aku tahu sebelumnya sedang keluar masuk taman

Karena penasaran akupun berjalan memasuki taman melihat sedang apa sebenarnya orang-orang ini, ingin sekali rasanya mengirimi pesan kepada hikari san tetapi aku bingung ingin mengatakan apa lagi kepadanya ya karena sudah jelas aku tidak mungkin di terima di hatinya saat ini ataupun selamanya karena dia sudah mempunyai seorang tunangan, aku terus berjalan mengikuti beberapa orang yang sedang membawa banyak peralatan seperti lampu sorot dan kamera seperti di televisi

Di tempat aku duduk biasanya terlihat ramai oleh orang yang sedang memegang kamera dan lampur sorot yang di letakkan di sekitarnya, terlihat juga sepasanng laki-laki dan perempuan sedang duduk di sana dengan di sorot oleh beberapa kameran dari beberapa sisi, aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan karena selebihnya sudah di halangi oleh orang dengan badan yang lebih besar dariku, aku pun bertanya kepadanya "memang sedang ada apa ini?" laki-laki berbadan besar ini  melihatku kemudian berbicara "sedang ada pengambilan gambar untuk film bioskop" mendengar itu akupun takjub, ya baru pertama kali aku melihat pengambilan gambar untuk film dengan kedua mataku

Akhirnya aku menjauh dari tempat itu dan melihat pengambilan gambarnya dari seberang danau, awan semakin gelap terlihat di atas tempat ini semakin gelap dan semakin gelap saja hingga sebutir air hujan jatuh satu demi satu dari atas langit membuat semua kru berlarian untuk melindungi peralatan mereka dengan berbagai macam cara, aku yang sudah mempersiapkan payung kali ini tidak akan terkena hujan lagi, meski hujan tidak terlalu deras tetap saja mereka semua kebingungan tetapi pengambilan gambar terus saja di lakukan di tengah hujan

Setelah lama melihat aku akhinya bosan sendiri dan melihat jam sudah menunjukkan pukul 14:00 "sudah waktunya pulang" kataku, akhirnya aku berjalan menuju gerbang taman untuk menuju halte bus di kawasan perkantoran. Selama di bus terlihat langit gelap sepertinya menyelimuti seluruh kota ini dan hujan terus saja turun, setelah sampai di halte dekat rumahku aku turun dengan membuka payung karena hujan belum juga reda

Selama berjalan melewati hujan nampak hanya beberapa kendaraan yang lewat "memang menyebalkan bukan hujan di tengah musim kemarau" kataku entah berbicara kepada siapa, aku terus berjalan hingga terlihat rumahku dari kejauhan, terlihat beberapa orang tetanggaku sepertinya sedang menyiapkan beberapa hal untuk acara malam nanti, aku menyapa mereka ketika saling berpapasan kemudian melanjutkan langkahku hingga sampai di rumah

"terasa membosankan sudah tidak memiliki hal yang ingin di kerjakan" umpatku, aku duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisi memindah siaran terus menerus tetapi semuanya siaran hari in menurutku jelek jadi aku mematikannya dan berjalan menuju kamarku untuk tidur, ketika berada di tempat tidur terdengar bunyi pesan masuk aku melihatnya dan ternyata dari hikari san "apakah masih lama novelnya ivan kun?", aku hanya melihatnya dan diam berpikir sejenak kemudian membalasnya "iya hikari san masih lama tunggulah sebentar lagi" setelah membalas pesannya aku menaruh smartphone di sampingku kemudian menutup mataku

Pagi hari jam 06:00 tanggal 17 agustus terdengar suara orang ramai sekali melewati depan rumahku, aku akhirnya bangun dari tidurku dan melihat jalan dari jendela kamarku, terlihat anak muda atau orang kantoran sedang berlari menuju ke arah halte bus "memang ada apa sih pagi-pagi begini orang-orang sudah sibuk" kataku sambil kembali tiduran di tempat tidur dan menarik selimutku kembali

Sambil tiduran aku berpikir 'sekarang tanggal brp sih' kemudian aku mengambil smartphoneku dan melihat sekarang tanggal 17 agustus 'oia kalau dulu waktu SMA pasti aku juga pagi hari seperti ini lari-lari ke halte bus untuk upacara di sekolah tetapi sekarang. . . sekarang sudah tidak lagi jadi ya sudah' kataku dalam hati sambil melanjutkan tidurku

Liburan sekolah sambil menunggu masuk kuliah pada bulan september nanti begitu membosankan, tidak memiliki kegiatan lagi hanya diam di kamar saja atau melakukan kegiatan sehari-hari benar-benar membuat berakhirnya bulan agustus ini begitu sangat membosankan. Aku berharap nanti masih bisa bertemu hikari san saat bulan september nanti ketika novelku sudah selesai sebelum dia kembali ke jepang bersama tunanganya "aku hanya ingin memberikan buku itu kepadanya, hanya itu saja yang bisa aku lakukan"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar