MEI
Bulan ini udaranya masih sama seperti
bulan kemarin kami masih saling bertemu meski sedikit berkurang waktu
bertemunya karena aku awal minggu pada bulan ini sedang melakukan ujian akhir
sekolah selama 1 minggu di tambah ujian praktek pada minggu berikutnya, jadi
karena itu lah kami jadi jarang bertemu. Setelah minggu-minggu penuh tekanan ujian
akhirnya selesai kami kembali bertemu di taman itu, hari itu adalah hari jumat
yang masih panas udaranya aku sedang duduk di taman itu terus melanjutkan
mengerjakan novelku dia datang ke taman ini seperti biasanya membawa beberapa
kue dan minuman ringan, ya seperti itulah hari demi hari yang kami lewati
bersama di taman ini tanpa mengenal satu sama lainya bukan karena aku tidak
berani berkenalan tetapi hanya seperti ini saja sudah membuatku sedikit
mengerti indahnya dunia ini
Siang itu di sekolah aku masih tetap
berada di kantin hingga sebuah pesan singkat masuk ke smartphoneku, aku
menggeser kunci yang terlihat di layar sentuhnya dan menggesernya untuk membuka
tampilan window nya, sebuah pesan singkat dari sebuah nomer yang tidak aku
miliki di daftar contactku berisi "ivan kamu sedang dimana?", aku
menghiraukan pesan itu karena aku tidak mengenal dari sapa pesan itu datang
bisa saja hanya pesan yang salah kirim dengan nama yang kebetulan sama. Setelah
itu aku menaruh kembali smartphoneku di kantong celana dan berjalan menuju
ruangan kelasku selama perjalanan menuju kelas beberapa kali terasa
smartphoneku bergetar di celanaku 'sepertinya beberapa pesan masuk biarkan saja
lah'
Di depan pintu kelas nampak seorang
perempuan yang aku kenal sepertinya, mendengar suara sepatuku berjalan
mendekati pintu kelas dia melihat ke arahku "kenapa ekspresinya seperti
itu" tanyaku sendiri dengan suara pelan, dia lalu menghampiriku sebelum
mendekati pintu kelas "kamu kenapa tidak membalas pesan yang aku kirim
dari tadi" katanya dengan suara yang tegas membuatku sedikit takut
"soal itu karena aku mengira itu hanya pesan yang salah kirim saja
diana" jawabku seenaknya dengan perasaaan sedikit takut
"mana ada pesan salah kirim
sampai beberapa kali" katanya lagi dengan nada yang semakin tegas dan
membuatku terasa terpojok, "ya sapa tahu kan" jawabku seenaknya lagi
dan terasa sebuah pukulan mendarat di perutku, memang itu hanya pukulan dari
seorang perempuan tapi tetap saja masih terasa sakit "bodoh" katanya
sambil berjalan menjauhiku dan masuk ke dalam ruang kelas. Aku yang masih
kesakitan bertanya dalam pikiranku 'dia tahu nomerku dari mana ya perasaan
tidak banyak orang yang memiliki nomerku di kelas, sudahlah mungkin dia meminta
ketua kelas ya benar mungkin dia meminta nomerku dari ketua kelas. lalu untuk
apa?'
Suasana di dalam kelas sedikit sepi
dari penghuninya mungkin sebagian sedang berada di kantin atau tempat lainnya
di sekolah ini karena memang kami sudah tidak memiliki jadwal pelajaran apapun
hingga bulan juni saat wisuda. Aku duduk di bangkuku dan melihat ke arah diana
yang duduk sendirian sambil memaikan smartphonenya dia seperti sadar ada
seseorang yang melihatinya lalu kepalanya bergerak ke arahku membuatku sedikit
kaget dan berpura-pura melihat-lihat ke arah lain sambil sedikit-sedikit
mencuri pandang ke arahnya
Beberapa kali dia masih di bangkunya
tetapi ketika aku melihat ke arahnya dia sudah tidak berada di bangkunya lagi
"sudah pergi ya untunglah" kataku pelan sambil menghela nafas tetapi
tiba-tiba terdengar suara diana di dekatku "untung? memang aku
kenapa?" pertanyaan itu membuatku kaget dan melihat ke asal suara yang
berada di bangku depanku dengan ekspresi ketakutan "tidak ada"
jawabku singkat dan padat. "kamu ada acara hari ini?" tanyanya,
"hmm sepertinya tidak ada" jawabku dengan ragu-ragu "baiklah
nanti sepulang sekolah kamu ikut aku ya" jawabnya sambil berjalan menjauh
dariku "heee, hei hei tunggu diana" jawabku sedikit gugup mendengar
jawabanya tetapi dia tetap saja berjalan menghiraukanku memanggilnya
Bel pulang sekolah akhirnya terdengar
berbunyi, aku melangkah keluar kelas dengan langkah yang berat seakan tubuhku
seperti berjalan dengan borgol kaki dengan batu besar yang menahannya, aku
keluar dari dalam kelas dan melihat ke kiri dan ke kanan tetapi diana tidak
nampak terlihat "mungkin dia lupa" kataku dengan sedikit lega,
seperti terbebas dari borgol itu aku berjalan menuju gerbang sekolah seperti
melayang di udara tetapi kebahagiaan itu menghilang ketika melihat diana
berdiri di gerbang sekolah
Dari jarak beberapa meter dari tempat
diana berdiri aku diam membatu "sepertinya tidak seperti yang aku
bayangkan" kataku dengan lemas dan berjalan ke arah diana berdiri, melihat
aku datang dia melambai-lambaikan tanganya padahal waktu itu banyak murid
sekolah yang berada di dekat gerbang, melihat itu aku di buatnya malu meski di
belakang dan di depanku banyak murid yang berjalan ke arah yang sama denganku
tetapi aku sadar lambaian itu mengarah kepadaku, setelah berjalan sebentar aku
dan diana sudah bertemu "jadi kita mau kemana hari ini?" tanyaku
kepadanya
"hmm bagaimana kalau kita
berjalan-jalan ke mall dan tempat lainya?" tanyanya kepadaku "hmm
tetapi aku tidak pernah berjalan-jalan dengan seorang perempuan sama
sekali" jawabku mendadak dan membuatnya tertawa mendengar kata-kataku
"kamu cowok polos ya" katanya di lanjutkan dengan ketawa kembali
membuat murid yang berada di sekitar kami melihat ke arah kami "hei sudah
hentikan malu tahu" kataku kepadanya
Dalam bus kami hanya duduk
bersebelahan dan saling diam tanpa sepatah kata meluncur dari mulut kami 'ah
suasana aneh apa lagi ini' tanyaku dalam pikiranku sendiri dan tentu saja aku
juga tidak mengerti jawaban dari pertanyaanku sendiri itu, setelah bus berhenti di halte di salah satu
mall di kota kami dia dan aku turun dari bus, banyak sekali orang yang turun di
halte ini dan sepertinya tujuan mereka juga sama dengan kami. Perjalanan
siangini yang tidak terlalu lama menuju mall akhirnya selesai, banyak juga
orang yang turun di halte mall ini “ jadi mau kemana dulu kita sekarang?” tanyaku pada diana “hmm aku juga bingung,
lebih baik kita masuk saja dulu kedalam di sini panas” diana berkata sambil
melindungi matanya dari sinar matahari dengan kedua telapak tangannya
Memang hari ini matahari bersinar
begitu panas, dengan berjalan cepat kami memasuki lobby mall, udara panas di
luar langsung berubah drastis menjadi dingin karena pendingin ruangan yang
berada di dalam mall “wah rasanya nikmati sekali udaranya” ucap diana “ya
jelaslah namanya juga ada pendingin ruangannya” jawabku singkat. Setelah
berbicara singkat diana menarik tanganku “eh mau kemana sih” tanyaku kaget
“keliling saja dulu sambil melihat-lihat
toko pakaian atau yang lainnya” jawab diana tanpa melihat ke arahku, akhirnya
mau tidak mau aku juga mengikuti kemauan diana berkeliling mall
‘Rasanya sedikit bagaimana begitu
jalan berdua bersama diana hari ini’ kataku dalam hati, diana berhenti ketika
melihat sebuah tok opakaian bermerek dan berkata kepadaku “ayo kita masuk”
akupun hanya menjawab “ayo” dan mengikutinya masuk ke dalam toko, setelah masuk
barulah aku tahu ternyata toko ini hanya menjual pakaian dan aksesoris
perempuan saja dan yang masuk rata-rata juga perempuan sehingga ketika aku yang
berbeda jenisnya memasuki toko ini sepertinya seluruh mata melihat ke arah
kami, tetapi diana dengan cuek berkata “biarkan saja” mendengar kata-katanya aku membalasnya
“bagaimana kalau aku tunggu di luar saja?” “tidak perlu buat apa juga tunggu
aku di luar toko, sudah ikut saja tidak perlu di hiraukan mereka” jawab diana
dengan kembali menarik tanganku menuju salah satu etalase yang terlihat
memajang dompet dan aksesoris perempuan
Dengan semangat diana melihat isi
etalase itu dan meminta penjaganya untuk menagambilkan salah satu dompet dari
dalam etalase “permisi, mbak bisa lihat dompet yang ini tidak” tanyanya kepada
salah satu penjaga toko sambil menunjuk sebuah dompet, penjaga toko tersebut
hanya menjawab “iya” dan mengambilkan dompet yang diinginkan diana dari dalam
etalase “bagaimana ivan? Bagus tidak dompet ini?” tanya diana kepadaku “bagus
saja menurutku” . Setelah mendengar jawabanku tadi diana kembali melihat dompet
itu dengan teliti lalu berkata “baiklah aku ambil dompet ini” setelah itu dia
menyerahkan dompet itu kepada penjaga toko dan dibuatkannya nota pembelian
“Cuma beli itu saja?” tanyaku “ya di sini itu saja, kan masih banyak toko yang
lain” jawabnya singkat sambil menerima nota tersebut dan berjalan
meninggalkanku menuju kasir
Selesai membayar diana menghampiriku
yang masih berdiri di dekat etalase tadi dan mengajakku keluar dari toko, di
luar toko aku kembali berbicara “ketika kamu tadi ke kasir sebagian orang di
dalam sana melihatku dengan tatapan penuh waspada” “mungkin mereka mengira kamu
seperti pencuri” jawab diana sambil tertawa tertahan, tiba-tiba diana
menghentikan langkahnya membuatku juga ikut berhenti “kita ke lantai 2 yuk”
ajak diana “memang di lantai 2 ada apa?” tanyaku. “di sana lebih banyak toko
pakaian dan sejenisnya dari pada di lantai 1” jawabnya, dalam hati aku hanya
bisa berkata ‘benar-benar aku akan menjadi pesuruhnya hari ini’. Aku mau tidak
mau menyetujui ide diana dan kami kembali berjalan menuju tangga eskalator ke
lantai 2
Siang ini mall lumayan ramai
pengunjungnya meski hari biasa, tetapi terlihat yang mendominasi adalah murid-murid
sekolahan yang baru pulang dan masih mengenakan seragam dan kebanyakan dari
mereka hanya berputar-putar serta melihat-lihat saja. Di lantai 2 memang benar terdapat lebih banyak
toko pakaian dan toko lainnya, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah toko
olahraga dan berhenti berjalan diana juga sepertinya ikut berhenti dan
berbicara “mau melihat-lihat di toko itu?” sedikit kaget aku mendengar diana
yang berbicara barusan tetapi segera aku balas pertanyaanya “ayo” kami kemudia
berjalan menuju toko tersebut. Di dalamnya terdapat berbagai macam sepatu
olahraga dan peralatan lainnya, mataku kembali tertuju pada sebuah sepatu
dengan label “NEW ITEM” tanpa pikir panjang aku menghampirinya dan melihatnya
“sepatu yang bagus ivan” ucap diana “memang tetapi harganya terlalu mahal”
jawabku sambil memperlihatkan label harga yang berada di bawah sepatu tersebut
“1 juta? Mahal sekali hanya untuk sebuah sepatu” jawab diana sedikit kaget
“memang sih tetapi harganya sesuai dengan kualitasnya, sayang sekali kuantitas
di dalam dompetku tidak mencukupi” kataku dengan lemas sambil mengembalikan
sepatu itu pada tempatnya
Setelah keluar dari toko olahraga itu
terasa perutuku memberontak minta di isi “diana kita makan siang yuk” ajakku
“boleh kita makan di foodcenter aja bagaimana?” tanya diana kembali kepadaku
“hmm jangan deh kita makan ayam goreng saja di restorant cepat saji, tadi aku
melihatnya sebelum menaiki eskalator” jawabku , diana nampak setuju dengan
ideku dan kami kembali turun dari lantai ini ke lantai bawah untuk membeli
makan siang. Sesampainya di depan restorant itu terlihat banyak orang sedang
makan siang tetapi aku tetap masuk ke dalam di ikuti diana, setelah memesan
makanan yang di inginkan kami mencari meja dan menemukan 1 yang kosong dengan
cepat kami duduk sebelum di dahului orang lain “wah hampir saja” kataku lega,
diana yang mendengar perkataanku hanya tertawa
Aku menaruh tasku di bawah meja dan
memulai makan pesananku tadi, ketika sedang enak-enaknya makan tiba-tiba
terdengar seseorang memanggil nama diana “hei diana” suara perempuan itu
sepertinya aku pernah mendengarnya, tanpa menunggu lama rasa penasaranku
terjawab sudah ketika 3 orang murid perempuan yang berdiri di sebelah meja
kami, ternyata mereka adalah teman 1 kelas denganku dan diana juga “eh diana
kesini dengan siapa?” tanya salah seorang perempuan itu ‘apa mata kalian buta?
Sampai tidak melihat ada seseorang yang berada di depan diana’ umpatku dalam
hati
“ini sama ivan” jawab diana sambil
tersenyum “wow ternyata ivan ya” kata perempuan yang lainya sedikit kaget “ya”
jawabku singkat sambil meminum minuman soda yang berada di depanku, seperti
mengetahui respondku yang dingin dan tidak perduli dengan mereka, akhirnya
mereka permisi terlebih dahulu dan menghilang dari hadapan kami “dasar kelompok
gosip” diana berkata dengan nada kesal “ha kenapa diana?” tanyaku pura-pura
tidak mendengar apa yang barusan dia ucapkan “tidak apa-apa” jawabnya sambil
melanjutkan makannya kembali, setelah acara makan siang selesai kami berdua
keluar dari restorant tersebut, berbagai macam toko pakaian kami masuki hari
ini sampai tiba diana membeli pakaian yang kesekian kalinya dan tentu saja
tanganku yang kanan dan kiri sudah penuh dengan tas belanjaanya
"bagaimana ivan baju ini?"
dia keluar dari ruangan ganti pakaian dan memperlihatkan sebuah gaun berwarna
putih dengan hiasan yang simple,
sejujurnya melihat diana dengan pakaian itu aku juga terpukau "cantik"
jawabku singkat sambil terpukau melihatnya "bagus kalau begitu aku beli
ini" katanya sambil kembali memasuki ruang ganti pakaian, aku melihat jam
di smartphoneku saat diana membayar pakaian yang harganya sedikit mahal itu
"sudah jam 16:00" kataku pelan mungkin dia mendengar suaraku sehingga
dia melihatku sambil tersenyum yang semakin meperlihatkan wajahnya yang cantik
"kalau begitu kita jalan-jalan ke
taman saja aku tahu sebuah taman yang bagus di sekitar sini" jawabnya
sambil menyerahkan tas berisi beberapa pakaian di tanganya 'mungkin lebih tepat
aku hari ini seperti assistennya saja ya' kataku dalam pikiranku. Kami berjalan
melewati beberapa gedung yang belum pernah aku lihat dan kami akhirnya sampai
di taman yang biasanya aku datangi, "ini kan..." kataku pelan sambil
diana terus berjalan masuk
Kami berjalan melewati jalan yang di
taman yang dihiasi pepohonan di kiri dan kananya dan nampak danau yang biasanya
aku lihat, dia berjalan ke arah tempatku biasanya duduk setelah sampai di kursi
tempatku biasanya duduk dia berhenti dan duduk di sana. aku melihatnya dari
kejauhan dan menghampirinya duduk dan menaruh belanjaanya "kamu sering
berada di sini?" tanyaku kepadanya dengan ragu-ragu "ya ketika sore
menjelang malam kadang aku berada di tempat ini hanya saja baru kali ini aku datang
jam seperti ini ke sini"
Yang ada di pikiranku saat ini hanya
'semoga dia tidak datang hari ini, semoga aja' aku meyakinkan diriku yang penuh
keraguan duduk di taman ini saat ini, pembicaraanku dan diana berjalan lancar
saja kemana saja di bumbuhi sedikit tawa darinya membuatnya terlihat cantik,
aku melihat jam di smartphone yang menunjukkan pukul 17:00 membuatku sedikit
lega 'sepertinya hari ini dia tidak ke sini untunglah' kataku dalam pikiranku
hingga ketika kami ingin berjalan pulang dari tempat kami duduk berpapasan
dengan seorang perempuan yang aku kenal
Aku diana dan dia yang biasanya
bertemu aku di sini saling berpapasan suasana terasa sedikit canggung menderaku
dan juga nampak di wajah dia ketika melihatku berjalan di taman ini dengan
seorang perempuan yang mengenakan seragam sekolah yang sama, ketika kami
berjalan melewatinya aku dan dia saling melihat tanpa berkata apa-apa seakan
hanya dengan saling menatap mata dengan mata semua kata yang ingin aku dan dia
sampaikan telah tersampaikan, ya sampai saat ini aku dan dia saling tidak
mengenal nama masing-masing padahal kami saling bertemu tiap hari di taman ini
selama beberapa minggu dari bulan kemarin hingga saat ini
Aku dan diana memilih jalur yang
berbeda untuk menaiki bus dan menunggu di halte taman ini ketika matahari sore
sudah tenggelam di arah barat di gantikan gelapnya awan dan cahaya dari lampu
penerangan jalan "terima kasih buat hari ya ivan" katanya sambil
tersenyum kepadaku "ya sama-sama terima kasih juga untuk hari ini, oh iya
ini belanjaanmu" aku membalas
kata-katanya sambil menyerahkan beberapa tas berisi pakaian dan benda
lainya kepada diana "apa tidak masalah pulang sendirian?" tanyaku
mendadak membuat ekspresi dia sedikit kaget lalu tersenyum kembali "tidak
masalah kok" jawabnya
Bus yang diana tunggu akhirnya datang
di halte ini "kalau begitu aku pulang dulu ya ivan" katanya sambil
melambaikan tanganya dan berjalan masuk ke dalam bus, dia duduk di pinggir
jendela dan melihatku dari dalam bus sambil ternsenyum dan kembali melambaikan
tangganya hingga bus menutup pintunya dan kembali berjalan menjauh dari halte
ini, ketika bus itu sudah tidak nampak aku melihat ke belakang ke arah taman
'apa dia masih di sana' aku bertanya pada diriku sendiri dan mencoba
melangkahkan kakiku dengan berat menuju tempat duduk yang biasanya aku datangi
di taman ini
Aku melangkah dengan cepat menuju
kursi yang biasanya kami temui yang hanya di pikiranku saat ini 'hanya berharap
dia tidak berpikiran yang aneh tentang apa yang terjadi barusan tetapi kenapa
aku menghawatirkan akan hal seperti itu? memang aku siapa', suasana taman malam
hari sangat berbeda dengan saat siang hari. Ketika malam datang taman di
terangi lampu lampu di sekitar taman berwarna putih membuat suasana taman
menjadi romantis di tambah danau yang di terangi lampu sorot membuatnya
terlihat berkilauan bagaikan berlian
Dari kejauhan nampak seorang perempuan
sedang duduk di tempat aku biasanya berada di taman ini, wajahnya nampak
bercahaya terkena pantulan dari danau melihat itu aku tidak dapat menggambarkan
apa yang ada di pikiranku saat ini bahkan terasa jantungku seperti berdetak
dengan cepat dan tubuhku seperti tersengat aliran listrik membuatku sedikit
bergetar. Beberapa menit aku terdiam melihat pemandangan itu dan aku kembali
berjalan ke arah tempat dia duduk setelah berjalan sesaat aku berdiri di
sampingnya melihat itu dia menggerakkan wajahnya melihatku berdiri nampak
sebuah senyum tipis menghiasinya
"maaf soal tadi, kejadian itu
tidak seperti yang kamu pikirkan" aku berkata tanpa dapat berpikir apapun
saat ini, dia melihatku lalu menyuruhku duduk di sampingnya "duduklah
dulu", mendengar itu aku kemudian duduk di sampingnya dan tidak berani
menatapnya melainkan hanya menatap danau yang berada di depan kami. Suasana
malam di taman ini membuatku semakin canggung terdengar dia mengeluarkan suara
"memang apa yang ada di pikiranku tadi?"dia bertanya kepadaku
Aku juga bingung dengan pertanyaan itu
berbagai macam jawaban melintas di benakku dan membuatku semakin bingung
"mungkin kamu mengira kami sedang berpacaran di danau ini kan?"
tanyaku kembali kepadanya, mendengar itu dia melihat ke arahku sambil berkata
"memang kenapa kalau kamu berpacaran denganya" mendengar jawabanya
membuat aku ingin menjawabnya tetapi jawaban seperti apa akupun tidak mengetahuinya,
"kalau begitu aku permisi dulu" dia berkata dengan suara yang
terdengar lemah dan berjalan menjauhi tempat duduk ini semakin jauh dan semakin
jauh sampai dia tidak terlihat lagi
Di dalam bus bahkan di dalam kamarku
aku memejamkan mataku sambil mengingat kembali jawabanya tadi di taman
"memang kenapa kalau kamu berpacaran denganya" kata-kata itu terus
terngiang di telingaku bahkan sampai aku terlelap dalam tidur pertanyaan itu
masih saja menghampiri di alam mimpi aku ingin sekali mengatakan sesuatu tetapi
apa itu aku pun masih belum mengetahuinya
Senin pagi aku bangun sambil berkata
pada diriku sendiri "aku harus meminta maaf apapun yang terjadi dan apapun
alasanya bahkan jika itu karena hal yang tidak nyata", selama di kelas aku
lebih memilih diam bahkan ketika diana menyapaku sebelum jam pelajaran atau
saat istirahat aku lebih memilih diam atau sekedar berkata "ya" atau
"tidak", yang ada di pikiranku saat ini hanya kapan jam pelajaran
berakhir sehingga aku dapat datang lagi ke taman itu untuk bertemu dengannya
Udara hari ini masih terasa panas
seperti biasanya aku masih memainkan pulpen di tangan sambil duduk di bangkuku
hanya untuk menunggu bel berbunyi, terlihat andra sedang bersama teman-teman
berbincang banyak hal dan tertawa bersama sedangkan diana juga tidak terlalu
berbeda sedang berbincang dengan beberapa teman perempuannya, bel tanda pulang
sekolah akhirnya terdengar berbunyi murid-murid berbondong-bondong berjalan
keluar kelas masing-masing menuju ke berbagai tempat di sekolah ini, nampak
beberapa murid laki-laki dan perempuan berjalan ke ruang olahraga atau ke ruang
lab atau ke ruangan ektrakulikuler lain di sekolah ini sedangkan aku. Aku
berjalan dengan 1 tujuan yaitu menuju taman yang biasanya aku kunjungi hanya
untuk meminta maaf kepadanya
Di tengah jalan ketika aku akan menuju
gerbang sekolah diana menghadangku "hari ini kamu sibuk tidak sepulang
sekolah?" aku diam sambil berfikir sebentar kemudian menjawabnya "iya
aku sedang ada urusan hari ini", mendengar perkataanku diana terlihat
sedikit sedih dengan menundukkan kepalanya sedikit kemudian mengangkatnya
kembali sambil tersenyum "ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya
ivan" katanya sambil melambaikan tangan padaku dan berjalan menjauh dari
tempatku berdiri sekarang
Terselip sedikit perasaan iba melihat
respondnya mendengar kata-kataku tetapi aku sedang ada urusan yang lebih
penting hari ini, aku melanjutkan langkahku menuju gerbang dan menunggu bus di
halte depan sekolah untuk menuju ke arah taman. Berbagai macam perasaan terasa
di hatiku saat ini entah itu takut cemas atau berbagai macam hal lainnya, bus
yang aku tunggu akhirnya datang di dalamnya terlihat tidak terlalu ramai oleh
penumpang sehingga aku masih bisa duduk di salah satu kursinya
Siang itu jalanan sedikit macet sehingga
waktu perjalanan yang di tempuh untuk menuju halte di kawasan perkantoran yang
biasanya sedikit lebih lama dari biasanya, aku turun di halte biasanya dan
berjalan melewati gedung-gedung perkantoran menuju taman. Aku berdiri terdiam
untuk sesaat di gerbang masuk menuju taman dengan perasaan yang masih tidak
menentu mungkin lebih tepatnya perasaan bersalah tetapi bersalah kenapa?
padahal dia juga tidak memusingkan ketika aku dan diana berada di taman ini
lalu kenapa aku merasa gelisah mendenger jawabannya kemarin malam, akupun juga
tidak tahu mengapa
Berjalan melewati barisan pepohonan di
sisi kiri dan kanan tujuanku hanya ke tempat yang biasanya aku kunjungi di
taman ini, di kejauhan nampak seorang perempuan sedang duduk di tempat itu
melihat hal itu aku mempercepat langkahku, semakin cepat dan semakin cepat
langkahku menuju tempat itu beberapa menit berjalan aku akhirnya sampai di
dekat tempat itu. Nampak seorang perempuan yang aku kenal sedang duduk terdiam
melihat ke arah danau seakan-akan tidak memperdulikan apa yang ada di
sekitarnya dengan tatapan sedih
Aku mendekat dengan sedikit ragu ke
tempat dia duduk, ketika aku berdiri di samping dia duduk aku sedikit membuka
mulutku untuk mengatakan kata maaf sekali lagi yang aku sendiri tidak tahu
kenapa aku meminta maaf "aku ingin meminta maaf lagi soal . . . "
sebelum aku menyelesaikan perkataanku yang lemah ini dia mengatakan suatu hal
"kamu tidak perlu meminta maaf soal kemarin sebaliknya aku lah yang
seharusnya meminta maaf" katanya pelan "kenapa?" tanyaku
penasaran
"kemarin aku bersifat seperti
anak kecil mengatakan hal sekejam itu kepadamu karena aku sedang mengalami
masalah yang bersifat pribadi akhir-akhir ini" lanjutnya lagi, mendengar
perkataanya aku masih diam berdiri seperti tadi dan mulai bertanya lagi
kepadanya "masalah pribadi ya". Mungkin karena mendengar kata-kataku
dia melihat ke arahku sambil tersenyum dan berkata "jadi kamu mau kan
memaafkanku . . .", "ah iya kita belum saling mengenal nama satu sama
lainya meski kita sudah lumayan lama bersama-sama di sini" mendengar
perkataanya aku jadi teringat memang benar kami belum saling mengenal nama
masing-masing tetapi seharusnya bertemu dia setiap hari di sini sudah lebih
dari cukup untukku
"aku akan memperkenalkan namaku
dengan bahasa indonesia saja ya, namaku adalah attakai hikari senang berkenalan
denganmu . . ." dia berbicara sambil mengulurkan tangan kananya kepadaku
sehingga aku juga mengulurkan tangan kananku dan menjabat tanganya sambil
berbicara "ivan chandra senang berkenalan denganmu juga attakai",
waktu terasa seperti terhenti di sekitarku udara panas di siang hari seakan
lenyap seketika di gantikan angin sepoi-sepoi yang terasa sejuk menerpa tubuhku
ketika memegang tangannya yang halus
Sedikit lama aku memegang tanganya
sampai dia berbicara dan menyadarkanku "ivan kun kamu tidak perlu memegang
tanganku seperti itu begitu lama . . ." aku langsung melepas tanganku
sambil berkata "maaf" sambil menunduk malu. "sudahlah tidak
masalah kok oia kamu tidak perlu memanggilku dengan nama keluargaku kamu bisa
memanggil nama depanku saja" katanya pelan dan halus yang terdengar di
telingaku bahkan sampai terasa di jantungku
"nama depan? memang attakai itu
bukan nama depan ya?" tanyaku sedikit bingung, dia menyilakan aku duduk di
sampingnya dan di jelaskannya bahwa nama depannya adalah hikari sedangkan nama
keluarganya adalah attakai, dia juga menjelaskan arti dari namanya hikari
adalah cahaya dan attakai adalah hangat jadi arti namanya adalah cahaya yang
hangat jika di artikan dalam bahasa indonesia. Mendengar dia berbicara dengan
sedikit semangat tentang menjelaskan arti namanya yang berasal dari bahasa
jepang ke dalam bahasa indonesia membuatku melupakan semua perasaan yang tadi
terasa ketika sebelum bertemu dengannya. "jadi aku harus memanggilmu
dengan hikari san?" kataku sedikit ragu, sedangkan dia hanya mengangguk
dengan tersenyum
"kamu tidak mengerjakan novelmu
hari ini" dia bertanya kepadaku, aku hanya menggelengkan kepala dan
berkata "tidak tujuanku hari ini sebenarnya datang ke sini untuk meminta
maaf kepadamu saja" mendengar perkataanku dia langsung meminta maaf
kepadaku "maaf ya aku tidak bermaksud seperti itu kemarin hanya saja . .
." dia menghentikan kata-katanya dan melanjutkan lagi setelah terdiam
beberapa saat "well bagaimana jika aku mentraktirmu sesuatu untuk membalas
rasa bersalahku ini" katanya membuatku sedikit kaget "tidak tidak
perlu seperti itu bertemu di sini saja seperti ini sudah merupakan hal yang
membahagiakan buatku" kataku pelan membuat ekpresi di wajah hikari berubah
sedikit kaget dan memerah wajahnya
"ah bukan seperti itu maksudku .
. ." kataku pelan sambil menunduk, dia terdengar tertawa sedikit lalu
berdiri dari duduknya dan berjalan serta memanggilku "ivan kun jika kamu
terus berada di situ aku tidak akan mentraktirmu lho" mendengar
perkataanya aku langsung bangkit dan lari mengejarnya yang sudah berjalan
sedikit jauh. Selama berada di bus hampir semua orang memandangi kami berdua
mungkin mereka semua sedikit heran melihat perempuan yang berkulit putih dan memiliki
wajah imut serta cantik duduk bersama seorang laki-laki biasa sepertiku
Hikari membisikkan sebuah kata-kata
kepadaku "kowai" aku yang mendengarnya sedikit bingung apa artinya
tetapi aku mengingat sekilas artinya dari anime yang biasanya aku tonton yang
artinya adalah menakutkan, aku lalu berkata kepadanya dengan pelan
"mungkin mereka jarang melihat perempuan kawai sepertimu berada di bus
seperti ini dan duduk bersama bocah sepertiku" mendengar perkataanku dia
tertawa tertahan dengan tangan menutup mulutnya kemudian berkata "ivan kun
kamu itu ada-ada saja"
Meski dia bukan orang negara ini
tetapi sepertinya dia sering berjalan-jalan sehingga lebih mengetahui beberapa
tempat yang bahkan aku sendiri yang sudah tinggal di kota ini sejak lahir tidak
mengetahuinya hingga saat ini, kami berjalan berdua dan masih tetap ketika
orang-orang melihat kami bersama seakan-akan melihat pemandangan yang aneh
namun aku tetap merasa wajar jika melihat kami seperti itu. Aku dan hikari
menuju salah satu tempat penjual es kelapa muda yang berada sedikit tersembunyi
dan tempatnya yang agak jauh dari taman tempat kami biasa bertemu
"aku dengan gula merah ya pak,
kalau kamu ivan kun mau yang pakai gula putih apa gula merah?" hikari
menanyaiku yang masih melihat tempat jualan ini yang berada di teras sebuah
rumah yang memiliki pohon besar di depanya "aku sama dengan hikari san
saja" jawabku sekenannya, setelah memesan pesanan kami duduk di salah satu
meja dan hikari san mulai kembali bercerita kesana kemari tentang negaranya dan
tentu saja tentang selama dia tinggal di sini, perubahan emosinya begitu cepat
sampai aku sendiri tidak memahaminya tetapi yang jelas dia sekarang nampak
begitu ceria dari pada tadi di taman saat kita baru bertemu setelah kejadian 2
hari yang lalu
Karena udara hari itu begitu panas
kami berdua meminum es kepala muda ini dengan semangat di tambah lagi aku baru
pertama kali meminum es ini di tambah meminumnya hanya berdua dengan seorang
perempuan, segelas es kelapa muda habis dengan cepat setelah meminumnya hikari
san bertanya kepadaku "oia ivan kun . . .", "ya hikari san ada
apa?" tanyaku sambil melihat ke arah hikari san "itu boleh tidak kita
saling bertukar nomer telepon" katanya halus membuatku sedikit kaget juga
mendengar perkataanya 'ha bertukar nomer? ini bukan mimpi bukan? kalau ini
mimpi tolong siapapun jangan membangunkanku' aku berkata kepada diriku sendiri
sambil tangan kiriku menjewer kakiku "aaww" kataku sedikit menjerit
membuat hikari san kaget "kenapa ivan kun?" tanya hikari san kepadaku
"tidak ada apa-apa hanya barusan
ada semut menggigit kakiku" jawabku asal membuat hikari san menjadi tenang
'ternyata bukan mimpi' kataku menenangkan diriku sendiri, "ah tentu saja
boleh hikari san ini nomerku . . . ", "baiklah sudah aku simpan aku
coba telpon ya jangan di angkat lho" katanya, nada ringtone di
smartphoneku terdengar dan terlihat sebuah nomer yang belum ada di daftar
contact ku "simpan ya itu nomerku" katanya sambil tersenyum
"tentu saja hikari san" aku menjawabnya dengan semangat juga sambil
menyimpan nomernya di dalam contactku, mungkin ini kejadian pertama dalam
hidupku dan merupaka sejarah tersendiri untukku
"baiklah ivan kun kita berpisah
di sini ya sudah sore nanti kamu di cari orang tuamu kalau pulang dari sekolah
tanpa kabar seperti ini" ucap hikari san, "apa tidak masalah kamu
pulang sendiri apa perlu aku temani?" tanyaku kepada hikari san
"tidak tidak perlu kok aku sudah terbiasa juga keluar sendirian"
katanya dengan sedikit lemas, saat itu kami sedang menunggu bus di halte yang
agak jauh dari tempat kami membeli es kelapa muda tadi, bus yang seharusnya aku
naiki berhenti tetapi aku tidak menaikinya dan membiarkannya berjalan kembali,
melihat itu hikari san bertanya kepadaku "kenapa? bukanya itu tadi bus
yang menuju ke rumahmu ivan kun?", "tidak apa-apa mana mungkin
seorang laki-laki membiarkan seorang perempuan pulang sendirian ke rumahnya apa
lagi aku sudah di traktir minum es barusan" jawabku, melihat aku
mengatakan itu hikari san sedikit tertawa kemudian tersenyum dan berkata
"terima kasih", aku sendiri juga bingung berasal dari mana kata-kata
seperti itu keluar dari mulutku seperti bukan diriku biasanya saja mengucapkan
hal seperti itu
Bus yang menuju tempat tinggal hikari
san sudah tiba kami menaikinya dan duduk di salah satu barisan bangku di
belakang, selama perjalanan menuju tempat tinggalnya aku lebih banyak diam
karena bingung ingin memulai bicara apa lagi dengan topik apa lagi. "anu
hikari san kamu tinggal dimana memang?" hikari san melihatku ketika
mendengar pertanyaanku "hmm aku sih menyewa sebuah rumah bersama beberapa
teman perempuanku yang berasal dari jepang juga" katanya dengan sedikit
berfikir ntah apa yang sedang di pikirkanya saat ini, "ow begitu ya"
jawabku singkat "kalau ivan kun tinggal dengan siapa?" hikari san
berbalik bertanya kepadaku, "hmm aku tinggal dengan kedua orang tua ku dan
kakak perempuanku hanya saja orang tuaku sedang tidak di rumah karena faktor
kerjaan mereka jadi bisa di bilang mereka sekarang berada di luar negeri untuk
saat ini sedangkan kakakku karena kuliah di luar kota dia kost juga di kota
tempat dia kuliah, jadi tinggal aku sendirian tinggal di rumah" jawabku
dengan santai, ya memang aku tinggal sendirian di rumah karena orang tuaku
sekarang sedang dinas di luar negeri sedangkan kakaku berada di luar kota untuk
kuliah di salah satu universitas favorite
Setelah perjalanan selama 20 menit
akhirnya bus berhenti di halte dimana kami akan turun, setelah kami turun bus
kembali berjalan hikari san berjalan menjauh dari halte sedangkan aku
mengikutinya di sebelahnya "apa masih jauh hikari san?" tanyaku
penasaran, "hmm tidak kok mungkin melewati beberapa blok kita akan
sampai" jawabnya dengan wajah masih tersenyum, memang benar ketika kami
melewati beberapa blok rumah akhirnya kami tiba di rumah tempat tinggal hikari
san dari luar rumah itu di bilang biasa saja hanya rumah 2 lantai di tambah
sebuah taman yang terlihat sedikit besar, aku masih terus melihat rumah itu
ketika hikari san memanggilku "ivan kun apakah kamu mau mampir?", aku
masih bingung ingin menjawab apa ketika mulutku akan mengatakan sesuatu
tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat beberapa perempuan yang wajahnya
hampir mirip hikari san berada di depan pintu sambil berkata "hikari chan
siapa anak itu?", aku yang mendengar hanya bisa kembali diam tanpa
bereaksi apapun karena baru pertama kali ini aku mengantar seorang perempuan
sampai di depan rumahnya bahkan sampai di ketahui teman-temanya membuatku malu
hingga tidak dapat memikirkan apapun
"ah dia temanku kok" jawab
hikari san kepada teman-temanya, "ya sudah ajak mampir saja tidak enakkan
jauh-jauh mengantarmu hanya sampai di depan pagar saja" kata mereka sambil
terus mengamatiku dari depan pintu aku yang menyadari itu semakin malu saja di
buatnya "ah benar juga ya ayo ivan kun mampir ke dalam" ajak hikari
san tetapi aku langsung menjawabnya "ah tidak usah repot-repot sampai sini
saja aku sudah senang kok" kataku seperti orang bodoh 'waaaa aku salah
bicara mati aku' kataku dalam hati. Hikari san dan teman-temanya yang mendengar
kata-kataku langsung tertawa terdengar mereka berkata "kenapa kamu
senang?ah jangan-jangan kamu menyukai hikari chan ya ivan kun?" mendengar
itu aku semakin malu, sedangkan hikari san menyangga pertanyaan teman-temanya
"mana mungkin kalian aneh-aneh saja" aku pun akhirnya mengeluarkan
kembali kata-kataku "kalau begitu aku pualng dulu hikari san"
"ah iya ivan kun apa tidak apa-apa?" tanyanya, "tidak masalah
kalau begitu sampai berjumpa besuk hikari san" jawabku sambil tersenyum
dengan paksa karena malu, sebelum hikari san menjawab teman-temanya kembali
mengeluarkan kata-katanya "wah masih ada besuk lagi ternyata aku jadi
penasaran" mendengar itu aku langsung berjalan pergi kembali ke arah halte
dengan cepat, aku tidak melihat bagaimana ekspresi hikari san saat itu
Sebuah pesan masuk ke dalam
smartphoneku membuatnya bergetar dan mengeluarkan nada pemberitahuan, aku
mengambil smartphone dari saku celana dan membuka pesanya yang ternyata dari
hikari san "maaf ya ivan kun teman-temanku memang begitu jadi tolong di
maklumi" melihat pesan itu di dalam bus menuju rumahku aku hanya diam
sambil tersenyum sendiri mungkin orang lain akan menganggapku orang gila ketika
tersenyum sendiri sambil melihat smartphoneku, akhirnya aku membalas
"tidak apa-apa kok hikari san meski hanya mengantarmu sampai depan rumah
saja sudah membuatku bahagia" ketika pesan telah terkirim aku akhirnya
sedikit tersadar sambil berbicara "aduh mati aku hikari san pasti berfikir
yang aneh-aneh dengan pesanku seperti itu", aku mengecek pesan itu dan
ingin membatalkanya tetapi pesan sudah terkirim dan mendapat balasanya
"kamu ini lucu sekali ivan kun sampai bertemu besuk di taman ya"
melihat pesan balasan itu hatiku seakan-akan mencair 'masih ada hari esok ya,
aku sudah tidak sabar menantinya'
Sepertinya saat ini aku mulai sedikit
paham indahnya dunia ini karena bertemu hikari san, aku bahkan tidak pernah
bermimpi akan bertemu seorang malaikat seperti dia di taman itu. Hari demi hari
kami semakin lebih akrab, hikari san sering mengirimi aku pesan ketika dia di
rumah atau ketika dia sedang menungguku yang datang terlambat ke taman bulan
mei yang masih berada di musim kemarau pun terlewati dengan sebuah cahaya
hangat yang menyinari hatiku yang gelap dan dingin ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar