Minggu, 15 September 2013

Sun Dry Season [ Part 3 ]

MEI



Bulan ini udaranya masih sama seperti bulan kemarin kami masih saling bertemu meski sedikit berkurang waktu bertemunya karena aku awal minggu pada bulan ini sedang melakukan ujian akhir sekolah selama 1 minggu di tambah ujian praktek pada minggu berikutnya, jadi karena itu lah kami jadi jarang bertemu. Setelah minggu-minggu penuh tekanan ujian akhirnya selesai kami kembali bertemu di taman itu, hari itu adalah hari jumat yang masih panas udaranya aku sedang duduk di taman itu terus melanjutkan mengerjakan novelku dia datang ke taman ini seperti biasanya membawa beberapa kue dan minuman ringan, ya seperti itulah hari demi hari yang kami lewati bersama di taman ini tanpa mengenal satu sama lainya bukan karena aku tidak berani berkenalan tetapi hanya seperti ini saja sudah membuatku sedikit mengerti indahnya dunia ini

Siang itu di sekolah aku masih tetap berada di kantin hingga sebuah pesan singkat masuk ke smartphoneku, aku menggeser kunci yang terlihat di layar sentuhnya dan menggesernya untuk membuka tampilan window nya, sebuah pesan singkat dari sebuah nomer yang tidak aku miliki di daftar contactku berisi "ivan kamu sedang dimana?", aku menghiraukan pesan itu karena aku tidak mengenal dari sapa pesan itu datang bisa saja hanya pesan yang salah kirim dengan nama yang kebetulan sama. Setelah itu aku menaruh kembali smartphoneku di kantong celana dan berjalan menuju ruangan kelasku selama perjalanan menuju kelas beberapa kali terasa smartphoneku bergetar di celanaku 'sepertinya beberapa pesan masuk biarkan saja lah'


Di depan pintu kelas nampak seorang perempuan yang aku kenal sepertinya, mendengar suara sepatuku berjalan mendekati pintu kelas dia melihat ke arahku "kenapa ekspresinya seperti itu" tanyaku sendiri dengan suara pelan, dia lalu menghampiriku sebelum mendekati pintu kelas "kamu kenapa tidak membalas pesan yang aku kirim dari tadi" katanya dengan suara yang tegas membuatku sedikit takut "soal itu karena aku mengira itu hanya pesan yang salah kirim saja diana" jawabku seenaknya dengan perasaaan sedikit takut

"mana ada pesan salah kirim sampai beberapa kali" katanya lagi dengan nada yang semakin tegas dan membuatku terasa terpojok, "ya sapa tahu kan" jawabku seenaknya lagi dan terasa sebuah pukulan mendarat di perutku, memang itu hanya pukulan dari seorang perempuan tapi tetap saja masih terasa sakit "bodoh" katanya sambil berjalan menjauhiku dan masuk ke dalam ruang kelas. Aku yang masih kesakitan bertanya dalam pikiranku 'dia tahu nomerku dari mana ya perasaan tidak banyak orang yang memiliki nomerku di kelas, sudahlah mungkin dia meminta ketua kelas ya benar mungkin dia meminta nomerku dari ketua kelas. lalu untuk apa?'

Suasana di dalam kelas sedikit sepi dari penghuninya mungkin sebagian sedang berada di kantin atau tempat lainnya di sekolah ini karena memang kami sudah tidak memiliki jadwal pelajaran apapun hingga bulan juni saat wisuda. Aku duduk di bangkuku dan melihat ke arah diana yang duduk sendirian sambil memaikan smartphonenya dia seperti sadar ada seseorang yang melihatinya lalu kepalanya bergerak ke arahku membuatku sedikit kaget dan berpura-pura melihat-lihat ke arah lain sambil sedikit-sedikit mencuri pandang ke arahnya

Beberapa kali dia masih di bangkunya tetapi ketika aku melihat ke arahnya dia sudah tidak berada di bangkunya lagi "sudah pergi ya untunglah" kataku pelan sambil menghela nafas tetapi tiba-tiba terdengar suara diana di dekatku "untung? memang aku kenapa?" pertanyaan itu membuatku kaget dan melihat ke asal suara yang berada di bangku depanku dengan ekspresi ketakutan "tidak ada" jawabku singkat dan padat. "kamu ada acara hari ini?" tanyanya, "hmm sepertinya tidak ada" jawabku dengan ragu-ragu "baiklah nanti sepulang sekolah kamu ikut aku ya" jawabnya sambil berjalan menjauh dariku "heee, hei hei tunggu diana" jawabku sedikit gugup mendengar jawabanya tetapi dia tetap saja berjalan menghiraukanku memanggilnya

Bel pulang sekolah akhirnya terdengar berbunyi, aku melangkah keluar kelas dengan langkah yang berat seakan tubuhku seperti berjalan dengan borgol kaki dengan batu besar yang menahannya, aku keluar dari dalam kelas dan melihat ke kiri dan ke kanan tetapi diana tidak nampak terlihat "mungkin dia lupa" kataku dengan sedikit lega, seperti terbebas dari borgol itu aku berjalan menuju gerbang sekolah seperti melayang di udara tetapi kebahagiaan itu menghilang ketika melihat diana berdiri di gerbang sekolah

Dari jarak beberapa meter dari tempat diana berdiri aku diam membatu "sepertinya tidak seperti yang aku bayangkan" kataku dengan lemas dan berjalan ke arah diana berdiri, melihat aku datang dia melambai-lambaikan tanganya padahal waktu itu banyak murid sekolah yang berada di dekat gerbang, melihat itu aku di buatnya malu meski di belakang dan di depanku banyak murid yang berjalan ke arah yang sama denganku tetapi aku sadar lambaian itu mengarah kepadaku, setelah berjalan sebentar aku dan diana sudah bertemu "jadi kita mau kemana hari ini?" tanyaku kepadanya

"hmm bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke mall dan tempat lainya?" tanyanya kepadaku "hmm tetapi aku tidak pernah berjalan-jalan dengan seorang perempuan sama sekali" jawabku mendadak dan membuatnya tertawa mendengar kata-kataku "kamu cowok polos ya" katanya di lanjutkan dengan ketawa kembali membuat murid yang berada di sekitar kami melihat ke arah kami "hei sudah hentikan malu tahu" kataku kepadanya

Dalam bus kami hanya duduk bersebelahan dan saling diam tanpa sepatah kata meluncur dari mulut kami 'ah suasana aneh apa lagi ini' tanyaku dalam pikiranku sendiri dan tentu saja aku juga tidak mengerti jawaban dari pertanyaanku sendiri itu,  setelah bus berhenti di halte di salah satu mall di kota kami dia dan aku turun dari bus, banyak sekali orang yang turun di halte ini dan sepertinya tujuan mereka juga sama dengan kami. Perjalanan siangini yang tidak terlalu lama menuju mall akhirnya selesai, banyak juga orang yang turun di halte mall ini “ jadi mau kemana dulu kita sekarang?”  tanyaku pada diana “hmm aku juga bingung, lebih baik kita masuk saja dulu kedalam di sini panas” diana berkata sambil melindungi matanya dari sinar matahari dengan kedua telapak tangannya

Memang hari ini matahari bersinar begitu panas, dengan berjalan cepat kami memasuki lobby mall, udara panas di luar langsung berubah drastis menjadi dingin karena pendingin ruangan yang berada di dalam mall “wah rasanya nikmati sekali udaranya” ucap diana “ya jelaslah namanya juga ada pendingin ruangannya” jawabku singkat. Setelah berbicara singkat diana menarik tanganku “eh mau kemana sih” tanyaku kaget “keliling saja dulu sambil melihat-lihat  toko pakaian atau yang lainnya” jawab diana tanpa melihat ke arahku, akhirnya mau tidak mau aku juga mengikuti kemauan diana berkeliling mall

‘Rasanya sedikit bagaimana begitu jalan berdua bersama diana hari ini’ kataku dalam hati, diana berhenti ketika melihat sebuah tok opakaian bermerek dan berkata kepadaku “ayo kita masuk” akupun hanya menjawab “ayo” dan mengikutinya masuk ke dalam toko, setelah masuk barulah aku tahu ternyata toko ini hanya menjual pakaian dan aksesoris perempuan saja dan yang masuk rata-rata juga perempuan sehingga ketika aku yang berbeda jenisnya memasuki toko ini sepertinya seluruh mata melihat ke arah kami, tetapi diana dengan cuek berkata “biarkan saja”  mendengar kata-katanya aku membalasnya “bagaimana kalau aku tunggu di luar saja?” “tidak perlu buat apa juga tunggu aku di luar toko, sudah ikut saja tidak perlu di hiraukan mereka” jawab diana dengan kembali menarik tanganku menuju salah satu etalase yang terlihat memajang dompet dan aksesoris perempuan

Dengan semangat diana melihat isi etalase itu dan meminta penjaganya untuk menagambilkan salah satu dompet dari dalam etalase “permisi, mbak bisa lihat dompet yang ini tidak” tanyanya kepada salah satu penjaga toko sambil menunjuk sebuah dompet, penjaga toko tersebut hanya menjawab “iya” dan mengambilkan dompet yang diinginkan diana dari dalam etalase “bagaimana ivan? Bagus tidak dompet ini?” tanya diana kepadaku “bagus saja menurutku” . Setelah mendengar jawabanku tadi diana kembali melihat dompet itu dengan teliti lalu berkata “baiklah aku ambil dompet ini” setelah itu dia menyerahkan dompet itu kepada penjaga toko dan dibuatkannya nota pembelian “Cuma beli itu saja?” tanyaku “ya di sini itu saja, kan masih banyak toko yang lain” jawabnya singkat sambil menerima nota tersebut dan berjalan meninggalkanku menuju kasir

Selesai membayar diana menghampiriku yang masih berdiri di dekat etalase tadi dan mengajakku keluar dari toko, di luar toko aku kembali berbicara “ketika kamu tadi ke kasir sebagian orang di dalam sana melihatku dengan tatapan penuh waspada” “mungkin mereka mengira kamu seperti pencuri” jawab diana sambil tertawa tertahan, tiba-tiba diana menghentikan langkahnya membuatku juga ikut berhenti “kita ke lantai 2 yuk” ajak diana “memang di lantai 2 ada apa?” tanyaku. “di sana lebih banyak toko pakaian dan sejenisnya dari pada di lantai 1” jawabnya, dalam hati aku hanya bisa berkata ‘benar-benar aku akan menjadi pesuruhnya hari ini’. Aku mau tidak mau menyetujui ide diana dan kami kembali berjalan menuju tangga eskalator ke lantai 2

Siang ini mall lumayan ramai pengunjungnya meski hari biasa, tetapi terlihat yang mendominasi adalah murid-murid sekolahan yang baru pulang dan masih mengenakan seragam dan kebanyakan dari mereka hanya berputar-putar serta melihat-lihat saja. Di  lantai 2 memang benar terdapat lebih banyak toko pakaian dan toko lainnya, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah toko olahraga dan berhenti berjalan diana juga sepertinya ikut berhenti dan berbicara “mau melihat-lihat di toko itu?” sedikit kaget aku mendengar diana yang berbicara barusan tetapi segera aku balas pertanyaanya “ayo” kami kemudia berjalan menuju toko tersebut. Di dalamnya terdapat berbagai macam sepatu olahraga dan peralatan lainnya, mataku kembali tertuju pada sebuah sepatu dengan label “NEW ITEM” tanpa pikir panjang aku menghampirinya dan melihatnya “sepatu yang bagus ivan” ucap diana “memang tetapi harganya terlalu mahal” jawabku sambil memperlihatkan label harga yang berada di bawah sepatu tersebut “1 juta? Mahal sekali hanya untuk sebuah sepatu” jawab diana sedikit kaget “memang sih tetapi harganya sesuai dengan kualitasnya, sayang sekali kuantitas di dalam dompetku tidak mencukupi” kataku dengan lemas sambil mengembalikan sepatu itu pada tempatnya

Setelah keluar dari toko olahraga itu terasa perutuku memberontak minta di isi “diana kita makan siang yuk” ajakku “boleh kita makan di foodcenter aja bagaimana?” tanya diana kembali kepadaku “hmm jangan deh kita makan ayam goreng saja di restorant cepat saji, tadi aku melihatnya sebelum menaiki eskalator” jawabku , diana nampak setuju dengan ideku dan kami kembali turun dari lantai ini ke lantai bawah untuk membeli makan siang. Sesampainya di depan restorant itu terlihat banyak orang sedang makan siang tetapi aku tetap masuk ke dalam di ikuti diana, setelah memesan makanan yang di inginkan kami mencari meja dan menemukan 1 yang kosong dengan cepat kami duduk sebelum di dahului orang lain “wah hampir saja” kataku lega, diana yang mendengar perkataanku hanya tertawa

Aku menaruh tasku di bawah meja dan memulai makan pesananku tadi, ketika sedang enak-enaknya makan tiba-tiba terdengar seseorang memanggil nama diana “hei diana” suara perempuan itu sepertinya aku pernah mendengarnya, tanpa menunggu lama rasa penasaranku terjawab sudah ketika 3 orang murid perempuan yang berdiri di sebelah meja kami, ternyata mereka adalah teman 1 kelas denganku dan diana juga “eh diana kesini dengan siapa?” tanya salah seorang perempuan itu ‘apa mata kalian buta? Sampai tidak melihat ada seseorang yang berada di depan diana’ umpatku dalam hati

“ini sama ivan” jawab diana sambil tersenyum “wow ternyata ivan ya” kata perempuan yang lainya sedikit kaget “ya” jawabku singkat sambil meminum minuman soda yang berada di depanku, seperti mengetahui respondku yang dingin dan tidak perduli dengan mereka, akhirnya mereka permisi terlebih dahulu dan menghilang dari hadapan kami “dasar kelompok gosip” diana berkata dengan nada kesal “ha kenapa diana?” tanyaku pura-pura tidak mendengar apa yang barusan dia ucapkan “tidak apa-apa” jawabnya sambil melanjutkan makannya kembali, setelah acara makan siang selesai kami berdua keluar dari restorant tersebut, berbagai macam toko pakaian kami masuki hari ini sampai tiba diana membeli pakaian yang kesekian kalinya dan tentu saja tanganku yang kanan dan kiri sudah penuh dengan tas belanjaanya

"bagaimana ivan baju ini?" dia keluar dari ruangan ganti pakaian dan memperlihatkan sebuah gaun berwarna putih  dengan hiasan yang simple, sejujurnya melihat diana dengan pakaian itu aku juga terpukau "cantik" jawabku singkat sambil terpukau melihatnya "bagus kalau begitu aku beli ini" katanya sambil kembali memasuki ruang ganti pakaian, aku melihat jam di smartphoneku saat diana membayar pakaian yang harganya sedikit mahal itu "sudah jam 16:00" kataku pelan mungkin dia mendengar suaraku sehingga dia melihatku sambil tersenyum yang semakin meperlihatkan wajahnya yang cantik

"kalau begitu kita jalan-jalan ke taman saja aku tahu sebuah taman yang bagus di sekitar sini" jawabnya sambil menyerahkan tas berisi beberapa pakaian di tanganya 'mungkin lebih tepat aku hari ini seperti assistennya saja ya' kataku dalam pikiranku. Kami berjalan melewati beberapa gedung yang belum pernah aku lihat dan kami akhirnya sampai di taman yang biasanya aku datangi, "ini kan..." kataku pelan sambil diana terus berjalan masuk

Kami berjalan melewati jalan yang di taman yang dihiasi pepohonan di kiri dan kananya dan nampak danau yang biasanya aku lihat, dia berjalan ke arah tempatku biasanya duduk setelah sampai di kursi tempatku biasanya duduk dia berhenti dan duduk di sana. aku melihatnya dari kejauhan dan menghampirinya duduk dan menaruh belanjaanya "kamu sering berada di sini?" tanyaku kepadanya dengan ragu-ragu "ya ketika sore menjelang malam kadang aku berada di tempat ini hanya saja baru kali ini aku datang jam seperti ini ke sini"

Yang ada di pikiranku saat ini hanya 'semoga dia tidak datang hari ini, semoga aja' aku meyakinkan diriku yang penuh keraguan duduk di taman ini saat ini, pembicaraanku dan diana berjalan lancar saja kemana saja di bumbuhi sedikit tawa darinya membuatnya terlihat cantik, aku melihat jam di smartphone yang menunjukkan pukul 17:00 membuatku sedikit lega 'sepertinya hari ini dia tidak ke sini untunglah' kataku dalam pikiranku hingga ketika kami ingin berjalan pulang dari tempat kami duduk berpapasan dengan seorang perempuan yang aku kenal

Aku diana dan dia yang biasanya bertemu aku di sini saling berpapasan suasana terasa sedikit canggung menderaku dan juga nampak di wajah dia ketika melihatku berjalan di taman ini dengan seorang perempuan yang mengenakan seragam sekolah yang sama, ketika kami berjalan melewatinya aku dan dia saling melihat tanpa berkata apa-apa seakan hanya dengan saling menatap mata dengan mata semua kata yang ingin aku dan dia sampaikan telah tersampaikan, ya sampai saat ini aku dan dia saling tidak mengenal nama masing-masing padahal kami saling bertemu tiap hari di taman ini selama beberapa minggu dari bulan kemarin hingga saat ini

Aku dan diana memilih jalur yang berbeda untuk menaiki bus dan menunggu di halte taman ini ketika matahari sore sudah tenggelam di arah barat di gantikan gelapnya awan dan cahaya dari lampu penerangan jalan "terima kasih buat hari ya ivan" katanya sambil tersenyum kepadaku "ya sama-sama terima kasih juga untuk hari ini, oh iya ini belanjaanmu" aku membalas  kata-katanya sambil menyerahkan beberapa tas berisi pakaian dan benda lainya kepada diana "apa tidak masalah pulang sendirian?" tanyaku mendadak membuat ekspresi dia sedikit kaget lalu tersenyum kembali "tidak masalah kok" jawabnya

Bus yang diana tunggu akhirnya datang di halte ini "kalau begitu aku pulang dulu ya ivan" katanya sambil melambaikan tanganya dan berjalan masuk ke dalam bus, dia duduk di pinggir jendela dan melihatku dari dalam bus sambil ternsenyum dan kembali melambaikan tangganya hingga bus menutup pintunya dan kembali berjalan menjauh dari halte ini, ketika bus itu sudah tidak nampak aku melihat ke belakang ke arah taman 'apa dia masih di sana' aku bertanya pada diriku sendiri dan mencoba melangkahkan kakiku dengan berat menuju tempat duduk yang biasanya aku datangi di taman ini

Aku melangkah dengan cepat menuju kursi yang biasanya kami temui yang hanya di pikiranku saat ini 'hanya berharap dia tidak berpikiran yang aneh tentang apa yang terjadi barusan tetapi kenapa aku menghawatirkan akan hal seperti itu? memang aku siapa', suasana taman malam hari sangat berbeda dengan saat siang hari. Ketika malam datang taman di terangi lampu lampu di sekitar taman berwarna putih membuat suasana taman menjadi romantis di tambah danau yang di terangi lampu sorot membuatnya terlihat berkilauan bagaikan berlian

Dari kejauhan nampak seorang perempuan sedang duduk di tempat aku biasanya berada di taman ini, wajahnya nampak bercahaya terkena pantulan dari danau melihat itu aku tidak dapat menggambarkan apa yang ada di pikiranku saat ini bahkan terasa jantungku seperti berdetak dengan cepat dan tubuhku seperti tersengat aliran listrik membuatku sedikit bergetar. Beberapa menit aku terdiam melihat pemandangan itu dan aku kembali berjalan ke arah tempat dia duduk setelah berjalan sesaat aku berdiri di sampingnya melihat itu dia menggerakkan wajahnya melihatku berdiri nampak sebuah senyum tipis menghiasinya

"maaf soal tadi, kejadian itu tidak seperti yang kamu pikirkan" aku berkata tanpa dapat berpikir apapun saat ini, dia melihatku lalu menyuruhku duduk di sampingnya "duduklah dulu", mendengar itu aku kemudian duduk di sampingnya dan tidak berani menatapnya melainkan hanya menatap danau yang berada di depan kami. Suasana malam di taman ini membuatku semakin canggung terdengar dia mengeluarkan suara "memang apa yang ada di pikiranku tadi?"dia bertanya kepadaku

Aku juga bingung dengan pertanyaan itu berbagai macam jawaban melintas di benakku dan membuatku semakin bingung "mungkin kamu mengira kami sedang berpacaran di danau ini kan?" tanyaku kembali kepadanya, mendengar itu dia melihat ke arahku sambil berkata "memang kenapa kalau kamu berpacaran denganya" mendengar jawabanya membuat aku ingin menjawabnya tetapi jawaban seperti apa akupun tidak mengetahuinya, "kalau begitu aku permisi dulu" dia berkata dengan suara yang terdengar lemah dan berjalan menjauhi tempat duduk ini semakin jauh dan semakin jauh sampai dia tidak terlihat lagi

Di dalam bus bahkan di dalam kamarku aku memejamkan mataku sambil mengingat kembali jawabanya tadi di taman "memang kenapa kalau kamu berpacaran denganya" kata-kata itu terus terngiang di telingaku bahkan sampai aku terlelap dalam tidur pertanyaan itu masih saja menghampiri di alam mimpi aku ingin sekali mengatakan sesuatu tetapi apa itu aku pun masih belum mengetahuinya

Senin pagi aku bangun sambil berkata pada diriku sendiri "aku harus meminta maaf apapun yang terjadi dan apapun alasanya bahkan jika itu karena hal yang tidak nyata", selama di kelas aku lebih memilih diam bahkan ketika diana menyapaku sebelum jam pelajaran atau saat istirahat aku lebih memilih diam atau sekedar berkata "ya" atau "tidak", yang ada di pikiranku saat ini hanya kapan jam pelajaran berakhir sehingga aku dapat datang lagi ke taman itu untuk bertemu dengannya

Udara hari ini masih terasa panas seperti biasanya aku masih memainkan pulpen di tangan sambil duduk di bangkuku hanya untuk menunggu bel berbunyi, terlihat andra sedang bersama teman-teman berbincang banyak hal dan tertawa bersama sedangkan diana juga tidak terlalu berbeda sedang berbincang dengan beberapa teman perempuannya, bel tanda pulang sekolah akhirnya terdengar berbunyi murid-murid berbondong-bondong berjalan keluar kelas masing-masing menuju ke berbagai tempat di sekolah ini, nampak beberapa murid laki-laki dan perempuan berjalan ke ruang olahraga atau ke ruang lab atau ke ruangan ektrakulikuler lain di sekolah ini sedangkan aku. Aku berjalan dengan 1 tujuan yaitu menuju taman yang biasanya aku kunjungi hanya untuk meminta maaf kepadanya

Di tengah jalan ketika aku akan menuju gerbang sekolah diana menghadangku "hari ini kamu sibuk tidak sepulang sekolah?" aku diam sambil berfikir sebentar kemudian menjawabnya "iya aku sedang ada urusan hari ini", mendengar perkataanku diana terlihat sedikit sedih dengan menundukkan kepalanya sedikit kemudian mengangkatnya kembali sambil tersenyum "ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu ya ivan" katanya sambil melambaikan tangan padaku dan berjalan menjauh dari tempatku berdiri sekarang

Terselip sedikit perasaan iba melihat respondnya mendengar kata-kataku tetapi aku sedang ada urusan yang lebih penting hari ini, aku melanjutkan langkahku menuju gerbang dan menunggu bus di halte depan sekolah untuk menuju ke arah taman. Berbagai macam perasaan terasa di hatiku saat ini entah itu takut cemas atau berbagai macam hal lainnya, bus yang aku tunggu akhirnya datang di dalamnya terlihat tidak terlalu ramai oleh penumpang sehingga aku masih bisa duduk di salah satu kursinya

Siang itu jalanan sedikit macet sehingga waktu perjalanan yang di tempuh untuk menuju halte di kawasan perkantoran yang biasanya sedikit lebih lama dari biasanya, aku turun di halte biasanya dan berjalan melewati gedung-gedung perkantoran menuju taman. Aku berdiri terdiam untuk sesaat di gerbang masuk menuju taman dengan perasaan yang masih tidak menentu mungkin lebih tepatnya perasaan bersalah tetapi bersalah kenapa? padahal dia juga tidak memusingkan ketika aku dan diana berada di taman ini lalu kenapa aku merasa gelisah mendenger jawabannya kemarin malam, akupun juga tidak tahu mengapa

Berjalan melewati barisan pepohonan di sisi kiri dan kanan tujuanku hanya ke tempat yang biasanya aku kunjungi di taman ini, di kejauhan nampak seorang perempuan sedang duduk di tempat itu melihat hal itu aku mempercepat langkahku, semakin cepat dan semakin cepat langkahku menuju tempat itu beberapa menit berjalan aku akhirnya sampai di dekat tempat itu. Nampak seorang perempuan yang aku kenal sedang duduk terdiam melihat ke arah danau seakan-akan tidak memperdulikan apa yang ada di sekitarnya dengan tatapan sedih

Aku mendekat dengan sedikit ragu ke tempat dia duduk, ketika aku berdiri di samping dia duduk aku sedikit membuka mulutku untuk mengatakan kata maaf sekali lagi yang aku sendiri tidak tahu kenapa aku meminta maaf "aku ingin meminta maaf lagi soal . . . " sebelum aku menyelesaikan perkataanku yang lemah ini dia mengatakan suatu hal "kamu tidak perlu meminta maaf soal kemarin sebaliknya aku lah yang seharusnya meminta maaf" katanya pelan "kenapa?" tanyaku penasaran

"kemarin aku bersifat seperti anak kecil mengatakan hal sekejam itu kepadamu karena aku sedang mengalami masalah yang bersifat pribadi akhir-akhir ini" lanjutnya lagi, mendengar perkataanya aku masih diam berdiri seperti tadi dan mulai bertanya lagi kepadanya "masalah pribadi ya". Mungkin karena mendengar kata-kataku dia melihat ke arahku sambil tersenyum dan berkata "jadi kamu mau kan memaafkanku . . .", "ah iya kita belum saling mengenal nama satu sama lainya meski kita sudah lumayan lama bersama-sama di sini" mendengar perkataanya aku jadi teringat memang benar kami belum saling mengenal nama masing-masing tetapi seharusnya bertemu dia setiap hari di sini sudah lebih dari cukup untukku

"aku akan memperkenalkan namaku dengan bahasa indonesia saja ya, namaku adalah attakai hikari senang berkenalan denganmu . . ." dia berbicara sambil mengulurkan tangan kananya kepadaku sehingga aku juga mengulurkan tangan kananku dan menjabat tanganya sambil berbicara "ivan chandra senang berkenalan denganmu juga attakai", waktu terasa seperti terhenti di sekitarku udara panas di siang hari seakan lenyap seketika di gantikan angin sepoi-sepoi yang terasa sejuk menerpa tubuhku ketika memegang tangannya yang halus

Sedikit lama aku memegang tanganya sampai dia berbicara dan menyadarkanku "ivan kun kamu tidak perlu memegang tanganku seperti itu begitu lama . . ." aku langsung melepas tanganku sambil berkata "maaf" sambil menunduk malu. "sudahlah tidak masalah kok oia kamu tidak perlu memanggilku dengan nama keluargaku kamu bisa memanggil nama depanku saja" katanya pelan dan halus yang terdengar di telingaku bahkan sampai terasa di jantungku

"nama depan? memang attakai itu bukan nama depan ya?" tanyaku sedikit bingung, dia menyilakan aku duduk di sampingnya dan di jelaskannya bahwa nama depannya adalah hikari sedangkan nama keluarganya adalah attakai, dia juga menjelaskan arti dari namanya hikari adalah cahaya dan attakai adalah hangat jadi arti namanya adalah cahaya yang hangat jika di artikan dalam bahasa indonesia. Mendengar dia berbicara dengan sedikit semangat tentang menjelaskan arti namanya yang berasal dari bahasa jepang ke dalam bahasa indonesia membuatku melupakan semua perasaan yang tadi terasa ketika sebelum bertemu dengannya. "jadi aku harus memanggilmu dengan hikari san?" kataku sedikit ragu, sedangkan dia hanya mengangguk dengan tersenyum

"kamu tidak mengerjakan novelmu hari ini" dia bertanya kepadaku, aku hanya menggelengkan kepala dan berkata "tidak tujuanku hari ini sebenarnya datang ke sini untuk meminta maaf kepadamu saja" mendengar perkataanku dia langsung meminta maaf kepadaku "maaf ya aku tidak bermaksud seperti itu kemarin hanya saja . . ." dia menghentikan kata-katanya dan melanjutkan lagi setelah terdiam beberapa saat "well bagaimana jika aku mentraktirmu sesuatu untuk membalas rasa bersalahku ini" katanya membuatku sedikit kaget "tidak tidak perlu seperti itu bertemu di sini saja seperti ini sudah merupakan hal yang membahagiakan buatku" kataku pelan membuat ekpresi di wajah hikari berubah sedikit kaget dan memerah wajahnya

"ah bukan seperti itu maksudku . . ." kataku pelan sambil menunduk, dia terdengar tertawa sedikit lalu berdiri dari duduknya dan berjalan serta memanggilku "ivan kun jika kamu terus berada di situ aku tidak akan mentraktirmu lho" mendengar perkataanya aku langsung bangkit dan lari mengejarnya yang sudah berjalan sedikit jauh. Selama berada di bus hampir semua orang memandangi kami berdua mungkin mereka semua sedikit heran melihat perempuan yang berkulit putih dan memiliki wajah imut serta cantik duduk bersama seorang laki-laki biasa sepertiku

Hikari membisikkan sebuah kata-kata kepadaku "kowai" aku yang mendengarnya sedikit bingung apa artinya tetapi aku mengingat sekilas artinya dari anime yang biasanya aku tonton yang artinya adalah menakutkan, aku lalu berkata kepadanya dengan pelan "mungkin mereka jarang melihat perempuan kawai sepertimu berada di bus seperti ini dan duduk bersama bocah sepertiku" mendengar perkataanku dia tertawa tertahan dengan tangan menutup mulutnya kemudian berkata "ivan kun kamu itu ada-ada saja"

Meski dia bukan orang negara ini tetapi sepertinya dia sering berjalan-jalan sehingga lebih mengetahui beberapa tempat yang bahkan aku sendiri yang sudah tinggal di kota ini sejak lahir tidak mengetahuinya hingga saat ini, kami berjalan berdua dan masih tetap ketika orang-orang melihat kami bersama seakan-akan melihat pemandangan yang aneh namun aku tetap merasa wajar jika melihat kami seperti itu. Aku dan hikari menuju salah satu tempat penjual es kelapa muda yang berada sedikit tersembunyi dan tempatnya yang agak jauh dari taman tempat kami biasa bertemu

"aku dengan gula merah ya pak, kalau kamu ivan kun mau yang pakai gula putih apa gula merah?" hikari menanyaiku yang masih melihat tempat jualan ini yang berada di teras sebuah rumah yang memiliki pohon besar di depanya "aku sama dengan hikari san saja" jawabku sekenannya, setelah memesan pesanan kami duduk di salah satu meja dan hikari san mulai kembali bercerita kesana kemari tentang negaranya dan tentu saja tentang selama dia tinggal di sini, perubahan emosinya begitu cepat sampai aku sendiri tidak memahaminya tetapi yang jelas dia sekarang nampak begitu ceria dari pada tadi di taman saat kita baru bertemu setelah kejadian 2 hari yang lalu

Karena udara hari itu begitu panas kami berdua meminum es kepala muda ini dengan semangat di tambah lagi aku baru pertama kali meminum es ini di tambah meminumnya hanya berdua dengan seorang perempuan, segelas es kelapa muda habis dengan cepat setelah meminumnya hikari san bertanya kepadaku "oia ivan kun . . .", "ya hikari san ada apa?" tanyaku sambil melihat ke arah hikari san "itu boleh tidak kita saling bertukar nomer telepon" katanya halus membuatku sedikit kaget juga mendengar perkataanya 'ha bertukar nomer? ini bukan mimpi bukan? kalau ini mimpi tolong siapapun jangan membangunkanku' aku berkata kepada diriku sendiri sambil tangan kiriku menjewer kakiku "aaww" kataku sedikit menjerit membuat hikari san kaget "kenapa ivan kun?" tanya hikari san kepadaku

"tidak ada apa-apa hanya barusan ada semut menggigit kakiku" jawabku asal membuat hikari san menjadi tenang 'ternyata bukan mimpi' kataku menenangkan diriku sendiri, "ah tentu saja boleh hikari san ini nomerku . . . ", "baiklah sudah aku simpan aku coba telpon ya jangan di angkat lho" katanya, nada ringtone di smartphoneku terdengar dan terlihat sebuah nomer yang belum ada di daftar contact ku "simpan ya itu nomerku" katanya sambil tersenyum "tentu saja hikari san" aku menjawabnya dengan semangat juga sambil menyimpan nomernya di dalam contactku, mungkin ini kejadian pertama dalam hidupku dan merupaka sejarah tersendiri untukku

"baiklah ivan kun kita berpisah di sini ya sudah sore nanti kamu di cari orang tuamu kalau pulang dari sekolah tanpa kabar seperti ini" ucap hikari san, "apa tidak masalah kamu pulang sendiri apa perlu aku temani?" tanyaku kepada hikari san "tidak tidak perlu kok aku sudah terbiasa juga keluar sendirian" katanya dengan sedikit lemas, saat itu kami sedang menunggu bus di halte yang agak jauh dari tempat kami membeli es kelapa muda tadi, bus yang seharusnya aku naiki berhenti tetapi aku tidak menaikinya dan membiarkannya berjalan kembali, melihat itu hikari san bertanya kepadaku "kenapa? bukanya itu tadi bus yang menuju ke rumahmu ivan kun?", "tidak apa-apa mana mungkin seorang laki-laki membiarkan seorang perempuan pulang sendirian ke rumahnya apa lagi aku sudah di traktir minum es barusan" jawabku, melihat aku mengatakan itu hikari san sedikit tertawa kemudian tersenyum dan berkata "terima kasih", aku sendiri juga bingung berasal dari mana kata-kata seperti itu keluar dari mulutku seperti bukan diriku biasanya saja mengucapkan hal seperti itu

Bus yang menuju tempat tinggal hikari san sudah tiba kami menaikinya dan duduk di salah satu barisan bangku di belakang, selama perjalanan menuju tempat tinggalnya aku lebih banyak diam karena bingung ingin memulai bicara apa lagi dengan topik apa lagi. "anu hikari san kamu tinggal dimana memang?" hikari san melihatku ketika mendengar pertanyaanku "hmm aku sih menyewa sebuah rumah bersama beberapa teman perempuanku yang berasal dari jepang juga" katanya dengan sedikit berfikir ntah apa yang sedang di pikirkanya saat ini, "ow begitu ya" jawabku singkat "kalau ivan kun tinggal dengan siapa?" hikari san berbalik bertanya kepadaku, "hmm aku tinggal dengan kedua orang tua ku dan kakak perempuanku hanya saja orang tuaku sedang tidak di rumah karena faktor kerjaan mereka jadi bisa di bilang mereka sekarang berada di luar negeri untuk saat ini sedangkan kakakku karena kuliah di luar kota dia kost juga di kota tempat dia kuliah, jadi tinggal aku sendirian tinggal di rumah" jawabku dengan santai, ya memang aku tinggal sendirian di rumah karena orang tuaku sekarang sedang dinas di luar negeri sedangkan kakaku berada di luar kota untuk kuliah di salah satu universitas favorite

Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya bus berhenti di halte dimana kami akan turun, setelah kami turun bus kembali berjalan hikari san berjalan menjauh dari halte sedangkan aku mengikutinya di sebelahnya "apa masih jauh hikari san?" tanyaku penasaran, "hmm tidak kok mungkin melewati beberapa blok kita akan sampai" jawabnya dengan wajah masih tersenyum, memang benar ketika kami melewati beberapa blok rumah akhirnya kami tiba di rumah tempat tinggal hikari san dari luar rumah itu di bilang biasa saja hanya rumah 2 lantai di tambah sebuah taman yang terlihat sedikit besar, aku masih terus melihat rumah itu ketika hikari san memanggilku "ivan kun apakah kamu mau mampir?", aku masih bingung ingin menjawab apa ketika mulutku akan mengatakan sesuatu tiba-tiba pintu rumah terbuka dan terlihat beberapa perempuan yang wajahnya hampir mirip hikari san berada di depan pintu sambil berkata "hikari chan siapa anak itu?", aku yang mendengar hanya bisa kembali diam tanpa bereaksi apapun karena baru pertama kali ini aku mengantar seorang perempuan sampai di depan rumahnya bahkan sampai di ketahui teman-temanya membuatku malu hingga tidak dapat memikirkan apapun

"ah dia temanku kok" jawab hikari san kepada teman-temanya, "ya sudah ajak mampir saja tidak enakkan jauh-jauh mengantarmu hanya sampai di depan pagar saja" kata mereka sambil terus mengamatiku dari depan pintu aku yang menyadari itu semakin malu saja di buatnya "ah benar juga ya ayo ivan kun mampir ke dalam" ajak hikari san tetapi aku langsung menjawabnya "ah tidak usah repot-repot sampai sini saja aku sudah senang kok" kataku seperti orang bodoh 'waaaa aku salah bicara mati aku' kataku dalam hati. Hikari san dan teman-temanya yang mendengar kata-kataku langsung tertawa terdengar mereka berkata "kenapa kamu senang?ah jangan-jangan kamu menyukai hikari chan ya ivan kun?" mendengar itu aku semakin malu, sedangkan hikari san menyangga pertanyaan teman-temanya "mana mungkin kalian aneh-aneh saja" aku pun akhirnya mengeluarkan kembali kata-kataku "kalau begitu aku pualng dulu hikari san" "ah iya ivan kun apa tidak apa-apa?" tanyanya, "tidak masalah kalau begitu sampai berjumpa besuk hikari san" jawabku sambil tersenyum dengan paksa karena malu, sebelum hikari san menjawab teman-temanya kembali mengeluarkan kata-katanya "wah masih ada besuk lagi ternyata aku jadi penasaran" mendengar itu aku langsung berjalan pergi kembali ke arah halte dengan cepat, aku tidak melihat bagaimana ekspresi hikari san saat itu

Sebuah pesan masuk ke dalam smartphoneku membuatnya bergetar dan mengeluarkan nada pemberitahuan, aku mengambil smartphone dari saku celana dan membuka pesanya yang ternyata dari hikari san "maaf ya ivan kun teman-temanku memang begitu jadi tolong di maklumi" melihat pesan itu di dalam bus menuju rumahku aku hanya diam sambil tersenyum sendiri mungkin orang lain akan menganggapku orang gila ketika tersenyum sendiri sambil melihat smartphoneku, akhirnya aku membalas "tidak apa-apa kok hikari san meski hanya mengantarmu sampai depan rumah saja sudah membuatku bahagia" ketika pesan telah terkirim aku akhirnya sedikit tersadar sambil berbicara "aduh mati aku hikari san pasti berfikir yang aneh-aneh dengan pesanku seperti itu", aku mengecek pesan itu dan ingin membatalkanya tetapi pesan sudah terkirim dan mendapat balasanya "kamu ini lucu sekali ivan kun sampai bertemu besuk di taman ya" melihat pesan balasan itu hatiku seakan-akan mencair 'masih ada hari esok ya, aku sudah tidak sabar menantinya'

Sepertinya saat ini aku mulai sedikit paham indahnya dunia ini karena bertemu hikari san, aku bahkan tidak pernah bermimpi akan bertemu seorang malaikat seperti dia di taman itu. Hari demi hari kami semakin lebih akrab, hikari san sering mengirimi aku pesan ketika dia di rumah atau ketika dia sedang menungguku yang datang terlambat ke taman bulan mei yang masih berada di musim kemarau pun terlewati dengan sebuah cahaya hangat yang menyinari hatiku yang gelap dan dingin ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar